Showing posts with label Kisah Shalat Pertama. Show all posts
Showing posts with label Kisah Shalat Pertama. Show all posts

Monday, February 4, 2019

Kisah Shalat Pertama Rasul Sembuhkan Kaki Memar

0 Comments

Rasul Sembuhkan Kaki Memar

Meskipun secara diam-diam, perjalanan dakwah Rasulullah SAW sudah dimulai. Jibril pun mengajarkan kepadanya cara melakukan shalat. Mulanya, hanya Khadijah yang ikut melaksanakan shalat. Hingga akhirnya Ali, sepupu Rasulullah SAW pun berkenan mengikuti ajaran Islam.

Suatu hari, Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril kembali bersama di sebuah bukit di Makkah. Kali ini Jibril muncul dalam wujud seorang laki-laki. Ternyata Malaikat Jibril akan mengajarkan shalat.

Awalnya, Malikat Jibril terlebih dahulu menghentakkan tumitnya ke rumput hingga air yang beningpun memancar. Jibril kemudian berwudhu, membasuh bagian-bagian terntentu dengan air tersebut. Rasulullah SAW kemudian juga berwudhu seperti yang dilakukan Jibril. Untuk menjalankan shalat, kebersihan adalah hal yang sangat penting, setelah itu, Jibril mengajari Rasulullah SAW cara mendirikan shalat. Mereka pun shalat bersama, tapi tba-tiba Malaikat Jibril menghilang begitu saja. Rasulullah SAW nampak sangat gembira mendapat ilmu baru. Beliau pun belajar cara berdoa yang dikehendaki Allah SWT. Nabi Muhammad SAW pulang dengan sangat bahagia.

Rasulullah SAW pun mulai mengajarkan apa yang Beliau pelajari kepada istrinya, Khadijah. Mereka berdua kemudian mendirikan shalat berjamaah untuk pertama kalinya. Ada kebahagiaan yang ak terlukiskan dalam diri mereka berdua karena menjalankan shalat ini sangat indah. Dengan shalat, seseorang bisa berhubungan langsung dengan Allah SWT.

Kemudian pasti banyak yang bertanya, loh kenapa Nabi sudah shalat, padahal seharusnya kan pada waktu Isra' Mi'raj. Jadi janganlah salah, para ulama menjelaskan bahwa sebelum Isra' Mi'raj Nabi sudah shalat, tapi bukan shalat wajib seperti yang kita laksanakan sekarang. Perintah shalat wajib memang diturunkan pada saat Rasulullah SAW Isra' Mi'raj. Tata cara shalat yang diikuti adalah tata cara shlat yang dicontohkan Rasulullah SAW pasca Isra' Mi'raj. 

Kisah Shalat Pertama Rela Berkorban Demi Saudara

0 Comments

Rela Berkorban Demi Saudara

Dia adalah saudara Anas bin Malik, namanya Al Barra' bin Malik. Dia adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang juga menjadi pahlawan perang. Walaupun bertubuh kerempeng alias kurus dan berkulit legam, namun ia mampu menewaskan ratusan orang musyrik dalam pertandingan satu lawan satu.

Dalam Perang Yamamah, perang melawan pasukan Musilamah Al Kadzdzab pada masa pemerintatahn Abu Bakar As-Shiddiq, Al Barra' bin Malik menunjukkan kepahlawanannya. Ketika panglima perang Khalid bin Walid melihat pertempuran kian berkobar, ia berpaling kepada Al Barra' seraya berseru, ”Wahai Al Barra', kerahkan kaum Anshar!”.
Saat itu juga Al Barra' berteriak memanggil kaumnya, ”Wahai kaum Anshar, kalian jangan berpikir kembali ke Madinah! Tidak ada lagi Madinah setelah hari ini. Ingatlah Allah, Ingatlah surga!”.
Setelah berkata demikian, dia maju mendesak kaum musyrikin diikuti prajurit Anshar. Pedangnya berkelebat menebas musuh-musuh Allah yang datang mendekat.

Melihat prajuritnya berguguran, Musailamah dan kawan-kawannya menjadi gentar. Mereka lari tunggang langgang dan berlindung disebuah benteng yang terkenal dalam sejarah dengan nama Kebun Maut. Kebun Maut adalah benteng terakhir bagi Musailamah dan pasukannya. Pagarnya tinggi dan kokoh. Sang pendusta dan pengikutnya mengunci gerbang benteng rapat-rapat dari dalam. Dari puncak benteng, mereka menghujani kaum muslimin yang mencoba masuk dengan panah.

Menghadapi keadaan yang demikian, kaum muslimin sempat kebingungan. Dalam benak Al Barra' muncul ide. Ia pun berteriak, ”Angkat tubuhku dengan galah dan lindungi dengan perisai dari panah-panah musuh. Lalu leparkan aku ke dalam benteng musuh, biarkanlah aku mati syahid untuk membukakan pintu, agar kalian bisa menerobos masuk.” Dalam sekejap, tubuh kerempeng Al Barra' telah dilemparkan ke dalam benteng. Begitu mendarat di benteng bagian dalam, ia langsung membuka pintu gerbang. Kaum muslimin pun banjir menerobos masuk, pedang mereka berkelebat menyambar tubuh dan kepala musuh. Lebih dari 20 ribu orang murtad tewas, termasuk pimpinan mereka, Musilamah Al Kadzdzab.

Sebenarnya Al Barra' bin Malik sangat merindukan mati syahid. Dia kecewa karena gagal memperolehnya di Kebun Maut. Sejak itu ia selalu menceburkan diri ke kancah peperangan. Ia sangat rindu bertemu Rasulullah SAW.

Tatkala Perang Tustar melawan Persia berlangsung, Al Barra' bin Malik tidak mau ketinggalan. Kala itu pasukan musuh terdesak dan berlindung di sebuah benteng yang kokoh dan kuat. Temboknya tinggi besar, namun kaum muslimin mengepunng benteng tersebut dengan ketat.

Dalam keadaan demikian, pasukan Persia menggunakan berbagai cara untuk menaklukkan kaum muslimin. Mereka menggunakan pengait-pengait yang diikatkan ke ujung rantai besi yang dipanaskan. Rantai tersebut mereka lemparkan kepada kaum muslimin sehingga sebagian dari mereka tersambar pengait panas itu. Banyak pasukan islam yang tersambar pengait, diantaranya adalah Anas bin Malik, saudara Al Barra' bin Malik. Selama beberapa saat, Anas tidak mampu melepaskan diri dari besi panas yang mengaitnya. Melihat hal itu, Al Barra' bin Malik segera melompat ke dinding benteng dan melepaskan pengait dari tubuh saudaranya.

Tangan Al Barra' bin Malik otomatis melepuh dan terbakar karena memegang pengait yang panas membara. Namun demikian ia tidak mempedulikannya, yang penting baginya adalah keselamatan saudaranya. Akhirnya ia berhasil menyelamatkan Anas walaupun kedua telapak tangannya lepas. Daging kedua lengannya melepuh dan hanya tinggal kerangka.

Sungguh pengorbanan yang luar biasa dahsyatnya.
Dalam Perang Tustar ini juga, Al Barra' bin Malik memohon kepada Allah SWT agar gugur sebagai syahid. Doanya dikabulkan, ia pun gugur sebagai syahid dengan wajah tersenyum bahagia. 

Kisah Shalat Pertama Kisah Anak Muslim Pertama

0 Comments

Kisah Anak Muslim Pertama

Di antara sekian anak yang pertama masuk islam adalah Ali bin Abi Thalib dan Zaid. Sungguh beruntung kedua anak itu. Mereka bisa tingal di rumah Nabi Muhammad SAW, seorang manusia yang selalu dipuji baik di langit maupun di bumi. Tak semua orang bisa seberuntung mereka.

Anak pertama yang masuk islam adalah Ali, kemudian diikuti oleh Zaid. Mereka menikmati kebahagiaan menjadi anak-anak muslim pertama, mempelajari islam, ajaran terbaik yang paling indah langsung bersama Rasulullah SAW.

Ali tidak pernah terpisah dari Rasulullah SAW meski hanya sebentar. Ali selalu mengikuti kemana saja Rasulullah SAW pergi, bahkan ke gunung dan ke padang pasir. Mereka selalu shalat bersama, Ali terlihat begitu bahagia dengan apa yang dia lakukan bersama Rasulullah SAW.

Berita tentang perubahan sikap Ali semenjak dekat dengan Nabi Muhammad SAW terdengar ibunya. Ibu Ali mendengar jika putranya itu tidak pernah terpisah dari Rasulullah SAW, shalat bersama dan sebagainya. Karena tidak tahu seperti apa ajaran islam, ibu Ali pun menjadi khawatir (hal yang lumrah bila seorang ibu khawatir karena belum mengetahui apakah diajari kebenaran atau sebaliknya).

Hingga suatu hari, ia berkata kepada suaminya, Abu Thalib,
”Berhati-hatilah! Anakmu kurasa sudah menghabiskan terlalu banyak waktu bersama Muhammad. Aku takut sesuatu yang membahayakan akan terjadi padanya,” ujar Ibu Ali.
Abu Thalib memang tipe orang yang tidak suka menilai seseorang dari satu sisi saja, ia pun tak suka mendengarkan penjelasan dari satu pihak. Abu Thalib pun berusaha mencari kebenarannya dengan caranya sendiri.

