Monday, January 21, 2019

Kisah Nabi dan Sahabat Saat Arak Bertukar Jadi Madu Pada Zaman Khalifah Umar bin Khaththab RA

0 Comments

Saat Arak Bertukar Jadi Madu Pada Zaman Khalifah Umar bin Khaththab RA

Saat Umar bin Khaththab RA tengah berjalan-jalan di Madinah al-Munawwarah, tiba-tiba berpapasan dengan seorang pemuda tanggung yang gerak-geriknya mencurigakan.

Menyadari pria yang ada di hadapannya Umar bin Khaththab RA, pemuda tanggung tersebut tampak benar-benar kaget. Dia tak dapat menyembunyikan rasa takutnya.

Secepat kilat dia berupaya menyembunyikan kendi yang dibawanya ke dalam jubah tebalnya. Namun, ternyata Umar bin Khaththab RA melihat gelagat itu dengan mata kepalanya.

Muncullah kecurigaan Umar bin Khaththab RA, “Hey! Apa sebenarnya yang kau bawa itu?”, katanya. Karena takut dimarahi oleh Umar bin Khaththab RA yang terkenal sangat tegas itu, pemuda tanggung itu pun menjawab sekenanya, “Yang saya bawa ini madu, Tuan”.

Padahal, sebenarnya kendi itu berisi khamr (arak) sisa minumnya beberapa waktu sebelumnya. Hanya saja dia telah membulatkan tekadnya untuk berhenti mengonsumsi arak. Dia benar-benar kapok dan ingin segera meninggalkan tindakan bodohnya itu!

Dia memastikan bahwa dia hendak bertobat. Dalam hatinya, dia memohon kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh agar Umar bin Khaththab RA tidak sampai memeriksa isi kendi yang dibawanya.

Awalnya seolah-olah doa pemuda tanggung tersebut diabaikan oleh Allah SWT karena Umar bin Khaththab RA tetap ingin membuktikannya sendiri. “Boleh saya lihat?”, kata Umar bin Khaththab RA sambil mendekat.

Sebelum mengabulkan permintaan Umar bin Khaththab RA, pemuda tanggung tersebut benar-benar menyerahkan diri kepada Allah SWT bahwa dia tidak akan main-main lagi dengan arak. “Ya Rabb! Ampunilah hamba-Mu ini”, katanya. Dia memohon ampun kepada yang Maha Pengampun dan yang Maha Menerima Tobat.

Di benaknya terbayang beberapa siksaan/adzab yang akan ditimpakan kepada mereka yang mengonsumsi arak.

“Si … Silakan, Tuan”, kata pemuda tanggung itu dengan berat hati. Umar bin Khaththab RA menerima kendi itu dengan kedua tangannya. Perlahan-lahan, dibukanya tutupnya. Lalu, dibauinya berkali-kali. Kemudian, dilihatnya dengan seksama.

Ternyata, kendi itu benar-benar berisi madu! “Engkau benar!”, kata Umar bin Khaththab RA. Subhaanallaah. Allah lah yang telah menukar arak dengan madu lantaran pemuda tanggung itu telah bertobat 

Kisah Nabi dan Sahabat Pewahyuan Surat Dahr

0 Comments

Pewahyuan Surat Dahr

Suatu ketika Imam Hasan al-Mujtaba As dan Imam Husain asy-Syahid As jatuh sakit.

Ketika Nabi Saw mengetahui tentang sakitnya mereka, beliau menganjurkan bahwa putrinya Sayidah Fatimah As dan menantunya Imam Ali As harus bernadzar.

Nazr merupakan sebuah janji yang kalian ikrarkan kepada Allah. Sesuatu yang kalian lakukan sebagai tambahan untuk mencari keridaan Allah jika keinginan kalian terkabulkan.

Imam ‘Ali dan Sayidah Fatimah As melakukan nazar. Mereka melakukan puasa selama tiga hari untuk kesembuhan putra mereka. Bahkan pembantu mereka Fizza, yang sangat mencintai anak-anak itu turur bergabung melakukan nazar.

Allah mengabulkan nazar mereka dan Imam Hasan dan Imam Husain sembuh dari sakitnya.

Orang tua mereka memutuskan untuk berpuasa pada hari berikutnya untuk memenuhi janji mereka dan ketika anak-anak mengetahui perkara ini, mereka juga memutuskan untuk berpuasa.

Pada malam harinya ketika tiba waktu salat, mereka salat bersama lalu duduk untuk berbuka puasa. Ketika mereka baru saja akan duduk untuk menyantap hidangan buka puasa mereka berupa roti, terdengar seseorang mengetuk pintu. Di depan pintu seorang miskin berdiri meminta untuk diberi makan.

Mereka semuanya, satu per satu, memberikan roti mereka kepada si pengemis. Mereka hanya meminum air untuk berbuka puasa.

Pada hari berikutnya, mereka kembali berpuasa. Kembali mereka hendak berbuka puasa dengan sepotong roti yang mereka bakar pada pagi harinya.

Kembali pula ketika mereka hendak menyantap roti itu sebagai hidangan buka puasa. Kali ini seorang anak yatim datang meminta makanan kepada mereka.

Meskipun mereka sendiri selama dua hari lapar, mereka, satu per satu memberikan potongan rotinya kepada si anak yatim dan kembali mereka beranjak tidur tanpa makanan.

