Monday, February 4, 2019

Kisah Nabi dan Sahabat Pembunuh Cucu Rasul Kepada Dipenggal

0 Comments

Pembunuh Cucu Rasul Kepada Dipenggal

Beginilah nasib orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan cucu Rasulullah SAW, Sayyidina Imam Husein r.a di Padang Karbala. Mereka mendapatkan azab dari Allah SWT dan salah satunya adalah orang yang bernama Umar bin Saad. Umar mati mengenaskan dengan kepala terpenggal.

Umar bin Saad adalah seorang panglima perang pasukan Yazid bin Muawiyah yang gagah berani. Pada suatu hari ia terlibat negosiasi dengan orang suruhan Yazid bin Muawiyyah. Ia ditawari untuk membunuh Imam Husein di Karbala dan sebagai imbalan, maka dia akan mendapatkan kursi gubernur di Ray.

”Apakah aku akan pergi ke Karbala dan membunuh Imam Husein? Jika aku lakukan maka aku akan mendapat kekuasaan dan harta. Akan tetapi di akhirat nanti aku akan mendapatkan neraka jahanam dan siksa Allah SWT. Adapun jika aku tak pergi, maka bagiku akhirat, kemuliaan surga, keridhaan Allah, namun aku tidak mendapatkan dunia.”

Seolah rasa cinta terhadap dunia merasuk di dalam diri Umar bin Saad. ”Di sana ada akhirat, sekarang aku akan ke Karbala dan membunuh Imam Husein lalu kembali ke Ray dan memegang kekuasaan di sana dan setelah itu aku bertobat,” pikir Saad.

Saat sedang bertempur, Umar bin Saad juga sempat berdialog dengan Imam Husein. ”Aku ingin memerintah di Ray,” kata Umar bin Saad. ”Aku harap engkau tidak makan gandum dari daerah Ray karena mereka akan memenggal kepalamu di tempat tidurmu,” nasehat Imam Husein kepada Umar bin Saad.

Pembantaian di Karbala telah berakhir dan Umar bin Saad ikut membantu pembunuhan cucu Rasulullah SAW tersebut. Dan setelah membunuh Imam Husein, Umar melapor kepada Ibnu Ziyad. ”Aku telah siap berangkat ke Ray,” kata Umar. ”Aku telah mendengar bahwa engkau telah melakukan pertemuan khusus dengan Imam Husein. Apa pentingnya pertemuan itu?” tanya Ibnu Ziyad. ”Itu tidak penting, yang terpenting aku telah membunuh Imam Husein,” jawab Umar.

Ibnu Ziyd tidak mempedulikan hal itu. Ia mengambil surat perjanjian mengenai kekuasaan di Ray dan merobek-robek serta membuangnya. Betapa kagetnya hati Umar, seakan tidak percaya. ”Wahai Ibnu Ziyad, engkau telah menghancurkanku,” kata Umar.

Setelah kejadian itu, Umar tampak menjadi gila hingga setiap dia berjalan di kota selalu dilempari batu oleh anak-anak.

Pada saat terjadi pergantian pemimpin dari Muawiyah ke tangan Mukhtar, terjadilah pembersihan pelaku pembantaian di Karbala. Mukhtar menyuruh anak buahnya untuk memburu para pelaku pembantaian.

Mukhtar berkata, ”Bawa Umar ke hadapanku, kalian harus berhati-hati. Jika Umar berkata akan mengambil baju, sungguh dia akan menipumu, maka bunuhlah dia di sana juga.”

Maka berangkatlah para pembantu Mukhtar itu dan berhasil menemukan tempat tinggal Umar. Pada saat itu Umar sedang tidur. Pada saat hendak akan dibawa menghadap kepada Mukhtar, Umar beralasan hendak mengambil baju. Tak pelak lagi, dipenggalah kepala Umar di tempat itu juga. Umar meninggal dengan tragis dan tidak sempat menjadi gubernur seperti yang telah dijanjikan oleh Ibnu Ziyad.

Begitulah sahabat, nasib dari seorang pengkhianat, nasib seornag yang telah membunuh cucu Rasulullah SAW. 

Kisah Nabi dan Sahabat Wanita Pertama Penghuni Surga

0 Comments

Wanita Pertama Penghuni Surga

Wanita Pertama Penghuni Surga bukanlah putri seorang nabi, melainkan Dialah Mutiah. Mengapa bisa demikian? Siti Fatimah Putri Rasul pun sangat penasaran dibutanya.

Suatu hari putri Nabi SAW. Fatimah Az Zahra ra bertanya kepada Rasulullah SAW, siapakah wanita pertama yang memasuki surga setelah Ummahatul Mukminin setelah istri-istri Nabi SAW? Rasulullah bersabda : Dialah Mutiah.

Berhari-hari Fatimah Az Zahra berkeliling kota Madinah untuk mencari tahu keberadaan siapa Mutiah itu dan dimana wanita yang dikatakan oleh Nabi SAW itu tinggal. Alhamdulillah dari informasi yang didapatkannya, Fatimah mengetahui keberadaan dan tempat tinggal Mutiah di pinggiran kota Madinah.

Atas ijin suaminya Ali bin Abi Thalib, maka Fatimah Az Zahra dengan mengajak Hasan putranya untuk bersilaturahmi ke rumah Mutiah pada pagi hari. Sesampainya di rumah Mutiah, maka Fatimah yang sudah tidak sabar segera mengetuk pintu rumah Mutiah dengan mengucapkan salam.