Untuk itu, tanpa sepengetahuan istrinya, ia selalu pergi meninggalkan rumah untuk mengetahui apa yang terjadi. Ia pun mencari tahu dimana keponakan dan putranya itu berada.

Setelah mendapat informasi tentang keberadaan Rasulullah SAW dan anaknya, Abu Thalib pun kemudian pergi ke sana. Ternyata keponakan dan anaknya sedang shalat bersama di sebuah lembah di luar kota Makkah. Abu Thalib mengawasinya dari kejauhan, ia pun mengamati mereka beberapa lama. Setelah Rasulullah SAW dan Ali selesai menjalankan shalat, Abu Thalib pun mendekati mereka.

Abu Thalib menyapa Nabi Muhammad SAW dan bertanya,
”Muhammad, ajaran apakah yang kau jalankan ini?”
Seperti biasa, Rasulullah SAW mengatakan dengan jujur tentang ajaran yang sedang Beliau anut,
”Paman, ini adalah ajaran yang paling indah, Islam namanya. Kau ada dalam daftar teratas orang yang akan aku ajak masuk Islam. Kau berhak memeluk Islam melebihi dari siapa pun. Berhentilah menyembah berhala dan berdoalah kepada Allah Yang Esa.”

Abu Thalib paham betul dengan karakter dan watak keponakannya itu. Muhammad dari kecil terkenal jujur dan tak akan pernah berbohong. Abu Thalib diam sejenak, memikirkan apa yang diucapkan Rasulullah SAW.
”Apa yang akan dikatakan orang-orang kalau aku, seorang pemuka di Makkah melakukan apa yang diminta keponakannya?” bisiknya dalam hati.

Karena khawatir pendapat orang-orang tentangnya, Abu Thalib berkata,
”Aku tidak bisa meninggalkan ajaran amaku. Tapi, kamu teruskan saja menjalankan ajaran barumu. Aku bersumpah, selama aku masih hidup, tidak akan ada orang yang bisa menyakitimu,” kata Abu Thalib.
Kemudian ia berpaling kepada anaknya,
”Anakku, bagaimana pendapatmu?”

”Ayah..,” kata Ali.
”Aku sudah beriman kepada Allah dan Rasul yang diutus-Nya. Aku sudah menjadi pengikut Muhammad SAW, aku pun sudah shalat bersamanya,” kata Ali.
”Memang itulah yang tepat untuk kau lakukan, anakku,” kata Abu Thalib.
”Ia akan mengajakmu kepada kebaikan. Lakukan semua yang dikatakannya kepadamu dan jangan pernah meninggalkannya,” tambahnya.
Akhirnya Ali pun merasa lega mendengar perkataan ayahnya. Sekarang Ali benar-benar merasa tenang dan tanpa rasa takut lagi kalau diketahui oleh orang tauanya. 

Kisah Shalat Pertama Kisah Anak Muslim Pertama

0 Comments

Kisah Anak Muslim Pertama

Di antara sekian anak yang pertama masuk islam adalah Ali bin Abi Thalib dan Zaid. Sungguh beruntung kedua anak itu. Mereka bisa tingal di rumah Nabi Muhammad SAW, seorang manusia yang selalu dipuji baik di langit maupun di bumi. Tak semua orang bisa seberuntung mereka.

Anak pertama yang masuk islam adalah Ali, kemudian diikuti oleh Zaid. Mereka menikmati kebahagiaan menjadi anak-anak muslim pertama, mempelajari islam, ajaran terbaik yang paling indah langsung bersama Rasulullah SAW.

Ali tidak pernah terpisah dari Rasulullah SAW meski hanya sebentar. Ali selalu mengikuti kemana saja Rasulullah SAW pergi, bahkan ke gunung dan ke padang pasir. Mereka selalu shalat bersama, Ali terlihat begitu bahagia dengan apa yang dia lakukan bersama Rasulullah SAW.

Berita tentang perubahan sikap Ali semenjak dekat dengan Nabi Muhammad SAW terdengar ibunya. Ibu Ali mendengar jika putranya itu tidak pernah terpisah dari Rasulullah SAW, shalat bersama dan sebagainya. Karena tidak tahu seperti apa ajaran islam, ibu Ali pun menjadi khawatir (hal yang lumrah bila seorang ibu khawatir karena belum mengetahui apakah diajari kebenaran atau sebaliknya).

Hingga suatu hari, ia berkata kepada suaminya, Abu Thalib,
”Berhati-hatilah! Anakmu kurasa sudah menghabiskan terlalu banyak waktu bersama Muhammad. Aku takut sesuatu yang membahayakan akan terjadi padanya,” ujar Ibu Ali.
Abu Thalib memang tipe orang yang tidak suka menilai seseorang dari satu sisi saja, ia pun tak suka mendengarkan penjelasan dari satu pihak. Abu Thalib pun berusaha mencari kebenarannya dengan caranya sendiri.

Untuk itu, tanpa sepengetahuan istrinya, ia selalu pergi meninggalkan rumah untuk mengetahui apa yang terjadi. Ia pun mencari tahu dimana keponakan dan putranya itu berada.

Setelah mendapat informasi tentang keberadaan Rasulullah SAW dan anaknya, Abu Thalib pun kemudian pergi ke sana. Ternyata keponakan dan anaknya sedang shalat bersama di sebuah lembah di luar kota Makkah. Abu Thalib mengawasinya dari kejauhan, ia pun mengamati mereka beberapa lama. Setelah Rasulullah SAW dan Ali selesai menjalankan shalat, Abu Thalib pun mendekati mereka.

Abu Thalib menyapa Nabi Muhammad SAW dan bertanya,
”Muhammad, ajaran apakah yang kau jalankan ini?”
Seperti biasa, Rasulullah SAW mengatakan dengan jujur tentang ajaran yang sedang Beliau anut,
”Paman, ini adalah ajaran yang paling indah, Islam namanya. Kau ada dalam daftar teratas orang yang akan aku ajak masuk Islam. Kau berhak memeluk Islam melebihi dari siapa pun. Berhentilah menyembah berhala dan berdoalah kepada Allah Yang Esa.”

Abu Thalib paham betul dengan karakter dan watak keponakannya itu. Muhammad dari kecil terkenal jujur dan tak akan pernah berbohong. Abu Thalib diam sejenak, memikirkan apa yang diucapkan Rasulullah SAW.
”Apa yang akan dikatakan orang-orang kalau aku, seorang pemuka di Makkah melakukan apa yang diminta keponakannya?” bisiknya dalam hati.

Karena khawatir pendapat orang-orang tentangnya, Abu Thalib berkata,
”Aku tidak bisa meninggalkan ajaran amaku. Tapi, kamu teruskan saja menjalankan ajaran barumu. Aku bersumpah, selama aku masih hidup, tidak akan ada orang yang bisa menyakitimu,” kata Abu Thalib.
Kemudian ia berpaling kepada anaknya,
”Anakku, bagaimana pendapatmu?”

”Ayah..,” kata Ali.
”Aku sudah beriman kepada Allah dan Rasul yang diutus-Nya. Aku sudah menjadi pengikut Muhammad SAW, aku pun sudah shalat bersamanya,” kata Ali.
”Memang itulah yang tepat untuk kau lakukan, anakku,” kata Abu Thalib.
”Ia akan mengajakmu kepada kebaikan. Lakukan semua yang dikatakannya kepadamu dan jangan pernah meninggalkannya,” tambahnya.
Akhirnya Ali pun merasa lega mendengar perkataan ayahnya. Sekarang Ali benar-benar merasa tenang dan tanpa rasa takut lagi kalau diketahui oleh orang tauanya. 

Kisah Shalat Pertama Kisah Batu Bisa Bicara Dan Masuk Surga

0 Comments

Kisah Batu Bisa Bicara Dan Masuk Surga

Pada suatu hari Rasulullah SAW mengunjungi putri kesayangannya yang bernama Fatimah untuk suatu keperluan. Namun apa yang bterjadi, sesampainya di rumah Fatimah ra Rasulullah SAW terkejut karena mendapati putrinya tersebut menangis di samping penggilingan gandum yang terbuat dari batu.

”Wahai Fatimah, apa yang menyebabkan engkau meangis? Semoga bukan ayahmu yang membuat engkau menangis,” ujar Rasulullah SAW.
”Ya Rasulullah, penggilingan ini dan urusa-urusan rumah tanggalah yang menyebabkan aku menangis,” jawab Fatimah yang berurai air mata.

Siti Fatimah ra mengaku bahwa tangisnya pecah karena beratnya pekerjaan rumah tangga yang dijalaninya dan merasa sangat capek menggiling gandum untuk dijadikan tepung. Hampir seharian Fatimah menggiling sehingga jari-jarinya terasa sakit.

Setelah Fatimah mengadukan permasalahannya, segera saja Rasulullah SAW mendatangi gilingan gandum yang terbuat dari batu. Sambil mengucap Basmalah, Rasulullah SAW kemudian memasukkan jarinya ke tumpukan biji gandum yang masih tersisa di dalam penggilingan. Dengan izin Allah SWT, gilingan manual tersebut tiba-tiba saja bergerak sendiri menghaluskan gandum menjadi tepung.