Pada hari ketiga puasa mereka, ketika mereka ingin duduk untuk berbuka puasa, seorang ibn sabil datang mengetuk pintu untuk meminta makanan.

Meskipun hingga kini keluarga suci tersebut dalam keadaan lapar tanpa menyentuh makanan selama tiga hari, mereka kembali memberikan potongan roti mereka. Pada hari berikutnya, Rasulullah Saw datang menengok mereka dengan membawa kabar gembira bahwa Allah telah menurunkan sebuah surah yang disebut surah ad-Dar untuk memuji pengorbanan yang dilakukan oleh keluarga suci ini. 

Umar bin Khattab dan Hakim Syuraih Mengenal Mariyah Al-Qibtiyah, Ummul Mukminin yang Melahirkan Satu-Satunya Putra Rasulullah - Part 3

0 Comments

Mengenal Mariyah Al-Qibtiyah, Ummul Mukminin yang Melahirkan Satu-Satunya Putra Rasulullah - Part 3

Suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab sedang membutuhkan kuda untuk ditunggangi. Dia kemudian pergi ke pasar dan menemui seorang Badui yang menjual kuda.

Khalifah Umar kemudian melihat kuda yang ditawarkan oleh si Badui. Merasa tertarik dengan kuda itu, Khalifah Umar lalu membelinya dan membawa kuda itu pulang ke rumah.

Dia kemudian menunggangi kuda itu dalam perjalanan menuju rumah. Tetapi, saat memacu kudanya, Khalifah Umar menemukan adanya luka pada kuda itu yang membuatnya terganggu.

Khalifah Umar kemudian segera kembali ke pasar dan menemui si Badui penjual kuda. ”Ambillah kudamu, dia terluka,” kata Umar kepada si Badui.

”Wahai Amirul Mukminin, saya tidak akan mengambil kuda itu karena saya sudah menjualnya kepada engkau dengan keadaan sehat dan tanpa cacat sedikitpun,” ucap si Badui menolak.

Tidak ada titik temu antara Umar dengan si Badui. Kemudian, Umar menyuruh si Badui menunjuk seseorang untuk menyelesaikan masalah mereka.

Si Badui itu berkata, ”Yang akan mengadili perkara kita ini adalah Syuraih bin Al Harits Al Kindi.” Umar pun sepakat dengan nama itu. ”Baiklah, aku setuju,” kata Umar.

Keduanya lantas pergi menemui Syuraih. Syuraih kemudian mendengar keterangan yang disampaikan si Badui. Saat mendengarkan keterangan si Badui, dia menoleh kepada Umar.

Syuraih kemudian bertanya kepada, Umar ”Apakah engkau menerima kuda dalam keadaan tanpa cacat, wahai Amirul Mukminin?”

”Ya. Saya menerima kuda itu dalam keadaan tanpa cacat,” jawab Umar.

”Kalau begitu, simpanlah apa yang sudah engkau beli. Jika ingin mengembalikan, maka kembalikan seperti keadaan semula,” kata Syuraih.

Mendengar putusan Syuraih, Umar kemudian merasa puas dan kagum dengan sosok hakim ini. ”Beginilah seharusnya putusan itu, diucapkan dengan pasti dan ditetapkan dengan adil,” kata Umar.

Umar kemudian memerintahkan Syuraih untuk pergi ke Kufah. Dia telah secara resmi mengangkat Syuraih menjadi hakim.

Syuraih pun menjalani amanah sebagai hakim setelah diangkat oleh Umar. Jabatan sebagai hakim pun dia emban tidak hanya masa kekhalifahan Umar, namun juga masa kekhalifahan Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, hingga Dinasti Umayah. Dia baru meminta dibebaskan dari amanah sebagai hakim saat Kekhalifahan Al Hajjaj, karena usianya sudah mencapai 104 tahun 

Umar bin Khattab dan Hakim Syuraih Kisah Gubernur dan Tulang Busuk

0 Comments

Kisah Gubernur dan Tulang Busuk

Setelah tidak lagi bergabung dengan tentara Muslimin, Amr bin Ash dipercaya Khalifah Umar bin Khattab menjadi gubernur Mesir. Menjadi pemimpin umat Islam di sana, serta berdakwah mengajak kepada siapa saja untuk beriman kepada Allah SWT.

Amr bin Ash menempati istana megah, lengkap dengan berbagai kenikmatan dan jaminan keamanan pada setiap waktu. Namun kemegahan istananya itu bertolak belakang dengan gubuk kecil dan reyot yang berada tidak jauh dari depan istananya.

Dalam buku kisah keadilan para pemimpin Islam tulisan Nasiruddin dikatakan, Suatu ketika Amr berpikir untuk menggusur gubuk tersebut menggantinya dengan membangun sebuah masjid agung. Hal itu dimaksudkan supaya terjadi keseimbangan antara istana sebagai refleksi dari kehidupan dunia dan masjid sebagai upaya meraih kebahagiaan akhirat.

Kemudian Amr mengumpulkan seluruh pejabatnya untuk membahas kemungkinan pembangunan masjid impiannya. Dalam rapat tersebut, Amr mendapat informasi jika gubuk reyot di depan istananya adalah milik keluarga Yahudi miskin. Informasi tersebut justru semakin menguatkan keinginan Amr untuk segera meletakkan batu pertama pembangunan masjid.