“Assalaamualaikum ya ahlil bait”. Dari dalam rumah terdengar jawaban seorang wanita, “Waalaikassalaam … siapakah diluar?” lanjutnya bertanya. Fatimah menjawab, “Saya Fatimah putri Muhammad SAW.” Mutiah menjawab, “Alhamdulillah, hari ini rumahku dikunjungi putri Nabi junjungan alam semesta.”

Segera Mutiah membuka sedikit pintu rumahnya, dan ketika Mutiah melihat Fatimah membawa putra laki-lakinya yang masih kecil (dalam riwayat masih berumur 5 tahun). Maka Mutiah kembali menutup pintu rumahnya kembali, terkagetlah Fatimah dan bertanyalah putri Nabi SAW kepada Mutiah dari balik pintu.

“Ada apa gerangan wahai Mutiah? Kenapa engkau menutup kembali pintu rumahmu? Apakah engkau tidak mengijinkan aku untuk mengunjungi dan bersilaturahim kepadamu?”

Mutiah dari balik pintu rumahnya menjawab, “Wahai putri Nabi, bukannya aku tidak mau menerimamu di rumahku. Akan tetapi keberadaanmu bersama dengan anak laki-lakimu Hasan, yang menurut ajaran Rasulullah tidak membolehkan seorang istri untuk memasukkan laki-laki ke rumahnya ketika suaminya tidak ada di rumah dan tanpa ijin suaminya. Walaupun anakmu Hasan masih kecil, tetapi aku belum meminta ijin kepada suamiku dan suamiku saat ini tidak berada dirumah. Kembalilah besok biar aku nanti meminta ijin terlebih dahulu kepada suamiku.”

Tersentaklah Fatimah Az-Zahra mendengarkan kata-kata wanita mulia ini, bahwa argumentasi Mutiah memang benar seperti yang diajarkan ayahnya Rasulullah SAW. Akhirnya Fatimah pulang dengan hati yang bergejolak dan merencanakan akan kembali besok hari.

Pada hari berikutnya ketika Fatimah akan berangkat ke rumah Mutiah, Husein adik Hasan rewel tidak mau ditinggal dan merengek minta ikut ibunya. Hingga akhirnya Fatimah mengajak kedua putranya Hasan dan Husein. Dengan berpikir bahwa Mutiah sudah meminta ijin kepada suaminya atas keberadaannya dengan membawa Hasan, sehingga kalau dia membawa Husein sekaligus maka hal itu sudah termasuk ijin yang diberikan kepada Hasan karena Husein berusia lebih kecil dan adik dari Hasan.

Namun ketika berada didepan rumah Mutiah, maka kejadian pada hari pertama terulang kembali. Mutiah mengatakan bahwa ijin yang diberikan oleh suaminya hanya untuk Hasan, akan tetapi untuk Husein Mutiah belum meminta ijin suaminya.

Semakin galau hati Fatimah, memikirkan begitu mulianya wanita ini menjunjung tinggi ajaran Rasulullah SAW. dan begitu tunduk dan tawaddu kepada suaminya.

Pada hari yang ketiga, kembali Fatimah bersama kedua anaknya datang ke rumah Mutiah pada sore hari. Namun kembali Fatimah mendapati kejadian yang mencengangkan, dia terkagum. Mutiah didapati sedang berdandan sangat rapi dan menggunakan pakaian terbaik yang dipunyai dengan bau yang harum, sehingga Mutiah terlihat sangat mempesona. 

Kisah Nabi dan Sahabat Ali bin Abu Thalib Dan Orang Yahudi

0 Comments

Ali bin Abu Thalib Dan Orang Yahudi

Pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abu Thalib, beliau pernah kehilangan baju besinya yang terjatuh dari kuda miliknya. Setelah dicari kemana-mana, ternyata baju besi itu sudah berada di tangan seorang yahudi. Akan tetapi, setelah diminta, orang yahudi itu tetap mempertahankan baju besi tersebut dan mengakuinya sebagai miliknya sendiri.

Meski Ali bin Abu Thalib pada saat itu sebagai orang nomor satu kaum muslimin, namun tidak begitu saja mengambil paksa baju besi miliknya yang hilang. Beliau di situ sebagai penuntut dan disuruh menyiapkan 2 orang saksi. Hakim pun menyuruhnya demikian.

Akhirnya beliaupun menyiapkan 2 orang saksi yaitu seorang pembantunya dan Hasan, anaknya sendiri. Akan tetapi hakim hanya dapat menerima kesaksian dari pembantu Ali, dan tidak dapat menerima kesaksian dari Hasan karena adanya hubungan dekat dengan Khalifah Ali r.a, yaitu antara anak dengan orang tua.

Maka, hakim akhirnya memutuskan bahwa orang yahudi tersebut memenangkan perkara tersebut. Dan Khalifah Ali r.a pun menerima dengan lapang dada apa yang telah menjadi keputusan dari hakim tersebut.

Dalam kasus tersebut, apa yang dilakukan oleh hakim dan Khalifah Ali r.a sebagai pemimpin negara menunjukkan betapa mulianya ajaran Islam dalam masalah hukum dan keadilan. Dalam islam, keadilan tidak boleh memandang hubungan kekerabatan maupun agama.

Begitu juga dengan Allah SWT, Dia akan menghukum siapa saja tanpa pandang bulu, seandainya orang tersebut memang benar-benar bersalah. Allah SWT tidak memandang pangkat, rupa dan status sosial seseorang, tetapi Allah SWT melihat seseorang itu dari bagaimana perbuatan yang telah dialkukan selama hidup di dunia.

Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya orang yahudi tersebut mengakui bahwa baju besi itu memang kepunyaan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang ditemukannya di jalan. Setelah melapor kepada Sang Khalifah, baju besi tersebut akhirnya dikembalikan sekaligus orang yahudi tersebut menyatakan diri masuk Islam. 

Kisah Nabi dan Sahabat Pohon Bersujud Pada Rasulullah

0 Comments

Pohon Bersujud Pada Rasulullah

Sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul terakhir, beliau ini dulunya sering diajak berdagang oleh pamannya, Abu Thalib. Pada suatu hari Abu Thalib pergi ke Syam untuk berdagang, diajak pulalah Muhammad yang masih berusia muda dan beberapa pemuka Quraisy lain.

Dalam perjalanan, pada saat di suatu tempat, mereka singgah di sebuah rumah rahib untuk beristirahat. Sang rahib menerima tamunya dengan suka cita. Setelah meletakkan perbekalan, rahib keluar untuk menemui mereka.

Sang rahib menuju tamunya, diamati satu persatu dan tepat di hadapan Muhammad SAW rahib tersebut berhenti sejenak lalu memegang tangannya sambil berkata,
”Inilah penghulu alam semesta, inilah utusan Rabb alam semesta, dia diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi alam semesta.”
”Apa yang Anda ketahui tentang hal ini?” tanya Abu Thalib.
Sang rahib menjawab, ”Sesungguhnya ketika kalian muncul dan naik bebukitan, tidak ada satupun dari bebatuan dan pohon-pohon melainkan bersujud kepadanya dan mereka tidak akan bersujud kecuali kepada seorang Nabi. Dialah Nabi yang lama dinanti.”

”Apa artinya semua itu?” tanya orang Quraisy yang ada di dalam pendopo. ”Sesungguhnya aku dapat mengetahuinya melalui tanda kenabian yang terletak pada bagian bawah tulang rawan di pundaknya yang mirip buah apel,” kata sang Rahib.

Sang rahib pun membuatkan makanan buat perbekalan mereka. Setelah itu, Nabi Muhammad SAW pun dipanggil untuk menemui si rahib. Saat itu pula, ketika Rasulullah SAW berjalan, tiba-tiba saja awan menaungi beliau. Rahib pun semakin yakin dengan kenabian Muhammad SAW.

Ketika Muhammad berjalan selain dinaungi awan, pohon yang sebelumnya menaungi orang Quraisy di tempat duduknya, tiba-tiba saja pohon-pohon itu beralih menaungi Muhammad. Semua dibuat takjub dengan apa yang terjadi.

”Lihatlah, naungan pohon ini pinda kepadanya,” kata si rahib.
”Bukankah ini suatu mukjizat dan bukan sihir?” kata rahib lebih lanjut. 

Kisah Nabi dan Sahabat Dialog Malaikat Jibril Dan Rasulullah Tentang Neraka

0 Comments

Dialog Malaikat Jibril Dan Rasulullah Tentang Neraka

Nabi Muhammad SAW suatu ketika didatangi oleh Malaikat Jibril yang akan menurunkan wahyu dari Allah SWT mengenai neraka dan pintu-pintunya. Rasulullah SAW kemudian meminta Malaikat Jibril untuk menyebutkan golongan umat yang kelak akan melewati pintu-pintu itu.

”Wahai Jibril, siapakah yang akan menempati pintu pertama?” tanya Rasulullah SAW.
”Pintu pertama dinamakan Hawiyah, yang diperuntukkan bagi kaum munafik dan kafir,” jawab Malaikat Jibril.

Rasulullah SAW Sangat Sedih.
”Lalu siapakah yang akan melewati pintu kedua? tanya Rasul kembali.
”Pintu kedua dinamakan Jahim, yang diperuntukkan bagi kaum musyrikin,” jelas Malaikat jibril.
”Bagaimana dengan pintu ketiga?” tanya Rasulullah SAW kembali.
”Pintu ketiga dinamakan Saqar, yang diperuntukkan bagi kaum Shobiin atau kaum penyembah api,” jawab Malaikat Jibril.

”Selanjutnya pintu keempat untuk siapa?” tanya Rasulullah SAW.
”Pintu keempat dinamakan Ladha, untuk iblis dan pengikutnya,” jawab Jibril.

Rasulullah SAW terdiam sejenak, ia berharap tidak ada satu pintu neraka yang diperuntukkan bagi umatnya.
”Kemudian pintu kelima dan keenam untuk siapa?” kata Rasululah SAW.
”Pintu kelima dinamakan Huthomah, diperntukkan bagi Yahudi, sedangkan pintu keenam dinamakan Sa'ir untuk kaum kafir,” jelas Malaikat Jibril.

”Wahai Jibril, sekarang ceritakanlah kepadaku tentang pintu neraka yang ke tujuh itu?” pinta Rasulullah SAW. Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Malaikat Jibril sejenak diam seperti ragu hendak menceritakannya. Akan tetapi karena Rasululah SAW terus mendesaknya, maka Malaikat Jibril tak kuasa menolaknya.

”Ya Rasulullah, pintu ke tujuh itu diperuntukkan bagi umatmu yang berdosa besar dan meninggal dunia sebelum mengucapkan tobat,” jelas Malaikat Jibril yang sedikit ketakutan.

Begitu mendengar penjelasan yang terkahir ini, Rasulullah SAW langsung pingsan seketika itu juga. Beliau tak menyangka bahwa umatnya pun disediakan tempat di neraka. Setelah sadar dari pingsannya, Rasululah SAW masih tampak sedih sekali. Beliau tidak dapat menahan air matanya yang mengalir deras.