Setelah semua pekerjaan selesai, tiba-tiba saja Rasulullah SAW diberi mukjizat lagi oleh Allah SWT. Terdengar sayup-sayup, batu penggilingan itu yang merasa lelah dan mengeluh. Penggilingan merasa takut dengan Firman Allah SWT dalam Surat At-Tahriim ayat 6.

Allah SWT berfirman,
”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahriim [66]: 6).

Begitu mendengar keluhan batu penggilingan itu, Rasulullah SAW tersenyum.
”Wahai Rasulullah, kenapa engkau tersenyum?” tanya Fatimah ra.
”Aku tersenyum karena batu ini telah mengatakan kepadaku tentang sesuatu hal,” jawab Rasulullah SAW.
”Apa yang diucapkan batu itu ya Rasulllah?” tanya Fatimah ra.
”Batu penggilingan itu takut dan tidak mau dijadikan bahan bakar api neraka,” jawab Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW membalas ucapan batu penggilingan itu.
”Hai batu, bergembiralah dan bersenanglah karena engkau akan menjadi batu yang akan dipakai untuk membangun istana Fatimah nanti di surga.”

Begitu bahagianya batu penggilingan gandum itu, dimana pada saat teman-temannya dijadikan Allah SWT sebagai bahan bakar api neraka, hanya dia yang mendapatkan kemulian itu.
Rasulullah SAW kemudian mendekati anaknya yang mulai berhenti menangis. 

Kisah Shalat Pertama Dialog Rasulullah dan Sahabat Tentang Penyakit Hati

0 Comments

Dialog Rasulullah dan Sahabat Tentang Penyakit Hati

Kalau hati sudah nteracuni, banyak penyakit yang bakal muncul di kemudian hari.
Racun-racun hati itu banyak macamnya, di antaranya adalah berlebih-lebihan (banyak) bicara atau fudhulul kalam.

Dikatakan bahwa belumlah bisa istiqamah iman seseorang sebelum istiqamah lisannya. Maka lurus dan istiqamahnya hati dalam memegang keimanan itu dimulai dari lisan yang istiqamah.

Oleh karena itulah Islam mengajarkan kepada umatnya agar tidak banyak bicara tanpa disertai dzikir kepada Allah, karena akan mengakibatkan kerasnya hati. Dalam salah satu hadits shahih Rasulullah SAW pernah bicara kepada sahabat Mu'adz: ”Apakah engkau mau aku tunjukkan yang menjadi landasan itu semua (ibadah-ibadah)?”
”Baik, ya Rasulullah”, jawab Mu'adz.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda: ”Cegahlah ini” (sambil mengisyaratkan dengan jarinya pada mulutnya).

Lalu mu'adz berkata:
”Ya Rasulullah, apakah kita akan dimintai tanggung jawab dari apa yang kita ucapkan?”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda: ”Kamu wahai Mu'adz, tidaklah seseorang akan ditelungkupkan wajahnya dan punggungnya ke dalam Neraka melainkan karena hasil dari lisannya.” (Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi).

”Ada dua lubang yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Neraka, yaitu mulut dan kemaluan.”
(HR Ahmad, At-Tirmidzi dan di-shahih-kannya).

Dan tatkala Uqban bin Amir bertanya kepada Rasulullah: ”Ya Rasulullah, apakah sesuatu yang dapat menyelematkan kita?”
Lalu dijawab oleh Nabi : ”Tahanlah olehmu lisanmu.”

Lalu dalam kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda:
”Barangsiapa yang dapat memberi jaminan kepadaku dari apa yang ada di antara jenggot dan kumisnya (lisan) dan kedua pahanya (kemaluan), maka aku jamin untuknya Surga.” (HR. Al-Bukhari).

Maksud dalam hadits ini adalah, barangsiapa yang bisa memelihara apa yang ada di antara kedua bibirnya, yaitu mulut dari semua perkataan yang tidak bermanfaat dan bisa menjaga apa yang ada di antara kedua pahanya yaitu farji agar tidak diletakkan di tempat yang tidak dihalalkan Allah, maka jaminannya adalah Surga.

Kemudian dalam hadits yang lain Rasulullah SAW juga bersabda:
”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhirat, hendaklah berbicara yang baik atau agar ia diam.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dalam sutau riwayat dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda:
”Sebagian dari tanda bagusnya Islam seseorang apabila ia bisa meninggalkan ucapan yang tidak berguna baginya.” Berkata Sahl : ”Barangsiapa yang masih suka bicara yang tidak berguna maka ia tidak layak dikatakan shiddiq”.

Apalagi bila ucapan seseorang sampai menyakiti orang lain maka belum bisa dijadikan jaminan iman yang dimilikinya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
”Demi Allah, tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman”, kemudian ditanyakan siapakah gerangan yang engkau maksudkan wahai Rasulullah?
Jawabnya, ”orang yang menjadikan tetangganya merasa tidak aman lantaran kejahatannya.”

Hati yang tidak mengenal dengan Rabbnya, tidak melakukan ibadah sesuai dengan apa yang diperintahkanNya, dicitaiNya dan diridhaiNya. Bahkan selalu memperturutkan nafsu dan syahwatnya serta kenikmatan dan hingar bingarnya dunia, walaupun ia tahu bahwa itu amatlah dimurkai oleh Allah dan dibenciNya.

Ia tidak pernah peduli tatkala memuaskan diri dengan nafsu syahwatnya itu diridhaiNya atau dimurkaiNya, dan ia menghambakan diri dalam segala bentuk kepada selain Allah. Apabila ia mencintai maka cintanya karena nafsunya, apabila ia membenci maka bencinya karena nafsunya, apabila ia memberi maka itu karena nafsunya, apabila ia menolak maka tolakannya atas dasar nafsunya, maka nafsunya sangat berperan dalam dirinya, dan lebih ia cintai daripada ridha Allah

Dengan demikian maka hendaklah seorang mukmin mencukupkan diri dari ucapan yang tidak berguna seperti berdusta, suka mengadu domba, ucapan yang keji, ghibah, namimah, suka mencela, bernyanyi, menyakiti orang lain dan lain sebagainya. Itu semua merupakan racun-racun hati sehingga apabila seseorang banyak melakukan seperti ini maka hati akan teracuni dan bila hati sudah teracuni maka lambat laun, cepat atau lambat akan mengakibatkan sakitnya hati, semakin banyak racunnya akan semakin parah penyakit dalam hatinya, dan kalau tidak tertolong akan mengakibatkan mati hatinya.

Ketahuilah bahwa semua maksiat dalam bentuk apapun adalah merupakan racun bagi hati, penyebab sakitnya hati bahkan juga penyebab matinya hati. Berkata Abdullah Ibnu Mubarak : ”Meninggalkan dosa dan maksiat dapat menjadikan hidupnya hati, dan sebaik-baik jiwa adalah yang mampu meniadakan perbuatan dosa dalam dirinya.

Maka barangsiapa yang menginginkan hatinya menjadi hati yang selamat hendaklah membersihkan diri dari racun-racun hati, kemudian dengan menjaganya tatkala ada racun hati yang berusaha menghampirinya, dan apabila terkena sedikit dari racun hati bersegeralah untuk menghilangkannya dengan taubat dan istighfar. 

Kisah Shalat Pertama Orang Yang Paling Berani

0 Comments

Orang Yang Paling Berani

Al Bazzar meriwayatkan dalam kitab Masnadnya dari Muhammad bin Aqil katanya, ”Pada suatu hari Ali bin Abi Talib pernah berkhutbah di hadapan kaum Muslimin dan beliau berkata, ”Hai kaum Muslimin, siapakah orang yang paling berani ?”

Jawab mereka, ”Orang yang paling berani adalah engkau sendiri, hai Amirul Mukminin.”

Kata Ali, ”Orang yang paling berani bukan aku tapi adalah Abu Bakar. Ketika kami membuatkan Nabi gubuk di medan Badar, kami tanyakan siapakah yang berani menemani Rasulullah s.a.w dalam gubuk itu dan menjaganya dari serangan kaum Musyrik ? Di saat itu tiada seorang pun yang bersedia melainkan Abu Bakar sendiri. Dan beliau menghunus pedangnya di hadapan Nabi untuk membunuh siapa saja yang mendekati gubuk Nabi s.a.w. Itulah orang yang paling berani.”

”Pada suatu hari juga pernah aku menyaksikan ketika Nabi sedang berjalan kaki di kota Mekah, datanglah orang Musyrik sambil menghalau beliau dan menyakiti beliau dan mereka berkata, ”Apakah kamu menjadikan beberapa tuhan menjadi satu tuhan ?” Di saat itu tidak ada seorang pun yang berani mendekat dan membela Nabi selain Abu Bakar. Beliau maju ke depan dan memukul mereka sambil berkata, ”Apakah kamu hendak membunuh orang yang bertuhankan Allah ?”

Kemudian sambil mengangkat kain selendangnya beliau mengusap air matanya. Kemudian Ali berkata, ”Adakah orang yang beriman dari kaum Firaun yang lebih baik daripada Abu Bakar ?” Semua jemaah diam saja tidak ada yang menjawab. Jawab Ali selanjutnya, ”Sesaat dengan Abu Bakar lebih baik daripada orang yang beriman dari kaum Firaun walaupun mereka sepuluh dunia, kerana orang beriman dari kaum Firaun hanya menyembunyikan imannya sedang Abu Bakar menyiarkan imannya.” 