Esok harinya, Amr memanggil orang Yahudi yang mendiami gubuk ke istana. Sesampainya di Istana, Amr kemudian mengutarakan maksudnya ingin membangun masjid di atas tanah tempat gubuk milik orang Yahudi tersebut. Sebagai imbalannya, Amr bersedia membeli tanah dengan harga yang telah disepakati.

Mendengar rencana itu, orang Yahudi tidak menyanggupi permintaan sang gubernur. Dengan lantang dia menolak untuk menyerahkan tanahnya walau dibayar berpuluh kali lipat. Sambil berjalan meninggalkan istana, orang Yahudi tetap pada pendiriannya tidak menyerahkan harta satu-satunya yang dimiliki.

Sebagai gubernur, Amr tidak mengindahkan keputusan orang Yahudi yang tetap pada pendiriannya. Segera Amr menetapkan surat keputusan untuk membongkar paksa gubuk keluarga Yahudi miskin tersebut. Amr beralasan pembongkaran dilakukan untuk mewujudkan sebuah kemaslahatan yang lebih besar kepada kaum Muslimin Mesir.

Orang Yahudi yang sedang tidur santai di gubuknya kaget begitu melihat dari kejauhan, sejumlah tentara kerajaan berjalan menuju ke arahnya. “Atas perintah gubernur, kami ingin membongkar paksa gubuk kamu untuk dijadikan masjid,” kata salah satu prajurit dengan nada tinggi.

Keluarga Yahudi menangis tanpa henti, tanpa daya dia menyaksikan tempat tinggal satu-satunya yang mereka miliki harus dibongkar. Orang Yahudi membayangkan saat-saat bahagia melihat senyum anggota keluarganya akan berakhir hanya dalam hitungan menit.

Di tengah perasaan sedihnya tersebut, tiba-tiba orang Yahudi teringat akan pemimpin tertinggi umat Islam, Khalifah Umar bin Khattab yang berada di Madinah. Tanpa pikir panjang, segera dia berjalan menuju Madinah untuk meminta keadilan atas keputusan Gubernur Amr.

Namun dalam perjalanan, orang Yahudi berkecil hati ketika membayangkan sosok Umar bin Khattab. Dia pesimis, dirinya yang lusuh dengan pakaian compang-camping akan disambut setibanya di Madinah, terlebih keluhannya didengarkan oleh seorang tokoh besar Muslimin. Dengan perasaan gundah, orang Yahudi tetap berjalan ke Madinah menjajal keberuntungan nasibnya.

Sesampainya di Madinah, semua yang dia takutkan tidak terjadi. Dengan ramah, Khalifah Umar menyambut orang Yahudi layaknya tamu kenegaraan. Suguhan aneka makanan dan minuman mejadi bentuk betapa hormatnya khalifah kepada tamu, meski dirinya menyadari bukan seorang muslim.

Sambil menyantap hidangan, orang Yahudi menceritakan permasalahannya kepada Khalifah Umar. Di akhir pembicaraan, Umar meminta orang Yahudi untuk mengambil sepotong tulang busuk yang berada di tempat sampah tidak jauh dari tempat dia duduk. Dengan keraguan, orang Yahudi menuruti permintaan Umar.

Di tulang busuk itu, Umar kemudian mencabut pedang dari selongsongnya dan menggoreskan garis lurus pada tulang busuk. “Bawalah tulang busuk ini baik-baik ke Mesir dan berikan kepada gubernurmu, Amr bin Ash,” kata Umar sambil menyodorkan tulang busuk tersebut kepada orang Yahudi. Dengan perasaan bingung, orang Yahudi hanya menuruti permintaan Umar kemudian kembali ke Mesir.

Setibanya di Mesir, segera dia menyerahkan tulang busuk itu ke Gubernur Amr. Tidak disangka, setelah memegang tulang busuk tersebut dan melihat goresan lurus, tubuh Amr menggigil dan wajahnya berubah menjadi pucat ketakutan. Segera Amr bin Ash memerintahkan anak buahnya untuk menghentikan dan merobohkan masjid yang masih dalam tahap pembangunan.

Begitu herannya orang Yahudi, sebelum masjid dirobohkan, segera dia bertanya kepada Amr untuk menjelaskan maksud dari tulang busuk tersebut.

“Tulang itu berisi ancaman khalifah, yakni Amr bin Ash ingatlah kamu, siapapun kamu dan setinggi apapun jabatanmu, suatu saat nanti kamu menjadi tulang yang busuk. Karena itu bertindak adillah kamu seperti huruf alif yang tegak lurus, adil di atas dan adil di bawah. Sebab jika tidak, ku tebas batang lehermu,” kata Amr bin Ash.

Segera orang Yahudi tersebut tertunduk haru, ia kagum akan sikap kepemimpinan Khalifah Umar dan keadilannya yang tidak pandang bulu. Dengan perasaan ikhlas, orang Yahudi tersebut menginfakkan tanahnya untuk dibangun masjid. Tidak lama kemudian, dia beriman dengan menyatakan diri memeluk Islam. 

Kisah Nabi dan Sahabat Rezeki Allah SWT

0 Comments

Rezeki Allah SWT

Nabi SAW mengundang para sahabat untuk menghadiri walimatul ursy yang diadakan beliau dengan seorang wanita yang menjadi istrinya. Para sahabat hadir dan begitu mereka menyaksikan tentang rupa makanan yang dijamukan oleh Rasulullah SAW, mereka tak tahan untuk tidak memperbincangkannya.