”Wahai Jibril, aku sangat sedih sekali mendengar penjelasanmu. Apakah ada umatku nanti yang akan masuk ke pintu ke tujuh itu?” tanya Rasulullah SAW dengan kesedihan yang mendalam. Dan ternyata Malikat Jibril mengangguk yang berarti memang ada dari umat Nabi Muhammad yang masuk ke neraka melalui pintu ke tujuh. Namun, hanya umat Nabi Muhammad SAW yang melakukan dosa besar dan mati sebelum bertobat saja yang akan melewati pintu ke tujuh itu.

Selama beberapa hari setelah kedatangan Malaikat Jibril itu, Rasulullah SAW tidak berbicara dengan orang lain. Beliau hanya mengurung diri di rumahnya. Beliau hanya keluar rumah kalau ke masjid ketika tiba waktu shalat, setelah shalat Beliau kembali mengurung diri di rumah.

Para sahabat yang melihatnya pun juga turut sedih dan meneteskan air mata. Mereka kemudian berkunjung ke rumah RasulullahSAW dan menanyakan perihal perasaan sedih yang dialami.
”Ya Rasululah, mengapa engkau tampak sangat sedih sekali,” tanya salah seorang sahabat.
”Wahai sahabatku, sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku dan menyampaikan wahyu tentang neraka yang memiliki tujuh pintu,” ujar Rasulullah SAW.

”Ya Rasulullah, adakah salah satu pintu untuk kami semua?” tanya sahabat.
Dengan menitikkan air mata, Rasululah menganggukkan kepala.
”Salah satu pintu itu diperuntukkan bagi umatku yang mnelakukan dosa besar dan mati sebelum betobat kepada Allah SWT,” ujar Rasulullah SAW.

Setelah sejenak terdiam, Rasulullah SAW melanjutkan penuturannya.
”Oleh karena itu, janganlah sekali-kali terpengaruh oleh tipu daya iblis, karena ia adalah musuh yang nyata dan akan menjerumuskan ke neraka,” lanjut Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. 

Kisah Nabi dan Sahabat Dialog Rasulullah Dengan Onta

0 Comments

Dialog Rasulullah Dengan Onta

Ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang bernama Uqa'il bin Abu Thalib. Dia ini seorang yang baru saja masuk islam. Rasul tahu kalau Uqa'il masih memiliki keraguan terhadap Rasul SAW. Sehingga, jika Rasulullah melakukan perjalanan, beliau selalu mengajak Uqa'il untuk menjadi teman selama perjalanan. Salah satunya adalah ketika Rasulullah berniat berkeliling Ngeri Arab, beliau mengajak Uqa'il untuk menemaninya salama perjalanan.

Selama dalam perjalanan itu, sifat Rasulullah SAW yang begitu ramah dan baik hati sangat terlihat. Hampir di setiap perjalanan, beliau berhenti sejenak untuk beristirahat dan mencoba untuk lebih dekat dengan penduduk Arab. Beliau pun selalu berkomunikasi dan menolong mereka yan membutuhkan pertolongan.

Uqa'il dan para penduduk Arab merasa sangat kagum dengan sosok Rasulullah SAW yang begitu santun dengan siapapun, termasuk kepada orang miskin bahkan seorang pengemis, sehingga para penduduk Arab tidak ragu lagi untuk berbicara, bertanya dan mengadu tentang segala sesuatu yang mereka alami kepada Rasululah SAW. Tidak hanya manusia yang mengadu dan bercerita tentang suatu masalah, bahkan seekor onta pun mendatangi beliau dan menceritakan perihal yang dialami.

Di tengah perjalanan, Nabi Muhammad SAW dan Uqa'il melihat seekor onta yang berlari seperti dikejar sesuatu. Beliau akhirnya berhenti untuk memastikan apa yang tengah terjadi pada onta tersebut. Di saat Rasul SAW berhenti, tiba-tiba onta tersebut berlari dan meloncat menuju ke hadapan Rasul SAW, sampai hampir menabrak tubuh Raulullah.

Rasulullah SAW sangat terkejut dengan kehadiran onta itu ke depannya secara tiba-tiba. Beliau bertanya,
”Apa yang engkau alami, sampai engkau meloncat sejauh itu hingga di depanku?” tanya Rasul SAW.
Onta yang terlihat ketakutan itu langsung menjawab,
”Ya, Rasulullah, aku minta perlindungan darimu.”
Uqa'il yang melihat dan mendengar Rasulullah SAW berkomunikasi dengan seekor onta itu, ia merasa sangat keheranan dan hampir tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya. Namun, hal itu benar-benar terjadi di depannya.

Akhirnya, Uqa'il yang semula tidak yakin dengan mukjizat utusan Allah SWT tersebut, sekarang menjadi yakin. ”Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini karena sempat meragukan kemuliaan utusan-Mu. Mulai sekarang, aku akan selalu tunduk kepada Rasululah SAW dan akan selalu mematuhi perintahnya,” ucap Uqa'il dalam hati.

Selang waktu beberapa saat, datanglah seorang Arab yang membawa pedang tajam. Nabi SAW sangat heran dengan orang Arab tersebut. ”Hendak apakah engkau, terhadapku atau dengan onta ini?” tanya Rasululah SAW. ”Wahai Rasul Allah, aku telah membelinya dengan harga yang sangat mahal, akan tetapi dia tidak mau taat dan tidak mau jinak kepadaku, maka akan aku potong saja dan akan aku berikan dagingnya kepada orang-orang yang memerlukannya,” jawab orang Arab itu.

Nabi Muhammad SAW bertanya kepada onta, ”Mengapa engaku mendurhakai dia?” tanya Rasul SAW.