Kisah Shalat Pertama Kematian Musailamah Al Kadzdzab Dan Pengumpulan Al Quran

0 Comments

Kematian Musailamah Al Kadzdzab Dan Pengumpulan Al Quran

Musailmah adalah seorang penipu yang telah mengaku sebagai Nabi, bahkan pada waktu Nabi Muhammad salallAhu'alaihiwasallam masih hidup. Setalah Nabi sallallAhu'alaihiwasallam wafat, orang-orang yg lemah imannya, terutama bangsa Arab yg mengembara, banyak yg menjadi Murtad. Musailmah memanfaatkan peluang ini sehingga banyak penduduk yg tertipu. Abu Bakar RadiAllahu'anhu segera mengambil tindakan untuk memberantas penipuan ini sehingga terjadilah pertempuran. Tetapi dengan pertolongan Allah Swt. tentara Islam mencapai kemenangan yg gemilang dan Musailmah dapat dibunuh. Dalam peperangan ini banyak para sahabat termasuk para Hafizh yg menjadi korban.

Terdorong oleh perasaan khawatir, Umar RadiAllahu'anhu pergi menemui Abu Bakar dan bertanya kepadanya., ”Banyak para Hafizh yg telah menjadi korban dalam pertempuran ini. Aku khawatir, dalam beberapa pertempuran lagi kita kehilangan sebagian besar dari Al Qur'an karena meninggalnya para Hafizh. Oleh karena itu aku merencanakan untuk mengumpulkan Al Qur'an dan dipelihara dalam bentuk sebuah buku yg lengkap. ”

Abu Bakar menjawab,, ”Bagaimana aku dapat melakukan suatu hal yg tidak pernah dilakukan semasa Rasulullah sallallAhu'alaihiwasallam hidup?”

Tetapi Umar dengan sungguh-sungguh berusaha meyakinkan Abu Bakar sehingga Abu Bakar pun menyetujui rencana itu. Kemudian Abu Bakar memanggil Zaid bin Tsabit R.a dan memberitahukan rencananya itu. Abu Bakar berkata kepada Zaid, ”Engkau adalah seorang pemuda yg cerdas, penduduk telah menganggapmu sebagai pemuda yg dapat dipercaya. Lagipula engkau pernah diberi tugas oleh Rasulullah sallallAhu'alaihiwasallam untuk menulis Al Qur'an ketika beliau masih hidup. Oleh karena itu aku mohon kepadamu agar menemui orang-orang yg hafal Al Qur'an untuk menulisnya dari mereka dan menghimpunnya dalam sebuah buku.”

Zaid berkata, ”Dengan Nama Allah, jika sekiranya Abu Bakar menyuruhku memindahkan sebuah gunung, niscaya itu tidak begitu sukar(Sulit) dariku daripada mengumpulkan ayat-ayat Al Qur'an. Bagaimana engkau berdua sanggup melakukan hal yg tidak pernah dilakukan semasa Rasulullah salallAhu'alaihiwasallam masih hidup.”

Abu Bakar dan Umar menerangkan dengan sungguh-sungguh tujuan rencana tersebut dan Allah meringankan pikirannya sehingga dapat meyakinkan Zaid akan pentingnya tugas itu. Zaid pun kemudian menemui orang-orang yg Hafal Al Qur'an dan dia menulisnya hingga selesai keseluruhannya...” 

Kisah Shalat Pertama Kejaran Kemiskinan Bagi Orang yg Mencintai Rasulullah SAW

0 Comments

Kejaran Kemiskinan Bagi Orang yg Mencintai Rasulullah SAW

Seorang sahabat telah datang menjumpai Rasullullah saw, lalu berkata ”Ya, Rasulullah.. saya mencintai engkau.”
Nabi saw bersabda, ”Pikirkan dahulu apa yg engkau katakan.” Tetapi orang itu berkata lagi, ”Saya mencintai engkau Ya Rasulullah.” Nabi saw bersabda seperti tadi.

Setelah tiga kali orang itu berkata demikian, akhirnya Nabi saw bersabda, ”Baiklah, apabila engkau tulus dalam perkataanmu ini, maka bersiaplah menghadapi kefakiran yg akan menimpamu dari segala arah. Karena kefakiran akan datang dengan cepat kepada orang-orang yg mencintaiku sebagaimana air terjun yg mengalir.”

Hikmah yg terkandung :

Inilah alasan mengapa kebanyakan sahabat r.a hidup dalam kefakiran dan kemiskinan. Juga tokoh-tokoh haadits, para ahli Sufi, alim 'ulama, sebagian besar mereka tidak jauh berbeda dengan contoh diatas 

Kisah Shalat Pertama Sahabat r.a yang Meninggal Kehausan Demi Kepentingan Saudaranya

0 Comments

Sahabat r.a yang Meninggal Kehausan Demi Kepentingan Saudaranya

Abu Jahm bin Hudzaifah r.a meriwatkan, ”Ketika peperangan Yarmuk terjadi, saya pergi untuk mencari saudara sepupu saya yang ketika itu berada di baris terdepan pertempuran. Saya membawakan sedikit air untuknya. Akhirnya saya mendapati sepupuku dalam keadaan terluka parah, saya pun menghampirinya dan mencoba memberi pertolongan dengan sedikit air yang saya bawa.
Tiba-tiba saya mendengar rintihan tentara islam yang terluka parah di dekatnya. Sepupuku itu memandangnya lalu memberi isyarat kepadaku agar air itu diberikan kepadanya. Sayapun pergi mendekati tentara itu, dia adalah Hisyam bin Abil 'ash. Sebelum saya sampai ke tempatnya terdengar pula teriakan dari arah yang tidak jauh dari tempat dia terbaring. Hisyam pun segera memberi isyarat kepada saya agar memberikan air tersebut kepada orang itu, tetapi sebelum saya sampai kepadanya, orang itu telah menghembuskan nafas terakhir. Kemudian saya bergegas untuk kembali kepada Hisyam tetapi dia pun telah wafat. Cepat cepat saya menuju ke tempat sepupu saya, tetapi dia pun telah wafat. Innaaa lillaahi wa Innaa ilaihi raaji'uun.” Hikmah dari kisah di atas:

Masih banyak ksah-kisah seperti ini yang ditulis di dalam kitab-kitab Hadits, yang menjelaskan tentang ketinggian sifat para sahabat dimana mereka lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sehingga walapun ia sendiri dalam kehausan, tetapi masih memikirkan kepentingan saudaranya yg juga dalam kesulitan. Ini adalah suara hati yg terakhir setiap insan akan pergi (Meninggal Dunia) tetapi ia masih mau berkorban demi kepentingan saudaranya yg memerlukan. Semoga Allah swt dengan limpahan rahmat-Nya memberikan anugerah yg terbaik atas pengorbanan mereka. Amin... 

Kisah Shalat Pertama Pertanyaan Rasulullah SAW Kepada Sahabat Tentang Dua Jenis Manusia

0 Comments

Pertanyaan Rasulullah SAW Kepada Sahabat Tentang Dua Jenis Manusia

Suatu ketika, Rasulullah saw sedang duduk bersama beberapa orang sahabatnya. Kemudian seseorang berjalan didepan mereka. Nabi saw bertanya kepada mereka. ”Bagaimana pendapat kalian mengenai orang ini??”
Sahabat menjawab, ”Ya, Rasulullah, dia termasuk orang-orang yg mulia. Demi Allah, jika dia melamar seorang wanita, lamarannya pasti diterima. Jika dia melindungi seseorang, tentu perlindungannya disetujui.”
Mendengar jawaban mereka, Nabi saw hanya diam. Tidak lama kemudian, ada seorang lagu melintas didepan mereka. Rasulullah saw bertanya lagi tentang orang itu, Sahabat menjawab ”Ya, Rasulullah, dia seorang Islam yg miskin. Jika dia melamar seorang wanita, pasti lamarannya ditolak. Jika dia mengusulkan sesuatu, pasti tidak diterima. Jika dia berbicara, tidak akan ada orang yg mendengarnya.”

kemudian, Rasululllah bersabda ”Apabila seluruh dunia dipenuhi oleh orang yg seperti pertama tadi. maka orang kedua lebih baik dari mereka semua.

Hikmah yg terkandung :

Maksud dari kisah diatas adalah, hanya kemuliaan dunia saja tidak mendapat tempat apa-apa disisi Allah SWT. Seseorang yg miskin yg tidak mendapatkan tempat disisi siapapun, yg kata-katanya tidak didengar oleh orang lain, tetapi dia lebih mulia dalam pandangan Allah Swt. daripada ribuan bangsawan yg terhormat, yg kata-katanya mendapatkan tempat yg banyak didunia ini, setiap orang bersedia untuk mendengarkan dan menaatinya namun disisi Allah Swt dia tidak mendapat tempat apapun.

Berdirinya dunia ini adalah semata-mata karena keberkahan kekasih-kekasih Allah. Hal ini diterangkan langsung oleh hadits bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Pada hari dimana tidak tersisa satupun menusia yg menyebut nama Allah, maka kiamat akan terjadi, dan keberadaan manusia akan punah. Inilah keberkahan dari nama-nama Allah yg Maha Suci, yg dengannya seluruh aturan alam berdiri tegak..” 