” Darimana Rasulullah SAW akan mampu memenuhi kebutuhan hidup dari para istri-istrinya ? coba lihat, jamuan walimahnya saja cuma seperti itu ?”

Rasulullah SAW diam saja. Beliau bukan tidak tahu apa yang diperbincangkan oleh para sahabat saat itu. Usai menunaikan sholat, Rasulullah SAW menceritakan suatu kisah kepada para sahabat yang hadir.

” Aku ingin menceritakan suatu kisah perihal rejeki kepada kalian. Kisah ini diceritakan oleh malaikat Jibril kepadaku. Bolehkah aku meneruskan kisah ini kepada kalian ?”

Rasulullah SAW kemudian memulai kisahnya.

” Suatu ketika Nabi sulaiman a.s melakukan sholat ditepi pantai. Usai sholat, beliau melihat ada seekor semut sedang berjalan di atas air sambil membawa daun hijau. Beliau yang mengerti bahasa binatang mendengar si semut memanggil-manggil si katak. Tak berapa lama kemudian, lalu seekor katak muncul. Ada apa gerangan dengan si katak itu sehingga si semut terus-menerus memanggilnya tadi ? Nabi Sulaiman menyaksikan bahwa begitu si katak muncul, katak itu langsung saja menggendong sang semut masuk ke dalam air menuju dasar laut.

Ada apa di dasar laut ? Semut itu menceritakan kepada Nabi Sulaiman a.s bahwa di sana ada berdiam seekor ulat. Sang ulat menggantungkan rejekinya kepada si semut.

” Sehari dua kali aku diantar oleh malaikat ke dasar laut untuk memberi makanan kepada ulat itu ”. Demikian si semut memberikan penjelasannya kepada Nabi Sulaiman a.s. ” Siapakah malaikat itu, hai semut ?” tanya Nabi Sulaiman kepada si semut dengan penuh selidik. ” Si katak sendiri. MAlaikat menjelmakan dirinya menjadi katak yang kemudian mengantarkan aku menuju dasar laut ”.

Setiap selesai menerima kiriman daun hijau dan melahapnya, si ulat tak lupa memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT, ” Maha Besar Allah yang men-takdir-kan aku hidup di dasar laut ”. Dalam mengakhiri ceritanya itu, Rasulullah SAW memberi pandangannya.

” Jika ulat saja yang hidupnya di dasar laut, Allah SWT masih tetap memberinya makanan, maka apakah Allah SWT tega menelantarkan umat Muhammad soal rejeki dan rakhmatnya ?” 

Kisah Nabi dan Sahabat Unta Yang Mematahkan Rencana Abu Jahal

0 Comments

Unta Yang Mematahkan Rencana Abu Jahal

Setelah berbagai usaha oleh kaum Quraisy untuk menyekat dan menghapuskan penyebaran agama Islam menemui kegagalan, maka Abu Jahal semakin benci terhadap Rasulullah S.A.W. Kebencian Abu Jahal ini tidak ada bandingnya, malah melebihi kebencian Abu Lahab terhadap Rasulullah S.A.W.

Melihatkan agama Islam semakin tersebar, Abu Jahal pun berkata kepada kaum Quraisy di dalam suatu perkumpulan, ”Hai kaumku! Janganlah sekali-kali membiarkan Muhammad menyebarkan ajaran barunya dengan sesuka hatinya. Ini adalah karena dia telah menghina agama nenek moyang kita, dia mencela Tuhan yang kita sembah. Demi Tuhan, aku berjanji kepada kamu sekalian, bahawa esok aku akan membawa batu ke Masjidil Haram untuk dihantamkan ke kepala Muhammad ketika dia sujud. Selepas itu, terserahlah kepada kamu semua, akan menyerahkan aku kepada keluarganya atau kamu membela aku dari ancaman kaum kerabatnya. Biarlah orang-orang Bani Hasyim bertindak apa yang mereka sukai.”

Tatkala mendengar jaminan daripada Abu Jahal, maka orang ramai yang menghadiri perkumpulan itu berkata secara serentak kepadanya, ”Demi Tuhan, kami tidak akan menyerahkan engkau kepada keluarga Muhammad. Teruskan niatmu.”

Orang ramai yang menghadiri perkumpulan itu merasa bangga mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Abu Jahal bahawa dia akan menghapuskan Muhammad karena jika Abu Jahal berjaya menghapuskan Nabi Muhammad S.A.W berarti akan terhapuslah segala keresahan dan kesusahan mereka selama ini yang disebabkan oleh kegiatan Rasulullah S.A.W menyebarkan agama Islam di kalangan mereka.

Orang yg hadir dalam perkumpulan sudah menyiapkan perbelanjaan untuk mengadakan pesta sekiranya Nabi Muhammad S.A.W berjaya dihapuskan. Pada pandangan mereka adalah mudah untuk membunuh Nabi Muhammad S.A.W yang dikasihi oleh Tuhan Yang Maha Esa serta sekalian penghuni langit. Padahal Allah tidak akan sekali-kali membiarkan kekasih-Nya diancam dan diperlakukan seperti binatang.