Onta itu pun menjawab,
”Wahai Rasulullah, aku mendurhakainya karena perbuatannya yang buruk. Ia terus menerus tidur, meninggalkan shalat Isya. Seandainya dia mau berjanji kepada engkau untuk mengerjakan shalat Isya, maka aku berjanji pula untuk tidak mendurhakainya, sebab aku sangat takut kalau Allah SWT menurunkan siksaan-Nya kepadaku,” jelas onta itu.

Setelah mendengar penuturan onta yang panjang lebar itu, Nabi Muhammad SAW pun mempercayainya, dan orang Arab itu tidak bisa berkelit lagi karena sudah ada bukti dari onta miliknya. ”Aku akan mengembalikan onta ini kepadamu, asalkan engkau berjanji untuk tidak meninggalkan shalat Isya. Akan tetapi jika engkau tidak mau, maka aku akan membawa onta ini,” tutur Rasul SAW. ”Ya Rasululah, aku berjanji tidak akan meninggalkan shalat Isya lagi dan berjanji pula tidak melakukan maksiat. Jika aku melakukannya, maka onta itu akan aku berikan kepadamu,” jawab orang Arab itu dengan sungguh-sungguh.

Setelah mendengar pernyataan orang Arab itu, akhirnya Rasululah SAW menyerahkan onta itu kepada pemiliknya. Rasulullah SAW pun kembali meneruskan perjalanan dengan Uqa'il yang semakin kagum dengan Nabi Muhammad SAW. 

Kisah Nabi dan Sahabat Rasulullah Membelah Bulan

0 Comments

Rasulullah Membelah Bulan

Jumlah orang-orang mukmin terus bertambah seiring berjalannya waktu. Sementara itu, orang-orang jahat tidak juga menghentikan kekejaman mereka. Mereka bahkan terus menantang Rasulullah SAW.

Pada suatu hari, orang-orang kafir kembali mengelilingi Rasulullah SAW. Mereka punya rencana baru untuk menyudutkan beliau. Mereka meminta Rasul SAW melakukan sesuatu yang menurut mereka mustahil untuk dilakukan. Nanti saat melihat beliau tidak bisa melakukannya, mereka akan mengolok-olok beliau.

”Kalau engkau memang seorang nabi, tunjukkan mukjizat kepada kami. Misalnya, belahlah bulan purnama di atas kepala kita menjadi dua. Letakkan yang sebelah di atas gunung ini dan sebelah lagi di atas gunung itu,” kata orang-orang kafir. ”Kalau aku dapat melakukannya apakah kalian akan percaya padaku?” tanya Rasul SAW.

Allah Yang Maha Tinggi memberikan kekuasaan kepada Rasulullah SAW untuk menunjukkan mukjizat seperti yang telah Dia berikan kepada nabi-nabinya terdahulu. Jika Rasulullah SAW mau, beliau bisa berdoa kepada Allah SWT dan atas izin-Nya, banyak peristiwa luar biasa yang akan terjadi. Namun, beliau ingin agar orang-orang berfikir dan menemukan jalan yang benar dengan pikiran mereka sendiri.

Saat itu, Rasulullah SAW yang terlihat semakin rupawan di bawah sinar rembulan, terlebih dahulu berdoa agar orang-orang sesat itu menemukan jalan yang benar. Kemudian beliau mengarahkan telunjuknya ke bulan. Sinar perak dengan cahaya bintang terlihat membentang diatas mereka. Rasulullah SAW membuat garis dari bagian atas bulan hingga ke bawah.

Kala itu, tak seorang pun terlihat percaya atau memperhatikan secara penuh apa yang sedang terjadi. Setelah ditunjuk oleh Rasul SAW, bulan pun terbelah menjadi dua. Subhanallah.....Sungguh luar biasa.

Setengah dari bulan itu berada di atas gunung yang satu dan setengahnya lagi di atas gunung yang lainnya. Allah Maha Besar. Allah Maha Tinggi sudah membelah bulan untuk Nabi kesayangan-Nya itu.

Nabi pun berulang-ulang mengatakan kepada orang-orang kafir,
”Saksikanlah!!, Saksikanlah!!!.”
Orang kafir pun terbelalak.
Mereka tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mereka saling pandang setelah mengetahui hal itu. Bibir Rasulullah SAW terus menerus berzikir, bersyukur kepada Allah SWT yang sudah memberikan mukjizat itu. Saat kedua bagian bulan itu kembali menyatu, orang-orang kafir sangat terkejut dan takut.
Mereka hanya berkata, ”Ini Sihir !!!, Ini Sihir !!!”

Pagi hari setelah kejadian itu, negeri Makkah gempar. Semua orang membicarakan peristiwa ajaib tadi malam. Saat kaum muslim membicarakan keindahan peristiwa itu, orang-orang kafir malah mengatakan bahwa yang mereka lihat tadi malam adalah tidak nyata.

Beberapa orang di antara mereka berkata, ”Kita bilang saja kepadanya kalau dia hanya menunjukkan sihir kepada kita.”
Orang-orang kafir mengetahui bahwa pengaruh sihir itu tidak akan sampai jauh pengaruhnya. Jadi mereka pun memutuskan untuk bertanya kepada musafir yang datang dari jauh,apakah mereka juga melihat peristiwa bulan terbelah tadi malam. Mereka pun menunggu datangnya para musafir.

Begitu para musafir datang, para orang kafir langsung mendekati mereka dan bertanya apakah mereka juga melihat bulan terbelah menjadi dua tadi malam. Ternyata mereka juga melihat bulan terbelah menjadi dua kemudian menyatu kembali. Dengan semangat, para musafir itu menceritakan secara terperinci apa yang mereka lihat tadi malam.