Kisah Shalat Pertama SAID BIN JUBAIR R.A DAN HAJJAJ (Percakapan Yang Menyebabkan Syahidnya Said bin Jubair R.A

0 Comments

SAID BIN JUBAIR R.A DAN HAJJAJ (Percakapan Yang Menyebabkan Syahidnya Said bin Jubair R.A

Hajjaj Bin Yusuf adalah seorang gubernur yg terkenal sangat zhalim. Walapun pada masa ia berkuasa, ia sering menyebarkan agama, tetapi jika dibandingkan dengan gubernur yang adil dan beragama, ia termasuk gubernur yang zhalim. Orang-orang pun sangat berhati-hati terhadapnya.

Sa'id bin Jubair r.a dan Ibnu Asy'ats telah bergabung untuk bersama-sama menentang Hajjaj bin Yusuf. Hajjaj bin Yusuf adalah gubernur penasehat Raja Abd Malik bin Marwan. Sa'id bin Jubair adalah seorang Tabi'i dan ulama besar yang terkenal. Orang-orang bangsawan terutama Hajjaj sangat benci dan memusuhi Sa'id disebabkan perlawanan yang selalu dilakukannya, sehingga terjadilah peperangan diantara keduanya.

Di dalam peperangan itu, Hajjaj tidak berhasil menangkap Sa'id. Setelah mengalami kekalahan, diam-diam Sa'id pergi ke Makkah al Mukarromah.

Akhirnya pihak pemerintah mengirim seorang utusan khusus untuk ditugaskan sebagai Hakim di Makkah. Sebelum ditugaskan, Hakim tersebut telah dipanggil untuk menemui Hajjaj.

Setelah sampai di Makkah, Hakim yg baru langsung membacakan Khutbah di hadapan orang-orang dan diakhir Khutbahnya ia membacakan perintah gubernur Hajjaj bahwa barangsiapa yg melindungi Sa'id bin Jubair, maka ia berada dalam bahaya. Bahkan hakim itu telah bersumpah kepad dirinya bahwa jika ia menjumpai Sa'id di rumah seseorang, maka pemilik rumah itu wajib dibunuh. termasuk tetangganya dan orang yg mengetahui hal itu dan menyembunyikannya.

Singkat cerita, akhirnya Sa’id bin Jubair berhasil ditangkap di Makkah. Lalu ia dikirim menemui Hajjaj. Setelah tertawan, Hajjaj dapat menumpahkan semua kemarahannya kepadanya, bahkan ia dapat membunuhnya. Ketika Sa’id dipanggil kehadapannya, ia ditanya :
Hajjaj : ”Siapa namamu?”
Sa’id : ”Namaku Sa’id”
Hajjaj : ” Anak siapa?”
Sa’id : ”Anak Jubair.” (Sa’id artinya orang baik, Jubair artinya sesuatu yang sudah diperbaiki). Walaupun nama bukan hal utama, namun nama baik ini tidak disukai oleh Hajjaj. Ia berkata, ”Tidak namamu adalah Syaqi bin Kusair, (Syaqi artinya orang jahat, Kusair artinya sesuatu yang sudah pecah).
Sa’id : ”Ibuku lebih mengetahui namaku daripadamu.”
Hajjaj : ”Kamu orang jahat dan ibumu pun orang jahat.”
Sa’id : ”Ada yang lebih mengetahui hal yang ghaib selainmu.” (Yaitu Allah yang Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib).
Hajjaj : ”Lihatlah, kamu akan mati terpotong-potong (kusair, terpecah-pecah) olehku.”
Sa’id : ”Ibuku telah memberi nama dengan benar.”
Hajjaj : ”Sekarang aku akan tukar kehidupanmu dengan mengirimmu ke neraka.”
Sa’id : ”Jika aku tahu hal ini adalah usahamu, mungkin kamu akan disembah.”(maksudnya jika Hajjaj yang memiliki neraka, mungkin sudah sejak lama ia disembah orang)
Hajjaj : ”Bagaimana aqidahmu sebagai pengikut Rasulullah?”
Sa’id : ” Beliau adalah Nabi pembawa rahmat dan Rasulullah yang telah dikirim ke seluruh alam dengan nasehat yang sempurna.”
Hajjaj : ”Bagaimanakah pendapatmu tentang para khalifah?”
Sa’id : ” Itu bukan urusanku. Setiap orang mengetahui tanggung jawabnya masing-masing.”
Hajjaj : ”Apakah kau mengatakan tentang mereka baik atau buruk?”
Sa’id : ”Bagaimana aku mengatakan hal yang tidak aku ketahui? Aku hanya mengetahui tentang diriku.”
Hajjaj : ”Siapakah diantara mereka yang paling kamu sukai?”
Sa’id : ”Orang yang paling diridhai oleh Allah.” dalam sebagian kitab disebutkan, jawabannya adalah, ”Masing-masing akan terlihat jelas.”
Hajjaj : ”Siapakah yang paling diridhai Allah?”
Sa’id : ”Itu hanya diketahui oleh Yang Maha Memegang hati manusia dan Memiliki seluruh rahasia.”
Hajjaj : ”Apakah Ali berada di surga atau di neraka?”
Sa’id : ”Jika aku telah pergi ke surga dan neraka, lalu aku melihat isinya, maka aku baru dapat menjawabnya.”
Hajjaj : ”Pada hari kiamat, aku termasuk orang yang bagaimana?”
Sa’id : ”Aku tidak mengetahui tentang yang ghaib.”
Hajjaj : ”Kamu tidak jujur kepadaku.”
Sa’id : ”Aku tidak berbohong kepadamu.”
Hajjaj : ”Mengapa kamu tidak pernah tertawa?”
Sa’id : ”Tidak ada yang patut ditertawakan. Bagaimana mungkin manusia bisa tertawa sedangkan ia terbuat dari tanah. Dan kita akan dibangkitkan pada hari Kiamat, dan setiap siang malam kita selalu dalam fitnah dunia.”
Hajjaj : ”Kalau aku suka tertawa.”
Sa’id : ”Jika demikian, kita memang diciptakan dalam keadaan yang berbeda-beda.”
Hajjaj : ”Aku sekarang akan membunuhmu.”
Sa’id : ”Penyebab kematianku sudah tertulis sejak dulu.”
Hajjaj : ”Aku lebih dicintai oleh Allah daripadamu.”
Sa’id : ”Aku tidak mau mendahului Allah sebelum aku mengetahui derajatku sendiri. Allah-lah yang mengetahui hal-hal yang ghaib.”
Hajjaj : ”Mengapa aku tidak bisa memberanikan diri, padahal aku adalah termasuk raja-raja? Dan kamu termasuk golongan pembangkang yang melawan kekhalifahan.”
Sa’id : ”Aku tidak mau terpisah dari jamaah, aku tidak menyukai fitnah. Dan apa yang telah menjadi takdirku aku tidak mampu menolaknya.”
Hajjaj : ”Apa yang kami kumpulkan untuk Amirul Mukminin, bagaimana menurutmu?”
Sa’id : ”Aku tidak tahu apa yang kamu kumpulkan.”
Kemudian Hajjaj menyuruh pelayannya untuk mengambil emas, perak, pakaian, dan lain-lainnya, lalu harta itu diletakkan di hadapan Sa’id.
Sa’id : ”Ini adalah hal yang baik jika kamu tunaikan syarat-syaratnya
Hajjaj : ” Apa syarat-syaratnya?”
Sa’id : ” Syaratnya ialah belilah sesuatu dengan harta ini yang dapat memberikan keamanan pada hari kiamat, ketika semua manusia berada dalam kebingungan. Pada hari ketika ibu yang menyusui melupakan bayinya, pada hari ketika wanita hamil menjadi gugur kandungannya. Selain itu, seseorang tidak dapat memperoleh sesuatu yang lebih bernilai kecuali yang bermanfaat.”
Hajjaj : ”Apakah yang kami kumpulkan ini tidak baik?”
Sa’id : ”Kamu yang mengumpulkannya, tentu kamu yang mengetahui kebaikannya.”
Hajjaj : ”Apakah ada diantara benda itu yang kamu sukai?”
Sa’id : ”Apa yang disukai Allah, itulah yang aku sukai.”
Hajjaj : ”Binasalah kamu.”
Sa’id : ”Kebinasaan hanyalah bagi orang yang dijauhkan dari surga dan dilemparkan ke dalam neraka oleh Allah.”
Hajjaj gelisah, ”Katakanlah kepadaku, bagaimanakah caranya aku harus membunuhmu?”
Sa’id : ”Terserah dengan cara apapun yang kamu sukai.”
Hajjaj : ”Apakah aku harus mengampunimu?”
Sa’id : ”Ampunan adalah milik Allah swt. Ampunanmu tidak bermanfaat sedikitpun.”
Hajjaj (menyuruh algojonya), ”Bunuhlah dia.”