Dengan perasaan bangga, keesokan harinya di sebelah pagi, Abu Jahal pun terus pergi ke Kaabah yaitu tempat biasa Nabi Muhammad S.A.W bersembahyang. Dengan langkahnya seperti seorang satria, dia berjalan dengan membawa seketul batu besar di tangan sambil diiringi oleh beberapa orang Quraisy yang rapat dengannya. Tujuan dia mengajak kawan-kawannya ialah untuk menyaksikan bagaimana nanti dia akan menghantamkan batu itu di atas kepala Nabi Muhammad S.A.W.

Sepanjang perjalanan itu dia membayangkan bagaimana keadaan Nabi Muhammad nanti setelah kepalanya dihentak oleh batu itu. Dia tersenyum sendirian apabila membayangkan kepala Nabi Muhammad S.A.W pecah dan tidak bergerak lagi. Dan juga membayangkan bagaimana kaum Quraisy akan menyambutnya sebagai pahlawan yang telah berjaya membunuh musuh nomor satu mereka.

Abu Jahal tiba di perkarangan Masjidil Haram, dilihatnya Rasulullah S.A.W baru saja sampai dan hendak mengerjakan sembahyang. Dalam pada itu, Nabi Muhammad S.A.W tidak menyedari akan kehadiran Abu Jahal dan kawan-kawannya di situ. Baginda tidak pernah terfikir apa yang hendak dilakukan oleh Abu Jahal terhadap dirinya pada hari itu.

Abu Jahal melihat Rasulullah S.A.W telah mula bersembahyang, dia berjalan perlahan-lahan dari arah belakang menuju ke arah Nabi Muhammad S.A.W. Abu Jahal melangkah dengan berhati-hati, setiap pergerakannya dijaga, takut disedari oleh baginda.

Dari jauh kawan-kawan Abu Jahal memerhatikan dengan perasaan cemas bercampur gembira. Dalam hati mereka berkata, ”Kali ini akan musnahlah engkau hai Muhammad.”

Abu Jahal hendak menghampiri Nabi Muhammad S.A.W dan mengayunkan batu yang dipegangnya itu, tiba-tiba secepat kilat dia berundur ke belakang. Batu yang dipegangnya juga jatuh ke tanah. Mukanya yang tadi merah kini menjadi pucat seolah-olah tiada berdarah lagi. Rakan-rakannya yang semangat untuk melihat Nabi Muhammad S.A.W terbunuh, tercengang dan saling berpandangan.

Kaki Abu Jahal seolah-olah terpaku ke bumi. Dia tidak dapat melangkahkan kaki walaupun setapak. Melihat keadaan itu, rakan-rakannya segera menarik Abu Jahal dari situ sebelum disedari oleh baginda. Abu Jahal masih terpukau dengan kejadian yang dialaminya.

Dia sadar dari kejutan peristiwa tadi, rakan-rakannya tidak sabar untuk mengetahui apakah sebenarnya yang telah terjadi. Kawannya bertanya, ”Apakah sebenarnya yang terjadi kepada engkau, Abu Jahal? Mengapa engkau tidak menghantamkan batu itu ke kepala Muhammad ketika dia sedang sujud tadi?”

Akan tetapi Abu Jahal tetap membisu, rakan-rakannya semakin keheranan. Abu Jahal yang mereka kenali selama ini seorang yang lantang berpidato dan menyumpah Nabi S.A.W, tiba-tiba saja diam membisu.

Abu Jahal masih terbayang-bayang akan kejadian yang baru menimpanya tadi. Dia seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, malah dia sendiri tidak menyangka sama sekali yang menimpa dirinya.

Perkara yang sama pernah menimpa Abu Jahal sewaktu Rasulullah S.A.W pergi ke rumah Abu Jahal apabila seorang Nasrani mengadu kepada baginda bahawa Abu Jahal telah merampas hartanya. Pada masa itu Abu Jahal tidak berani berkata apa-apa pada baginda, dua ekor harimau menjadi pengawal pribadi Rasulullah S.A.W.

Kemudian setelah habis mereka menghujani Abu Jahal dengan berbagai pertanyaan, maka Abu Jahal pun mula bersuara, ”Wahai sahabatku! Untuk pengetahuan kamu semua, saat aku menghampiri Muhammad dan hendak menghantamkan batu itu ke kepalanya, tiba-tiba muncul seekor unta yang besar hendak menendang aku. Aku amat terkejut karena belum pernah melihat unta yang sebegitu besar seumur hidupku. Sekiranya aku teruskan niatku, niscaya akan matilah aku ditendang oleh unta itu, sebab itulah aku berundur dan membatalkan niatku.”

Rakan-rakan Abu Jahal berasa amat kecewa mendengar penjelasan itu, mereka tidak menyangka orang yang selama ini gagah dan lantang hendak membunuh Nabi Muhammad S.A.W hanya tinggal kata-kata saja. Orang yang selama ini diharapkan boleh menghapuskan Nabi Muhammad S.A.W dan pengaruhnya hanya berupaya berkata bohong.

Setelah mendengar penjelasan dari Abu Jahal yang tidak memuaskan hati itu, maka mereka pun berkata kepada Abu Jahal dengan perasaan kehairanan, ”Ya Abu Jahal, semasa kau menghampiri Muhammad tadi, kami memerhatikan engkau dari jauh tetapi kai tidak napak akan unta yang engkau katakan itu. Malah bayangnya pun kami tidak nampak.”