Meskipun mereka sudah mendengar kesaksian para musafir, namun tetap saja orang-orang kafir tidak percaya.
Mereka mengatakan, ”Sihir Muhammad bahkan sudah mencapai langit,” kata orang-orang kafir.
Orang-orang kafir itu telah dikunci mata hatinya, meskipun sudah melihat hal yang benar-benar nyata, masih saja dia berpaling, mungkir.

Dan inilah hebatnya Rasulullah SAW, Beliau tidak pernah sombong, bahkan selalu bersyukur atas mukjizat yan terjadi, beliau tetap penuh kasih, tetap medoakan agarorang-orang kafir itu tidak keras kepala dan bersedia mengikuti ajaran yang beliau sampaikan. 

Kisah Nabi dan Sahabat Istri Nabi Difitnah Selingkuh

0 Comments

Istri Nabi Difitnah Selingkuh

Dalam menerima wahyu,ada kalanya wahyu yang berupa ayat-ayatAL Qur'an itu turun untuk menjawab berbagai pertanyaan para sahabat. Ada juga kisah-kisah umat terdahulu, masalah hukum, ibadah, pergaulan sehari-hari sampai persoalan rumah tangga.

Namun, ternyata Rasulullah SAW pernah tidak menerima wahyu sama sekali dalam waktu sekitar satu bulan. Salah satunya adalah pada saat adanya fitnah oleh salah seorang munafik yang ingin merusak rumah tangga beliau dengan istrinya, Siti Aisyah ra.

Fitnah itu terjadi saat berakhirnya perang antara kaum muslimin dengan Bani Musthakiq pada bulan Sya'ban tahun 5 hijriyah. Peperangan ini diikuti oelh sejumlah kaum munafik, istri Rasul SAW, Siti Aisyah turut pua dengan Rasulullah SAW.

Dalam perjalanan pulang saat kembali dari peperangan, rombongan kaum muslimin berhenti di suatu tempat di dekat Kota Madinah. Saat itulah Siti Aisyah menyadari bahwa kalungnya telah putus dan hilang. Maka, Siti Aisyah yang biasanya ditandu, segera kembali ke tendanya untuk mencari kalung yang hilang tersebut. Sementara, orang-orang yang membawa tandu Siti Aisyah tidak menyadari bahwa beliau tidak berada di dalamnya.

Setelah sekian lama ia mencari kalung tersebut,namun kalung itu tak ditemukannya. Karena itulah Siti Aisyah kembali menuju tandunya. Namun, ketika sampai ia telah ditinggalkan rombongannya. Maka, Siti Aisyah hanya bisa pasrah. Ia berharap ada rombongan kaum muslimin yang kembali. Terlalu lama menungu, akhirnya Siti Aisyah terserang kantuk hingga akhirnya tertidur.

Tanpa diduga, di saat itu muncullah salah seorang anggota rombongan yang bernama Shafwan bin Mu'athal as-Sulami adz-Dzakwani ra lewat. Shafwan ini bertugas sebagai anggota pasukan paling belakang. Melihat ada orang yang tertinggal, Shafwan segera menjenguknya. Namun, setelah mengetahui yang tertinggal itu adalah Ummul Mukminin, Siti Aisyah ra, Shafwan pun berkata, ”Innalillahi Wa inna Ilaihi Roji'un,” kata Shafwan dengan terkejut.

Shafwan pun segera memberikan tunggangan untanya kepada Siti Aisyah ra. Sedangkan Shafwan sendiri berjalan kaki sambil menuntun unta yang ditunggangi oleh Siti Aisyah ra. Mereka berdua kahirnya berhasil menyusul rombongan kaum muslimin yang sedang beristirahat.

Orang-orang yang menyaksikan kedatangan Ummul Mukminin bersama Shafwan, muncullah desas-desus terhadap hubungan keduanya. Orang munafik seperti Abdullah bin Ubay bin Salul memfitnah bahwa Siti Aisyah telah berselingkuh dengan Shafwan. Fitnah itu dengan cepat beredar hingga di Madinah sehingga menimbulkan kegoncangan di kalanagn kaum Muslimin.

Karena tuduhan berselingkuh tersebut, sampai-sampai Rasululah SAW menunjukkan perubahan sikap atas diri Aisyah. Diceritakan Aisyah, karena peristiwa itu dirinya akhirnya jatuh sakit.

”Saat itu yang membuatku bingung ketika aku sakit,aku tidak melihat kelembutan dari Nabi SAW seperti biasa yang aku lihat ketika aku sakit. Beliau hanya mengucapkan salam, lalu bertanya,”Bagaimana keadaanmu,” kemudian pergi,” kata Siti Aisyah yang terdapat pada kitab An-Nihayah fi Gharib al-Hadits.

Kondisi fitnah itu tentu menyebar hingga mencapai satu bulan lamanya. Dan selama itu pula, tak ada wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW. Sampai kemudian, Allah SWT mengabarkan berita gembira kepada Nabi SAW yang menyatakan bahwa Aisyah ra terbebas dari segala tuduhan perselingkuhan dan fitnah itu.

Penegasan Allah SWT itu terangkum dalam Al Qur'an, Surat An-Nur ayat 11-26.
Dengan turunnya ayat tersebut, terbebaslah Siti Aisyah ra dari tuduhan keji itu, hingga berbahagialah Rasululah SAW beserta sahabat-sahabat setianya. 