Kemudian Sa’id dibawa keluar oleh algojonya, dan Sa’id tertawa. Ketika perbuatan itu disampaikan kepada Hajjaj, maka Sa’id di panggil kembali untuk ditanya. ”Mengapa kamu tertawa?”
Sa’id : ”Aku mengagumi keputusan Allah dan aku tertawa karena kasih sayang-Nya kepadamu.”(maksudnya ia takjub atas keberanian Hajjaj kepada Allah, sedangkan Allah begitu pengasih kepada Hajjaj)
Hajjaj : ”Aku membunuh orang yang memecah belah kaum muslimin.”
Lalu Hajjaj menyuruh algojonya, ”Potonglah lehernya dihadapanku.”
Sa’id : ”Ijinkan aku shalat dua rakaat.”
Sa’id melaksanakan dua rakaat shalat, lalu menghadapkan mukanya ke arah kiblat, dan membaca,

”Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (Al-An’am:79)

Hajjaj : ”Palingkanlah wajahnya dari kiblat. Arahkan wajahnya ke kiblat orang-orang Nasrani, karena ia telah memecah belah kaum muslimin dan telah menimbulkan perselisihan di antara mereka.” wajah Sa’id pun dipalingkan dari kiblat. Lalu Sa’id membaca,

”Maka kemana pun kamu palingkan wajahmu, di situlah wajah Allah.” (Al-Baqarah:115)

Hajjaj : ”Telungkupkan wajahnya! Kita bertanggung jawab atas perbuatannya yang terlihat.”
Lalu Sa’id membaca,

”Darinya (tanah) Kami menjadikanmu, dan kepadanya kami akan mengembalikanmu, dan darinya kami akan mengeluarkanmu pada kali yang lain.” (Thaaha:55)

Hajjaj : ”Bunuh dia.”
Sa’id : ”Aku bersaksi atas perbuatan ini. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan-Nya. Wahai Hajjaj, ingatlah jika nanti pada hari kiamat, aku berjumpa denganmu, aku akan menuntutmu.” lalu Sa’id pun mati syahid. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun.
Setelah kematiannya, banyak darah mengalir dari tubuhnya, sehingga Hajjaj kaget. Hajjaj bertanya kepada tabibnya, jawab tabibnya, ”itu karena ketenangan hati Sa’id. Sedikitpun ia tidak takut menghadapi kematiannya, sehingga darahnya mengalir sesuai kadarnya. Berbeda dengan orang yang takut menghadapi kematian, darahnya membeku sebelum ia mati. 

Kisah Shalat Pertama Perlombaan Sedekah Umar Dan Abu Bakar R.A

0 Comments

Perlombaan Sedekah Umar Dan Abu Bakar R.A

Umar R.A meriwayatkan, “ Suatu ketika Rasullullah SAW memerintahkan untuk besedekah, waktu itu aku memiliki sedikit harta dan kekayaan. Aku merenung, setiap saat abu bakar membelanjakan lebih apa yang telah aku belanjakan. Aku berharap dengan Karunia Allah, semoga aku bisa membelanjakan hartaku dijalan Allah lebih darinya, Aku pulang kerumah dengan sangat gembira sambil membayangkan buah pikiran tadi. Segala yang ada dirumah, aku akan ambil setengahnya,

Rasullah SAW Bersabda, “ apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, Wahai Umar ?” Aku Menjawab, Ya ada yang aku tinggalkan, Wahai Rasullah SAW!”
Rasullah SAW Bertanya lagi, “ Seberapa banyak yang telah engkau tinggalkan ? “
Jawabku “ aku tinggalkan setengahnya. “


Tidak Beberapa lama kemudian abu bakar datang dengan membawa seluruh harta bendanya. Aku mengetahui bahwa Abu Bakar telah membawa seluruh harta Miliknya. Begitulah pembicaraan yang aku dengar antara Abu Bakar dan Rasullah SAW.

Rasullah SAW bertanya, “ apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, Wahai Abu bakar ?”
Jawab abu Bakar, “ aku meninggalkan Allah dan rasull-Nya Kepada Mereka ( Aku Tinggalkan dengan keberkahan nama Allah SWT, dan rasul-Nya serta keridhoan-Nya)

Umar R.A Berkata, “ Sejak Saat itu aku mengetahui bahwa sekali lagi aku tidak dapat melebihi Abu Bakar,” 

Kisah Shalat Pertama Hadiah Kepala Kambing Yang Berpindah Tangan Sehngga Kembali Ke Tangan Semula

0 Comments

Hadiah Kepala Kambing Yang Berpindah Tangan Sehngga Kembali Ke Tangan Semula

Ada yg meriwayatkan,, ”Seorang sahabat telah menerima hadiah berupa kepala kambing. Tetapi dia merasa tidak berhak menerima pemberian itu karena tetangga sebelahnya lebih memerlukan. Karena tetangganya itu mempunyai keluarga yang banyak. Lalu dia pun memberikan kepala kambing itu kepada tetangganya tersebut.

Ketika tetangganya menerima pemberian itu, maka ia pun teringat kepada tetangganya yang lebih memerlukan lagi. Begitulah seterusnya sehingga diketahui kepala kambing itu telah berpindah tangan tidak kurang dari tujuh rumah sampai akhirnya kembali ke tangan sahabat yang pertama kali menerimanya.”

Hikmah yg terkandung :

Dari peristiwa ini, kita dapat mengambil pelajaran bagaimana para sahabat yang berada dalam keadaan serba miskin, tetapi masih sanggup mengutamakan kepentingan saudaranya daripada kepentingan dirinya sendiri 

Kisah Shalat Pertama Seorang Anshar Manghancurkan Sebuah Bangunan

0 Comments

Seorang Anshar Manghancurkan Sebuah Bangunan

Pada suatu ketika, Rasulullah SAW. keluar dari tempat tinggal beliau dan berjalan melalui sebuah jalan di Madinah . Dalam perjalanan, beliau melihat sebuah bangunan kubah yang menjulang tinggi. Kemudian beliau, bertanya kepada para sahabatnya, “Bangunan apakah ini ?” Mereka meberitahukan bahwa itu adalah sebuah bangunan yang baru di buat oleh seorang sahabat Anshar. Mendengar hal itu, Rasulullah SAW hanya berdiam diri .

Pada waktu lainnya, datanglah sahabat Anshar yang telah membuat bangunan tersebut untuk menemui Rasulullah SAW. Ia mengucapkan salam kepada beliau, “Assalamu’alaikum.” Tetapi, Rasulullah SAW memalingkan wajahnya dari sahabat Anshar tersebut dan tidak menjawab salamnya. Dalam hatinya, sahabat Anshar tersebut berkata, “Mungkin salam saya ini tidak terdengar oleh beliau.” Kemudian, ia mengulangi ucapan salamnya itu. Tetapi, lagi-lagi Rasulullah SAW tidak menghiraukannya dan tidak mau menjawab salamnya. Sahabat tersebut sangat heran mengapa Rasulullah SAW tidak mau melayaninya. Akhirnya ia mencoba bertanya kepada para sahabat yang berada di sekitarnya, mengapa Rasulullah SAW bersikap demikian terhadap dirinya.

Kemudian, mereka pun menceritakan kisahnya bahwa pada suatu hari, Rasulullah SAW keluar berjalan-jalan. Di tengah perjalanan, beliau melihat bangunan kubah yang sedang ia bangun. Kemudian, beliau bertanya kepada kami milik siapakah bangunan tersebut. Mendengar keterangan ini, tanpa membuang waktu lagi, ia langsung pergi ke tempat bangunan yang baru saja dibangun tersebut, kemudian ia segera menghancurkannya dan meratakannya hingga rata dengan tanah, tanpa meninggalkan bekas. Mengenai perbuatannya ini, ia tidak memberitahukannya kepada Rasulullah s.a.w. .

Kebetulan, pada suatu ketika, Rasulullah SAW kembali berjalan melalui tempat tersebut. Ketika beliau melihat ke tempat kubah yang dahulu dibangun, ternyata bangunan tersebut sudah tidak nampak lagi, lantas beliau bertanya, “Ke manakah bangunan berkubah yang dahulu telah saya lihat?” Para sahabat memberitahu bahwa setelah beberapa hari yang lalu Rasulullah SAW tidak menghiraukan kunjungan dan salam pemiliki bangunan kubah tersebut, maka setelah mengetahui alasannya, sahabat Anshar tersebut segera menghancurkan bangunan miliknya yang telah menyebabkan Rasulullah SAW merasa tidak begitu senang.

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap rumah atau gedung itu mempunyai bencana, kecuali gedung yang dibangun untuk sangat diperlukan dan dalam keadaan yang sangat terpaksa . 

Kisah Shalat Pertama Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Sewadah Madu

0 Comments

Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Sewadah Madu

Umar bin Abdul Aziz merupakan Khalifah yang memimpin pemerintahan Islam selepas masa Khulafatur Rasyidin berakhir. Dia masih memiliki hubungan dengan Khalifah Umar bin Khattab dan mewarisi beberapa sifat dari pemimpin kedua setelah Rasulullah meninggal itu.

Umar bin Abdul Aziz merupakan sosok yang sangat amanah dalam menjalankan tugasnya. Dia pun bahkan tidak mau menggunakan fasilitas negara untuk memenuhi kebutuhannya di luar tugas.

Suatu waktu, Umar ingin sekali makan roti dengan madu, karena sangat menyukai penganan yang berasal dari lebah itu. Dia lalu meminta kepada istrinya.