Rakan-rakan Abu Jahal mula sangsi dengan segala keterangan yang diberikan oleh Abu Jahal. Mereka menyangka Abu Jahal sentiasa mereka-reka cerita yang karut itu, mereka mula hilang kepercayaan terhadapnya. Akhirnya segala kata-kata Abu Jahal tidak mereka indahkan lagi. 

Kisah Nabi dan Sahabat Nasehat Rasul Kepada Fatimah

0 Comments

Nasehat Rasul Kepada Fatimah

Ada 10 wasiat Nabi kepada Fatimah putrinya...:

1.Wahai Fatimah!
Sesungguhnya seorang wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, kelak Allah tetapkan baginya kebaikan dari setiap biji gandum yang dimasaknya dan juga Allah akan melebur kejelekan serta meningkatkan derajatnya.

2.Wahai Fatimah!
Sesungguhnya wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya niscaya Allah akan menjadikan antara neraka dan dirinya 7 tabir pemisah.

3.Wahai Fatimah!
Sesungguhnya seseorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya maka Allah akan tetapkan pahala baginya seperti memberi makan 1000 org yang kelaparan dan memberi pakaian 1000 org yang telanjang.

4.Wahai Fatimah!
Sesungguhnya wanita yang membantu kebutuhan tetangganya maka Allah akan membantunya untuk dapat minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.

5.Wahai Fatimah!
Yang lebih utama dari seluruh keutamaan diatas adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suami tidak ridha kepadamu maka aku tidak akan mendoakanmu..Ketahuilah Fatimah kemarahan suamimu adalah kemurkaan Allah.

6.Wahai Fatimah!
Disaat seorang wanita mengandung maka malaikat memohonkan ampunan baginya dan Allah tetapkan baginya setiap hari 1000 kebaikan serta melebur 1000 kejelekan. Ketika wanita merasa sakit akan melahirkan maka Allah tetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang dijalan Allah.
Disaat wanita melahirkan kandungannya maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya.
Disaat wanita meninggal ketika melahirkan maka dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Di dalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah memberikan pahala kepadanya sama dengan 1000 haji dan 1000 umrah, malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.

7.Wahai Fatimah!
Disaat Seorang istri melayani suaminya selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya 1000 kebaikan . Allahpun akan memberikan kepadanya 100 haji dan umrah.

8.Wahai Fatimah!
Disaat seorang istri tersenyum dihadapan suaminya, maka Allah akan memandangnya dengan pandangan penuh kasih.

9. Wahai Fatimah!
Disaat seorang istri membentangkan alas tidur untuk suaminya dengan rasa senang hati maka para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya dan Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.

10. Wahai Fatimah!
Disaat seorang wanita meminyaki kepala suami dan menyisirnya , meminyaki jenggot dan memotong kumisnya serta memotong kukunya maka Allah akan memberikan minuman yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari sungai-sungai surga.Allahpun akan mempermudah sakaratul maut baginya, serta menjadikan kuburnya bagian dari taman surga. Allahpun akan menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirat dengan selamat.... 

Kisah Nabi dan Sahabat Secukupnya Tapi Mendalam

0 Comments

Secukupnya Tapi Mendalam

Judul di atas adalah sikap Rasulullah ketika terjadi peristiwa yang ibarat danau, airnya telah dibuat beriak oleh satu peristiwa yang terjadi. Para sahabat di sekeliling beliau, siap memberikan respon dan reaksi, tapi respon dan reaksi yang paling baik datang dari Rasulullah. Tidak kurang, tidak lebih, secukupnya tapi mendalam, kena.

Satu hari, di Masjid Nabi, Rasulullah dan para sahabatnya sedang berkumpul dalam halaqah, majelis ilmu, membahas sesuatu. Masjid Nabi, lantainya masih pasir, tak ada ubin, apalagi sajadah. Dan mereka duduk, shalat, ruku’ dan sujud di atasnya.

Ketika kelompok manusia terbaik ini berkumpul dan mempelajari ilmu dan perintah Allah, tiba-tiba datang seorang lelaki Badui, lelaki desa nan udik ke dalam Masjid Nabi. Kita semua mengetahui kisahnya. Sebagian besar kaum Muslimin bahkan telah hapal ujung ceritanya. Tapi mari, sekali lagi kita belajar dari sudut pandang yang sedikit lain.

Lelaki Badui ini, tak datang untuk bergabung dalam halaqah nan mulia. Lelaki ini terus berjalan, menuju ujung ruangan, di pojok bangunan Masjid Nabi. Di sana, dia tengok kanan dan kiri. Mengangkat kainnya dan berjongkok di ujung ruangan untuk menuntaskan hajatnya. Lelaki Badui ini buang air kecil, buang air kecil!

Para sahabat yang berada di masjid dan sedang berhalaqah, seketika bergejolak. Mereka hendak berdiri, entah dengan niat melakukan apa di hati masing-masing. Para sahabat marah. Dan kemarahan mereka sangat wajah, ini Masjid Nabi, bukan tempat buang hajat. Para sahabat berhamburan, berdiri, segera berjalan menghampiri lelaki Badui yang sedang menuntaskan hajatnya tadi. Di wajah-wajah mereka, para sahabat mulia itu, nampak kemarahan yang siap meledak.

Tapi Rasulullah memanggil dan menenangkan semua sahabat yang sudah siap mengambil aksi. “Jangan, biarkan dia. Jangan menganggunya. Biarkan dia menyelesaikan kencingnya,” ujar Rasulullah saw.