Kisah Nabi dan Sahabat Tak Sakit Ketika Tertembus Panah

0 Comments

Tak Sakit Ketika Tertembus Panah

Beliau adalah Abbad bin Bisyr yang termasuk di antara ahli ibadah, tetapi juga termasuk golongan para pahlawan yang gagah berani dalam menegakkan Islam. Ketika Islam mulai tersiar di Madinah, usia Abbad bin Bisyr belum mencapai 25 tahun.

Dia mendekatkan diri kepada seorang da'i dari Makkah yang bernama Mush'ab bin Umair. Dalam tempo singkat saja, hati keduanya telah terikat dalam ikatan iman yang kokoh. Abbad mulai belajar membaca Al Qur'an kepada Mush'ab. Suaranya merdu, menyejukkan hati serta menawan. Oleh karena itu, ia terkenal di kalangan para sahabat sebagai imam dan pembaca Al Qur'an.

Abbad bin Bisyr turut berperang bersama Rasulullah SAW dalam tiap peperangan yang beliau pimpin. Dalam peperangan-peperangan itu, dia bertugas sebagai pemabawa Al Qur'an. Ketika Rasulullah SAW kembali dari perang Dzatur Riqa', beliau beristirahat dengan seluruh pasukan muslim di lereng sebuah bukit. Setibanya di tempat peristirahatan di atas bukit, Rasulullah SAW bertanya, ”Siapa yang bertugas jaga malam ini?”
”Kami ya Rasulullah,” kata Abbad bin Bisyr dan Amar bin Yasir seraya berdiri.

Rasululah SAW telah menjadikan keduanya bersaudara ketika kaum Muhajirin baru tiba di Madinah. Ketika keduanya keluar ke pos penjagaan, Abbad bertanya kepada Ammar, ”Siapa di antara kita yang berjaga terlebih dahulu?”
”Aku yang tidur lebih dahulu,” jawab Ammar yang bersiap untuk berbaring tak jauh dari tempat penjagaan.

Dalam suasana malam yang tenang dan hening, Abbad shalat malam dan larut dalam manisnya ayat-ayat Al Qur'an yang dibacanya. Dalam shalat itu ia membaca surat Al Kahfi dengan suara memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.

Ketika Abbad tenggelam dalam kekhusyukan shalat Tahajud, seorang musuh datang menyelinap. Musuh itu yakin bahwa Rasulullah SAW ada di tempat itu dan orang yang sedang shalat itu adalah pengawal yang bertugas jaga.

Orang itu menyiapkan anak panah dan memanah Abbad dengan tepat mengenai tubuhnya. Abbad mencabut anak panah yang bersarang di tubuhnya sambil meneruskan bacaan dan tenggelam dalam shalat. Orang itu memanah lagi dan mengenai tubuh Abbad dengan jitu lagi. Abbad kembali mencabut anak panah dari tubuhnya dan kembali meneruskan ibadahnya. Kemudian orang itu memanah lagi dan Abbad mencabut lagi anak panahnya seperti dua anak panah sebelumnya.

Kini giliran jaga diemban oleh Ammar bin Yasir pun tiba..
Abbad merangkak ke dekat saudaranya yang tidur lalu membangunkannya seraya berkata, ”Bangunlah saudaraku, aku terluka parah dan lemas,” kata Abbad.

Sementara itu, si pemanah tadi yang mengetahui melihat pasangan saudara itu, buru-buru melarikan diri. Ammar menoleh ke arah Abbad dan melihat darah bercucuran dari tiga luka di tubuhnya. 'Subhanallah, mengapa engkau tidak membangunkan aku ketika panah pertama mengenai tubuhmu saudaraku?” kata Ammar.
”Aku sedang membaca Al Qur'an dalam shalat. Aku tidak ingin memutuskan bacaanku hingga selesai. Demi Allah, kalaulah tidak karena takut akan menyia-nyiakan tugas jaga yang dibebankan oleh Rasulullah SAW untuk menjaga pos perkemahan kaum muslimin, biarlah tubuhku putus daripada harus menghentikan bacaan Al Qur'an dalam shalat,” jawab Abbad. 

Kisah Shalat Pertama Rasul Sembuhkan Kaki Memar

0 Comments

Rasul Sembuhkan Kaki Memar

Meskipun secara diam-diam, perjalanan dakwah Rasulullah SAW sudah dimulai. Jibril pun mengajarkan kepadanya cara melakukan shalat. Mulanya, hanya Khadijah yang ikut melaksanakan shalat. Hingga akhirnya Ali, sepupu Rasulullah SAW pun berkenan mengikuti ajaran Islam.

Suatu hari, Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril kembali bersama di sebuah bukit di Makkah. Kali ini Jibril muncul dalam wujud seorang laki-laki. Ternyata Malaikat Jibril akan mengajarkan shalat.

Awalnya, Malikat Jibril terlebih dahulu menghentakkan tumitnya ke rumput hingga air yang beningpun memancar. Jibril kemudian berwudhu, membasuh bagian-bagian terntentu dengan air tersebut. Rasulullah SAW kemudian juga berwudhu seperti yang dilakukan Jibril. Untuk menjalankan shalat, kebersihan adalah hal yang sangat penting, setelah itu, Jibril mengajari Rasulullah SAW cara mendirikan shalat. Mereka pun shalat bersama, tapi tba-tiba Malaikat Jibril menghilang begitu saja. Rasulullah SAW nampak sangat gembira mendapat ilmu baru. Beliau pun belajar cara berdoa yang dikehendaki Allah SWT. Nabi Muhammad SAW pulang dengan sangat bahagia.