Tetapi, saat itu istrinya tidak memiliki madu sama sekali karena persediaannya habis. Sang istri kemudian menyuruh pembantu untuk membeli madu.

Istrinya lalu memberikan madu itu dan Umar sangat menyukainya. Tetapi, dia lantas bertanya, ”Dari mana kau dapatkan madu ini?”

”Aku menyuruh dua orang pembantu membeli madu itu dengan mengendarai hewan kendaraan pos yang biasa dipakai untuk mengantar surat,” jawab sang istri.

Mendengar perkataan itu, Umar berkata, ”Aku bersumpah, mengapa kau memberiku madu dengan memanfaatkan sarana milik kaum Muslim? Kau telah membuat hewan itu lelah hanya untuk memenuhi hasratku yang menginginkan madu. ”

Sang istri kemudian memberikan wadah sisa madu yang belum dikonsumsi kepada Umar. Dia lalu menjual sisa madu itu dan menyerahkan uang hasil penjualan itu kepada Baitul Maal. 

Kisah Shalat Pertama Kisah Siti Aisyah Binti Abu Bakar RA - Isteri Kesayangan Nabi Muhammad SAW

0 Comments

Kisah Siti Aisyah Binti Abu Bakar RA - Isteri Kesayangan Nabi Muhammad SAW

Rasulullah SAW membuka lembaran kehidupan rumah tangganya dengan Aisyah r.a yang telah banyak dikenal. Ketika wahyu datang pada Rasulullah SAW, Jibril membawa kabar bahwa Aisyah adalah istrinya didunia dan diakhirat, sebagaimana diterangkan didalam hadits riwayat Tirmidzi dari Aisyah r.a. Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutra hijau kepada Nabi SAW, lalu berkata.’ Ini adalah istrimu didunia dan di akhirat.” Dialah yang menjadi sebab atas turunnya firman Allah SWT yang menerangkan kesuciannya dan membebaskannya dari fitnah orang-orang munafik.

Aisyah dilahirkan empat tahun sesudah Nabi SAW diutus menjadi Rasul. Semasa kecil dia bermain-main dengan lincah, dan ketika dinikahi Rasulullah SAW usianya belum genap sepuluh tahun (terdapat beberapa riwayat mengenai usia Aisyah ketika di nikahi Rasulullah). Dalam sebagian besar riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW membiarkannya bermain-main dengan teman-temannya.

Dua tahun setelah wafatnya Khadijah r.a datang wahyu kepada Nabi SAW untuk menikahi Aisyah r.a. Setelah itu Nabi SAW berkata kepada Aisyah, ” Aku melihatmu dalam tidurku tiga malam berturut-turut. Malaikat mendatangiku dengan membawa gambarmu pada selembar sutra seraya berkata,’ Ini adalah istrimu.’ Ketika aku membuka tabirnya, tampaklah wajahmu. Kemudian aku berkata kepadanya,’ Jika ini benar dari Allah SWT , niscaya akan terlaksana.”

Mendengar kabar itu, Abu Bakar dan istrinya sangat senang, terlebih lagi ketika Rasulullah SAW setuju menikahi putri mereka, Aisyah. Beliau mendatangi rumah mereka dan berlangsunglah pertunangan yang penuh berkah itu. Setelah pertunangan itu, Rasulullah SAW hijrah ke Madinah bersama para sahabat, sementara istri-istri beliau ditinggalkan di Makkah. Setelah beliau menetap di Madinah, beliau mengutus orang untuk menjemput mereka, termasuk didalamnya Aisyah r.a.

Dengan izin Allah SWT menikahlah Aisyah dengan mas kawin 500 dirham. Aisyah tinggal dikamar yang berdampingan dengan masjid Nabawi. Dikamar itulah wahyu banyak turun, sehingga kamar itu disebut juga sebagai tempat turunnya wahyu. Dihati Rasulullah SAW, kedudukan Aisyah sangat istimewa, dan tidak dialami oleh istri-istri beliau yang lain. Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dikatakan, ” Cinta pertama yang terjadi didalam Islam adalah cintanya Rasulullah SAW kepada Aisyah r.a.”

Di dalam riwayat Tirmidzi dikisahkan “Bahwa ada seseorang yang menghina Aisyah dihadapan Ammar bin Yasir sehingga Ammar berseru kepadanya,’ Sungguh celaka kamu. Kamu telah menyakiti istri kecintaan Rasulullah SAW.” Sekalipun perasaan cemburu istri-istri Rasulullah SAW terhadap Aisyah sangat besar, mereka tetap menghargai kedudukan Aisyah yang sangat terhormat. Bahkan ketika Aisyah wafat, Ummu Salamah berkata, ‘Demi Allah SWT, dia adalah manusia yang paling beliau cintai selain ayahnya (Abu Bakar)’.

Di antara isteri-isteri Rasulullah SAW, Saudah bin Zum`ah sangat memahami keutamaan-keutamaan Aisyah, sehingga dia merelakan seluruh malam bagiannya untuk Aisyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Aisyah sangat memperhatikan sesuatu yang menjadikan Rasulullah SAW rela. Dia menjaga agar jangan sampai beliau menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan darinya. Karena itu, salah satunya, dia senantiasa mengenakan pakaian yang bagus dan selalu berhias untuk Rasulullah SAW. Menjelang wafat, Rasulullah SAWmeminta izin kepada istri-istrinya untuk beristirahat dirumah Aisyah selama sakitnya hingga wafat. Dalam hal ini Aisyah berkata, “Merupakan kenikmatan bagiku karena Rasulullah SAW wafat dipangkuanku.” Bagi Aisyah, menetapnya Rasulullah SAW selama sakit dikamarnya merupakan kehormatan yang sangat besar karena dia dapat merawat beliau hingga akhir hayat.

Rasulullah SAW dikuburkan dikamar Aisyah, tepat ditempat beliau meninggal. Sementara itu, dalam tidurnya, Aisyah melihat tiga buah bulan jatuh ke kamarnya. Ketika dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, Abu Bakar berkata, “Jika yang engkau lihat itu benar, maka dirumahmu akan dikuburkan tiga orang yang paling mulia dimuka bumi.” Ketika Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar berkata, “Beliau adalah orang yang paling mulia diantara ketiga bulanmu.” Ternyata Abu Bakar dan Umar dikubur dirumah Aisyah.

Setelah Rasulullah SAW wafat, Aisyah senantiasa dihadapkan pada cobaan yang sangat berat, namun dia menghadapinya dengan hati yang sabar, penuh kerelaan terhadap taqdir Allah SWT dan selalu berdiam diri didalam rumah semata-mata untuk taat kepada Allah SWT. Rumah Aisyah senantiasa dikunjungi orang-orang dari segala penjuru untuk menimba ilmu atau untuk berziarah kemakam Nabi SAW. Ketika istri-istri Nabi SAW hendak mengutus Ustman menghadap khalifah Abu Bakar untuk menanyakan harta warisan Nabi SAW yang merupakan bagian mereka, Aisyah justru berkata, “Bukankah Rasulullah SAW telah berkata, ”Kami para nabi tidak meninggalkan harta warisan. Apa yang kami tinggalkan itu adalah sedekah.”

Dalam penetapan hukum pun, Aisyah kerap langsung menemui wanita-wanita yang melanggar syariat Islam. Didalam Thabaqat, Ibnu Saad mengatakan bahwa Hafshah binti Abdirrahman menemui Ummul Mukminin Aisyah r.a. Ketika itu Hafshah mengenakan kerudung tipis. Secepat kilat Aisyah menarik kerudung tersebut dan menggantinya dengan kerudung yang tebal. Aisyah tidak pernah mempermudah hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya dari Al Qur`an dan Sunnah.

Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW sehingga banyak menyaksikan turunnya wahyu kepada beliau. Aisyah pun memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah SAW jika menemukan sesuatu yang belum dia pahami tentang suatu ayat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ia memperoleh ilmu langsung dari Rasulullah SAW.

Aisyah termasuk wanita yang banyak menghapalkan hadits-hadits Nabi SAW, sehingga para ahli hadits menempatkan dia pada urutan kelima dari para penghapal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik dan Ibnu Abbas.

Dalam hidupnya yang penuh dengan jihad, Sayyidah Aisyah wafat pada usia 66 th, bertepatan dengan bulan Ramadhan,th ke-58 H, dan dikuburkan di Baqi`. Kehidupan Aisyah penuh dengan kemuliaan, kezuhudan, ketawadhuan, pengabdian sepenuhnya kepada Rasulullah SAW, selalu beribadah serta senantiasa melaksanakan shalat malam. Selain itu, Aisyah banyak mengeluarkan sedekah sehingga didalam rumahnya tidak akan ditemukan uang satu dirham atau satu dinar pun. Dimana sabda Rasul, “Berjaga dirilah engkau dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma.” (HR. Ahmad )iahkan anak di PTN 

Kisah Shalat Pertama Kisah Rasulullah Mencoret Kata Shulhul Hudaibiyah

0 Comments

Kisah Rasulullah Mencoret Kata Shulhul Hudaibiyah

Sepotong sejarah penting dari banyak kisah perjalanan Islam periode awal adalah perjanjian hudaibiyah. Peristiwa ini tidak hanya menggambarkan ketegangan militer antara umat Islam dan musyrikin Quraisy tapi juga jejak diplomasi Rasulullah SAW.