Setelah lelaki Badui ini menyelesaikan urusannya, Rasulullah memanggilnya dengan nada lembut. Padahal, para sahabat, semuanya, sudah berada pada titik didih. Lelaki Badui ini datang dan berjalan pelan menghampiri Rasulullah. Beliau menangkap atmosfer kemarahan yang mengepungnya. Tapi hanya Rasulullah yang ditujunya.

Dengan halus, ketika lelaki Badui ini berada di depan beliau, Rasulullah berkata, “Sesungguhnya, masjid ini dibangun bukan untuk itu (maksudnya untuk buang hajat). Masjid ini dibangun untuk shalat dan membaca al Qur’an.”

Hanya itu, tidak kurang, tidak berlebihan. Singkat, tapi tepat sasaran.

Lelaki Badui ini paham, dan lalu pergi meninggalkan Masjid Nabi. Tak lama waktu shalat tiba, dan Rasulullah memimpin para sahabat untuk menunaikan shalat. Dan yang menarik, lelaki Badui ini bergabung bersama untuk shalat jamaah. Dan Rasulullah pun memimpin shalat.

Seperti biasa, Rasulullah melakukan shalat. Sampai ketika bangkit ruku’, Rasulullah mengucapkan , “Sami’Allahu liman Hamidah.” Allah mendengar orang yang memuji-Nya.

Para sahabat kemudian menjawab dengan ucapan, “Rabbana walakal Hamdu.” Tuhan kami, segala puji hanya untuk-Mu.

Di luar dugaan, lelaki Badui, ya betul, lelaki Badui yang tadi, menambahkan doanya lebih panjang dari para sahabat. “Rabbana walakal Hamdu. Allahumarhamni wa Muhammadan, wala Tarham ma’ana ahadan.” Tuhan kami, segala puji hanya untuk-Mu. Ya Allah, sayangilah aku dan Muhammad. Dan jangan sayangi orang-orang selain kami berdua.

Doa ini dibaca dengan lantang, sampai-sampai Rasulullah mendengarnya. Dan tentu saja, para sahabat yang ada juga mendengarnya. Memang lelaki Badui ini, yang seringkali disebut tidak berpendidikan dan memilik karakter unik, telah menyalahi rukun dari bacaan shalat. Tapi pelajarannya yang seringkali kita tidak perhatikan adalah, lihatlah isi doanya. Doa yang mencerminkan, bahwa Rasulullah telah menguasai hatinya. Doa yang memperlihatkan, bahwa dia juga menolak, sekurang-kurangnya tak mau dengan para sahabat yang ada.

Lelaki Badui ini, yang mohon maaf, sekali lagi kelompok ini sering disebut sebagai kelompok masyarakat yang tidak berpendidikan, telah menempatkan Rasulullah di tempat yang sangat berpengaruh dalam hidupnya, dalam pikirannya, dalam doanya, dalam permintaannya kepada Allah. Sehingga dia berharap hanya Rasulullah dan dirinya saja yang dirahmati Allah. Dan tentu saja, ketika seseorang menempati posisi yang istimewa, maka istimewa pula letak nasihatnya.

Selepas shalat, Rasulullah berbalik badan. Lalu beliau memanggil lelaki Badui ini dan berkata singkat, “Engkau telah membatasi sesuatu yang sangat luas.” Ya, singkat, sesuai dengan kebutuhan bagi seorang lelaki Badui yang tentu saja tingkat pemahamannya tidak sama dengan sahabat-sahabat utama seperti Abubakar, Umar bin Khattab atau sahabat yang lain. 

Kisah Nabi dan Sahabat Kisah Fatimah dan Asma

0 Comments

Kisah Fatimah dan Asma

Suatu ketika Sayyidah Fatimah Azzahra putri tercinta Rasulullah SAW, berada di depan rumah beliau, tiba-tiba ada janazah yang hendak di bawa kekuburan lewat di depan sayyidah Fatimah Azzahra. Saat itu Sayyidah Fatimah bersama Sayyidah Asma Binti Khumaisy yang biasa menemani dan menghibur Sayyidah Fatimah setelah kepergian Rasulullah SAW.

Tiba-tiba saat itu Sayyidah Fatimah menangis tersedu-sedu hingga membuat Sayyidah Asma panik lalu bertanya, “ wahai putri Rasulullah, kenapa engkau menangis melihat janazah itu? ada apa dengan janazah itu? ”Sayyidah Fatimah menjawab, setiap orang yang mati akan dibungkus dengan kain kafan yang rapat lalu akan di bawa kelokasi pemakaman dengan di panggul oleh orang-orang yang membawanya?”

(Dahulu sebelum adanya keranda mayat jika ada orang meninggal maka di saat di bawa ke kubur janazah di panggul di atas pundak orang-orang yang membawanya). Sayyyidah Asma menjawab, “ Tentu wahai putri Rasulullah? ” Kemudian Sayyidah Fatimah melanjutkan,” Dan akupun kelak akan di bawa kekubur seperti itu?” Sayyidah Asma menjawab “ Benar wahai putri Rasulullah”.

Lalu Sayyidah Fatimah melanjutkan ” Itulah yang menjadikan aku menangis, sungguh aku sangat malu jika nanti aku meninggal , kemudian di bungkus kain kafan dengan rapat lalu di angkat di atas punggung orang-orang yang membawaku kekubur, sementara orang yang mengiring janazahku akan melihatku, sungguh aku sangat malu karena saat itu mereka akan melihat lekuk-lekuk tubuhku”.