Rasulullah SAW pun mulai mengajarkan apa yang Beliau pelajari kepada istrinya, Khadijah. Mereka berdua kemudian mendirikan shalat berjamaah untuk pertama kalinya. Ada kebahagiaan yang ak terlukiskan dalam diri mereka berdua karena menjalankan shalat ini sangat indah. Dengan shalat, seseorang bisa berhubungan langsung dengan Allah SWT.

Kemudian pasti banyak yang bertanya, loh kenapa Nabi sudah shalat, padahal seharusnya kan pada waktu Isra' Mi'raj. Jadi janganlah salah, para ulama menjelaskan bahwa sebelum Isra' Mi'raj Nabi sudah shalat, tapi bukan shalat wajib seperti yang kita laksanakan sekarang. Perintah shalat wajib memang diturunkan pada saat Rasulullah SAW Isra' Mi'raj. Tata cara shalat yang diikuti adalah tata cara shlat yang dicontohkan Rasulullah SAW pasca Isra' Mi'raj. 

Kisah Shalat Pertama Rela Berkorban Demi Saudara

0 Comments

Rela Berkorban Demi Saudara

Dia adalah saudara Anas bin Malik, namanya Al Barra' bin Malik. Dia adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang juga menjadi pahlawan perang. Walaupun bertubuh kerempeng alias kurus dan berkulit legam, namun ia mampu menewaskan ratusan orang musyrik dalam pertandingan satu lawan satu.

Dalam Perang Yamamah, perang melawan pasukan Musilamah Al Kadzdzab pada masa pemerintatahn Abu Bakar As-Shiddiq, Al Barra' bin Malik menunjukkan kepahlawanannya. Ketika panglima perang Khalid bin Walid melihat pertempuran kian berkobar, ia berpaling kepada Al Barra' seraya berseru, ”Wahai Al Barra', kerahkan kaum Anshar!”.
Saat itu juga Al Barra' berteriak memanggil kaumnya, ”Wahai kaum Anshar, kalian jangan berpikir kembali ke Madinah! Tidak ada lagi Madinah setelah hari ini. Ingatlah Allah, Ingatlah surga!”.
Setelah berkata demikian, dia maju mendesak kaum musyrikin diikuti prajurit Anshar. Pedangnya berkelebat menebas musuh-musuh Allah yang datang mendekat.

Melihat prajuritnya berguguran, Musailamah dan kawan-kawannya menjadi gentar. Mereka lari tunggang langgang dan berlindung disebuah benteng yang terkenal dalam sejarah dengan nama Kebun Maut. Kebun Maut adalah benteng terakhir bagi Musailamah dan pasukannya. Pagarnya tinggi dan kokoh. Sang pendusta dan pengikutnya mengunci gerbang benteng rapat-rapat dari dalam. Dari puncak benteng, mereka menghujani kaum muslimin yang mencoba masuk dengan panah.

Menghadapi keadaan yang demikian, kaum muslimin sempat kebingungan. Dalam benak Al Barra' muncul ide. Ia pun berteriak, ”Angkat tubuhku dengan galah dan lindungi dengan perisai dari panah-panah musuh. Lalu leparkan aku ke dalam benteng musuh, biarkanlah aku mati syahid untuk membukakan pintu, agar kalian bisa menerobos masuk.” Dalam sekejap, tubuh kerempeng Al Barra' telah dilemparkan ke dalam benteng. Begitu mendarat di benteng bagian dalam, ia langsung membuka pintu gerbang. Kaum muslimin pun banjir menerobos masuk, pedang mereka berkelebat menyambar tubuh dan kepala musuh. Lebih dari 20 ribu orang murtad tewas, termasuk pimpinan mereka, Musilamah Al Kadzdzab.

Sebenarnya Al Barra' bin Malik sangat merindukan mati syahid. Dia kecewa karena gagal memperolehnya di Kebun Maut. Sejak itu ia selalu menceburkan diri ke kancah peperangan. Ia sangat rindu bertemu Rasulullah SAW.

Tatkala Perang Tustar melawan Persia berlangsung, Al Barra' bin Malik tidak mau ketinggalan. Kala itu pasukan musuh terdesak dan berlindung di sebuah benteng yang kokoh dan kuat. Temboknya tinggi besar, namun kaum muslimin mengepunng benteng tersebut dengan ketat.

Dalam keadaan demikian, pasukan Persia menggunakan berbagai cara untuk menaklukkan kaum muslimin. Mereka menggunakan pengait-pengait yang diikatkan ke ujung rantai besi yang dipanaskan. Rantai tersebut mereka lemparkan kepada kaum muslimin sehingga sebagian dari mereka tersambar pengait panas itu. Banyak pasukan islam yang tersambar pengait, diantaranya adalah Anas bin Malik, saudara Al Barra' bin Malik. Selama beberapa saat, Anas tidak mampu melepaskan diri dari besi panas yang mengaitnya. Melihat hal itu, Al Barra' bin Malik segera melompat ke dinding benteng dan melepaskan pengait dari tubuh saudaranya.

Tangan Al Barra' bin Malik otomatis melepuh dan terbakar karena memegang pengait yang panas membara. Namun demikian ia tidak mempedulikannya, yang penting baginya adalah keselamatan saudaranya. Akhirnya ia berhasil menyelamatkan Anas walaupun kedua telapak tangannya lepas. Daging kedua lengannya melepuh dan hanya tinggal kerangka.

Sungguh pengorbanan yang luar biasa dahsyatnya.
Dalam Perang Tustar ini juga, Al Barra' bin Malik memohon kepada Allah SWT agar gugur sebagai syahid. Doanya dikabulkan, ia pun gugur sebagai syahid dengan wajah tersenyum bahagia. 
 
back to top