Kesepakatan yang juga dikenal dengan sebutan ”shulhul hudaibiyah” tersebut bermula dari rencana sekitar 1400 pengikut Rasulullah untuk menunaikan ibadah haji. Kaum musyirikin tidak rela. Mereka berupaya menghalangi pintu masuk kota Makkah dengan kekuatan militer yang cukup besar.

Rasulullah yang tidak menginginkan peperangan pun lantas mengambil jalur perundingan. Hasilnya, pada bulan Maret 628 M atau Dzulqaidah 6 H, perjanjian hudaibiyah diputuskan, di antaranya menyepakati adanya gencatan senjata dan kesempatan beribadah umat Islam di Makkah.

Hanya saja, perundingan ini sempat berlangsung alot dan cenderung merugikan umat Islam. Contohnya, muncul penolakan-penolakan terkait dengan sebagian redaksi pembuka perjanjian yang diusulkan Rasulullah, sebagaimana diterangkan dalam kitab Hayatus Shahabat.

”Tulislah bismillahirrahmanirrahim (atas nama Allah yang maha rahman lagi maha rahim),” perintah Nabi kepada juru tulisnya, Ali bin Abi Thalib.

”Ar-Rahman? Aku tak mengenal dia,” sahut perwakilan musyrikin Quraisy, Suhail bin Amr, memberontak. ”Tulis saja bismika allahumma seperti biasanya!”

Umat Islam yang mengikuti proses perundingan tidak terima dengan protes ini. Mereka mengotot akan tetap mencantumkan lima kata yang sangat dihormati itu (bi, ism, allah, ar-rahman, ar-rahim).

”Tulis saja bismika allahumma,” Nabi menenangkan.

Nabi kemudian menyambung, ”Tulis lagi, hadza ma qadla ’alaih muhammad rasulullah (Inilah ketetapan Muhammad rasulullah).”

”Sumpah, seandainya kami mengakui Engkau adalah rasulullah (utusan Allah), kami tak akan menghalangimu mengunjungi Ka’bah. Jadi tulis saja Muhammad bin Abdullah,” Suhail kembali memprotes.

”Sungguh aku adalah rasulullah meskipun Kalian mengingkarinya.” Akhirnya Nabi mengabulkan tuntutan musyrikin Quraisy untuk mencoret dua kata lagi, rasul dan allah. ”Tulislah Muhammad bin Abdullah saja,” pintanya kemudian.

Menghindari pertikaian dan pertumpahan darah adalah sikap yang dijunjung tinggi Rasulullah. Perdamaian menjadi prioritas tujuan, meski isi kesapakatan ”mengurangi” kebesaran nama agama pada tataran simbolis.

Penggalan sejarah ini megingatkan kita pada sejarah penyusunan asas Pancasila. Demi persatuan dan kerukunan bangsa Indonesia, Piagam Jakarta yang memuat butir sila pertama ”Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” akhirnya diubah. Mayoritas ulama dan umat Islam Tanah Air menyepakati pencoretan tujuh kata dalam butir itu sehingga menjadi ”Ketuhanan Yang Maha Esa” 

Kisah Shalat Pertama Kisah Peletakan Hajar Aswad

0 Comments

Kisah Peletakan Hajar Aswad

Semasa Rasulullah Muhammad SAW belum diangkat sebagai Rasul bagi seluruh alam, Beliau telah terkenal sebagai seorang yang sangat jujur, berlatarbelakang keluarga terhormat dan memiliki kelebihan mampu meredam pertikaian antar suku (kampung). Sehingga beberapa kali Muhammad muda dipercayai memberikan keputusan-keputusan krusial menyangkut kepentingan bersama.

Salah satu contoh paling populer tentang keberhasilan Nabi SAW menyelesaikan sengketa di antara kaumnya sebelum Beliau dimusuhi karena menyebarkan ajaran Islam adalah ketika terjadi peristiwa renovasi Ka’bah.

Kala itu, masyarakat Makkah merenovasi Ka’bah setelah musibah banjir yang menenggelamkan kota, termasuk bangunan Ka’bah. Kondisi ini memanggil mengundang orang-orang Quraisy harus membangun Ka’bah kembali demi menjaga kehormatan dan kesucian situs peninggalan leluhur mereka, Ibrahim AS yang tetap dijaga kelestariannya.

Menurut riwayat yang paling shahih, ketika itu Nabi berusia 35 tahun. Aktif terlibat dalam pembangunan dari awal hingga akhir. Pada awalnya, mereka bersatu padu, saling bahu membahu di antara mereka. Namun ketika pembangunan memasuki tahap-tahap akhir, yakni prosesi peletakan Hajar Aswad.

Mereka mulai berselisih pendapat, Siapakah tokoh di antara mereka yang layak mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad sebagai tanda peresmian penyelesaian renovasi dan mulai dapat digunakan kembali. Banyak pendapat bermunculan dan saling simpang siur. Masing-masing saling ingin mengedepankan pemimpin kelompoknya sendiri.

Hingga akhirnya Muhammad, Suami Khadijah ini mengajukan usul, ”Siapa pun yang besok pagi datang paling awal ke tempat pembangunan (renovasi) maka dialah yang berhak atas kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad.” Masyarakat pun menyetujuinya, mereka yakin ini adalah jalan terbaik bagi mereka.

Keesokan harinya, ternyata yang datang paling pagi, paling awal adalah Muhammad sendiri, maka Beliaulah yang berhak meletakkan hajar aswad sebagai tanda peresmian Ka’bah kembali. Namun Rupanya Muhammad bukanlah seorang yang egois. Ia kemudian membentangkan sorbannya menaruh hajar aswad di atasnya dan mengajak beberapa tokoh lain untuk turut serta meletakkan hajar aswad bersama-sama. Maka puaslah mereka atas keputusan Muhammad tersebut. Demikian tersebut dalam kitab Nurul Yaqin fi Siroti Sayyidil Mursalin. 

Kisah Shalat Pertama Sayyidina Ali dan Seorang Tua Nasrani

0 Comments

Sayyidina Ali dan Seorang Tua Nasrani

Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap pagi dan sore Allah SWT selalu memandang wajah orang yang sudah tua, kemudian Allah SWT berfirman: Wahai hamba-Ku, semakin tua usiamu, semakin keriput kulitmu, semakin lemah tulangmu, semakin dekat ajalmu, semakin dekat pula engkau bertemu dengan-Ku. Malulah karena-Ku, karena Aku pun malu melihat ketuaanmu, dan Aku pun malu menyiksamu di dalam neraka.

Dikisahkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali sedang tergesa-gesa berjalan menuju masjid untuk melakukan jamaah shubuh. Akan tetapi dalam perjalanan di depan beliau ada seorang kakek tua yang berjalan dengan tenang. Kemudian Sayyidina Ali memperlambat langkah kaki tidak mendahuluinya karena memuliakan dan menghormati kakek tua tersebut. Hingga hampir mendekati waktu terbit matahari barulah beliau sampai dekat pintu masjid. Dan ternyata kakek tua tersebut berjalan terus tidak masuk ke dalam masjid, yang kemudian Sayyidina Ali akhirnya mengetahui bahwa kakek tua tersebut adalah seorang Nasrani.

Pada saat Sayyidina Ali masuk ke dalam masjid beliau melihat Rasulullah SAW beserta jamaah sedang dalam keadaan ruku'. (Sebagaimana diketahui bahwa ikut serta ruku' bersama dengan imam berarti masih mendapatkan satu rakaat). Rasulullah SAW waktu itu memanjangkan waktu ruku'nya hingga kira-kira dua ruku'. Kemudian Sayyidina Ali ber-takbiratul ihram dan langsung ikut serta ruku'.

Setelah selesai shalat para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah tidak biasanya engkau ruku' selama ini, ada apakah gerangan? Beliau menjawab: Pada waktu aku telah selesai ruku' dan hendak bangkit dari ruku' tiba-tiba datang malaikat Jibril AS meletakkan sayapnya di atas punggungku, sehingga aku tidak bisa bangkit dari ruku'. Para sahabatpun bertanya: Mengapa terjadi demikian? Beliau menjawab: Aku sendiri pun tidak tahu.

Kemudian datanglah malaikat Jibril AS dan berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali waktu itu sedang bergegas menuju masjid untuk jama'ah shubuh, dan di perjalanan ada seorang kakek tua Nasrani berjalan di depannya, Ali pun tidak mengetahui kakek tua itu beragama Nasrani. Ali tidak mau mendahuluinya karena dia sangat menghormati dan memuliakan kakek tua tersebut. Kemudian aku diperintah oleh Allah SWT untuk menahanmu saat ruku' sampai Ali datang dan tidak terlambat mengikuti jama'ah shubuh. Selain itu Allah SWT juga memerintah malaikat Mikail untuk menahan matahari menggunakan sayapnya hingga matahari tidak bersinar sampai jama'ah selesai.

Demikianlah hikmah kisah teladan Sayyidina Ali yang sangat menghormati dan memuliakan orang yang tua walaupun beragama Nasrani. Semoga bermanfaat bagi kita semua. 
 
back to top