Mendengar ungkapan Sayyidah Fatimah ini Sayyidah Asma berkata ” wahai putri Rasulullah, disaat aku ke negeri Habasyah aku melihat janazah yang di bawa kekubur, janazah diletakkan di sebuah tempat yang di sebut keranda, aku pikir itu bisa menutupi pandangan orang dari melihat lekuk tubuh janazah yang dibawa”.

Mendengar cerita Sayyidah Asma ini tiba-tiba tangis Sayyidah Fatimah terhenti, dan wajah beliau berubah berseri-seri sambil berkata ”wahai Asma sungguh aku berwasiat, jika aku mati nanti tolong buatkan aku keranda mayat seperti yang engkau ceritakan agar lekuk tubuhku tidak terlihat saat di bawa kekuburan”. Dan benar setelah Sayyidah Fatimah meninggal, maka di buatlah keranda mayat untuknya. 

Kisah Nabi dan Sahabat Kisah Rasulullah Dengan Budi Pekerti Luhur Part 1

0 Comments

Kisah Rasulullah Dengan Budi Pekerti Luhur Part 1

Suatu hari Baginda Nabi sedang duduk-duduk dengan para sahabatnya menunggu saat shalat tiba. Sahabatnya yang baru saja pulang dari pesta makan daging. Maka terciumlah bau yang kurang sedap dalam majelis itu. Rasulullah menyadari bahwa bau-bauan itu disebabkan oleh uap napas seseorang akibat makan daging yg berlebihan. Rasulullah juga menyadari bahwa orang yang bersangkutan ada dalam kedudukan sulit sekali. Mereka tentulah sudah berwudhu semua. Karena sebentar lagi akan shalat berjamaah. Kalau orang yang berbau kurang sedap itu beranjak seorang diri pergi berwudhu’, ketahuanlah dia sumber bau kurang sedap itu. Tentu dia bisa jadi malu dan gelisah. Beliau menginginkan pelaku yang sebenarnya merasakan pahit getir kesalahannya itu, tanpa diketahui oleh banyak orang.

Rasulullah saw. melepaskan pandangannya kepada semua yang hadir, seraya memerintahkan : “Siapa yang makan daging tadi hendaknya berwudhu!” Semuanya telah memakan daging ya, Rasulullah!, jawab para sahabat. Lalu beliau bersabda : “Kalau begitu, berwudhulah kalian semua.”

Mereka bangkit semua pergi berwudhu. Termasuk orang yang merupakan sumber datangnya bau kurang sedap itu. Orang ini telah diselamatkan air mukanya dari rasa malu, berkat kecerdikan dan kelambutan Rasulullah saw. 

Kisah Nabi dan Sahabat Kisah Rasulullah Dengan Budi Pekerti Luhur Part 2

0 Comments

Kisah Rasulullah Dengan Budi Pekerti Luhur Part 2

Dua kali dalam tahun yang sama Rasulullah saw. memperoleh hantaman dukacita yang amat besar. Mula-mula Abi Thalib, yaitu pamanya yang melindunginya dari kebengisan kaum Quraisy, meninggal dunia dalam keadaan masih musyrik. Lalu Siti Khadijah, yaitu istrinya yang selalu memberikan dukungan moril dan materil yang amat besar. Tidaklah terperikan rasa dukacita yang menusuk kalbunya! Dalam keadaan demikian itu, perlakuan kaum Quraisy terhadapnya semakin menggila. Pernah suatu waktu mereka menyiramkan tanah keatas kepala Rasulullah saw, namun Rasulullah tetap tabah. Akhirnya karena perlakuan kaum Quraisy semakin brutal, Muhammad saw pergi ke Taif dengan harapan semoga masyarakat disana mau mendukungnya. Namun ternyata orang-orang di Taif memperlakukannya seperti kepada bukan manusia saja layaknya. Ia di caci maki, di ludahi, serta dilempari batu dan besi sehingga beberapa bagian tubuhnya tidak hanya menjadi memar, tetapi terluka dan mencucurkan darah.

Secepatnya Nabi pergi dari sana, berlindung di sebuah kebun anggur kepunyaan anak-anak Rabia, yaitu Utba dan Syaiba. Disana Beliau berdoa dengan khusuk :

Allahumma Ya Allah.
Kepada Engkau juga aku mengadukan kelemahanku,
kurangnya kemampuanku serta kehinaan diriku di depan manusia.

Oh, Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Engkaulah yang melindungi si lemah dan
Engkaulah pelindungku.

Kepada siapa hendak Kau serahkan diriku?
Kepada orang yang jauhkah yang berwajah muram kepadaku?
Ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?

Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidaklah perduli
Sebab sungguh luas kenikmatan yang Kau limpahkan kepadaku.
Aku berlindung kepada Nur wajah Engkau yang menyinari kegelapan
(dan karenanya membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat)
dari kemurkaan Engkau yang akan Kau tumpahkan kepadaku.

Engkaulah yang berhak menegur dengan berkenan kepada Engkau.
Dan tiada kuasa serta kekuatan selain dengan Engkau juga.

(Meskipun dalam kondisi yang amat nelangsa, Baginda Nabi Muhammad saw dalam doanya tidak mendendam kepad orang-orang yang menyakitinya!) 
 
back to top