Monday, February 4, 2019

Kisah Shalat Pertama Kisah Anak Muslim Pertama

0 Comments

Kisah Anak Muslim Pertama

Di antara sekian anak yang pertama masuk islam adalah Ali bin Abi Thalib dan Zaid. Sungguh beruntung kedua anak itu. Mereka bisa tingal di rumah Nabi Muhammad SAW, seorang manusia yang selalu dipuji baik di langit maupun di bumi. Tak semua orang bisa seberuntung mereka.

Anak pertama yang masuk islam adalah Ali, kemudian diikuti oleh Zaid. Mereka menikmati kebahagiaan menjadi anak-anak muslim pertama, mempelajari islam, ajaran terbaik yang paling indah langsung bersama Rasulullah SAW.

Ali tidak pernah terpisah dari Rasulullah SAW meski hanya sebentar. Ali selalu mengikuti kemana saja Rasulullah SAW pergi, bahkan ke gunung dan ke padang pasir. Mereka selalu shalat bersama, Ali terlihat begitu bahagia dengan apa yang dia lakukan bersama Rasulullah SAW.

Berita tentang perubahan sikap Ali semenjak dekat dengan Nabi Muhammad SAW terdengar ibunya. Ibu Ali mendengar jika putranya itu tidak pernah terpisah dari Rasulullah SAW, shalat bersama dan sebagainya. Karena tidak tahu seperti apa ajaran islam, ibu Ali pun menjadi khawatir (hal yang lumrah bila seorang ibu khawatir karena belum mengetahui apakah diajari kebenaran atau sebaliknya).

Hingga suatu hari, ia berkata kepada suaminya, Abu Thalib,
”Berhati-hatilah! Anakmu kurasa sudah menghabiskan terlalu banyak waktu bersama Muhammad. Aku takut sesuatu yang membahayakan akan terjadi padanya,” ujar Ibu Ali.
Abu Thalib memang tipe orang yang tidak suka menilai seseorang dari satu sisi saja, ia pun tak suka mendengarkan penjelasan dari satu pihak. Abu Thalib pun berusaha mencari kebenarannya dengan caranya sendiri.

Untuk itu, tanpa sepengetahuan istrinya, ia selalu pergi meninggalkan rumah untuk mengetahui apa yang terjadi. Ia pun mencari tahu dimana keponakan dan putranya itu berada.

Setelah mendapat informasi tentang keberadaan Rasulullah SAW dan anaknya, Abu Thalib pun kemudian pergi ke sana. Ternyata keponakan dan anaknya sedang shalat bersama di sebuah lembah di luar kota Makkah. Abu Thalib mengawasinya dari kejauhan, ia pun mengamati mereka beberapa lama. Setelah Rasulullah SAW dan Ali selesai menjalankan shalat, Abu Thalib pun mendekati mereka.

Abu Thalib menyapa Nabi Muhammad SAW dan bertanya,
”Muhammad, ajaran apakah yang kau jalankan ini?”
Seperti biasa, Rasulullah SAW mengatakan dengan jujur tentang ajaran yang sedang Beliau anut,
”Paman, ini adalah ajaran yang paling indah, Islam namanya. Kau ada dalam daftar teratas orang yang akan aku ajak masuk Islam. Kau berhak memeluk Islam melebihi dari siapa pun. Berhentilah menyembah berhala dan berdoalah kepada Allah Yang Esa.”

Abu Thalib paham betul dengan karakter dan watak keponakannya itu. Muhammad dari kecil terkenal jujur dan tak akan pernah berbohong. Abu Thalib diam sejenak, memikirkan apa yang diucapkan Rasulullah SAW.
”Apa yang akan dikatakan orang-orang kalau aku, seorang pemuka di Makkah melakukan apa yang diminta keponakannya?” bisiknya dalam hati.

Karena khawatir pendapat orang-orang tentangnya, Abu Thalib berkata,
”Aku tidak bisa meninggalkan ajaran amaku. Tapi, kamu teruskan saja menjalankan ajaran barumu. Aku bersumpah, selama aku masih hidup, tidak akan ada orang yang bisa menyakitimu,” kata Abu Thalib.
Kemudian ia berpaling kepada anaknya,
”Anakku, bagaimana pendapatmu?”

”Ayah..,” kata Ali.
”Aku sudah beriman kepada Allah dan Rasul yang diutus-Nya. Aku sudah menjadi pengikut Muhammad SAW, aku pun sudah shalat bersamanya,” kata Ali.
”Memang itulah yang tepat untuk kau lakukan, anakku,” kata Abu Thalib.
”Ia akan mengajakmu kepada kebaikan. Lakukan semua yang dikatakannya kepadamu dan jangan pernah meninggalkannya,” tambahnya.
Akhirnya Ali pun merasa lega mendengar perkataan ayahnya. Sekarang Ali benar-benar merasa tenang dan tanpa rasa takut lagi kalau diketahui oleh orang tauanya. 

Kisah Shalat Pertama Kisah Anak Muslim Pertama

0 Comments

Kisah Anak Muslim Pertama

Di antara sekian anak yang pertama masuk islam adalah Ali bin Abi Thalib dan Zaid. Sungguh beruntung kedua anak itu. Mereka bisa tingal di rumah Nabi Muhammad SAW, seorang manusia yang selalu dipuji baik di langit maupun di bumi. Tak semua orang bisa seberuntung mereka.

Anak pertama yang masuk islam adalah Ali, kemudian diikuti oleh Zaid. Mereka menikmati kebahagiaan menjadi anak-anak muslim pertama, mempelajari islam, ajaran terbaik yang paling indah langsung bersama Rasulullah SAW.

Ali tidak pernah terpisah dari Rasulullah SAW meski hanya sebentar. Ali selalu mengikuti kemana saja Rasulullah SAW pergi, bahkan ke gunung dan ke padang pasir. Mereka selalu shalat bersama, Ali terlihat begitu bahagia dengan apa yang dia lakukan bersama Rasulullah SAW.

Berita tentang perubahan sikap Ali semenjak dekat dengan Nabi Muhammad SAW terdengar ibunya. Ibu Ali mendengar jika putranya itu tidak pernah terpisah dari Rasulullah SAW, shalat bersama dan sebagainya. Karena tidak tahu seperti apa ajaran islam, ibu Ali pun menjadi khawatir (hal yang lumrah bila seorang ibu khawatir karena belum mengetahui apakah diajari kebenaran atau sebaliknya).

Hingga suatu hari, ia berkata kepada suaminya, Abu Thalib,
”Berhati-hatilah! Anakmu kurasa sudah menghabiskan terlalu banyak waktu bersama Muhammad. Aku takut sesuatu yang membahayakan akan terjadi padanya,” ujar Ibu Ali.
Abu Thalib memang tipe orang yang tidak suka menilai seseorang dari satu sisi saja, ia pun tak suka mendengarkan penjelasan dari satu pihak. Abu Thalib pun berusaha mencari kebenarannya dengan caranya sendiri.

Untuk itu, tanpa sepengetahuan istrinya, ia selalu pergi meninggalkan rumah untuk mengetahui apa yang terjadi. Ia pun mencari tahu dimana keponakan dan putranya itu berada.

Setelah mendapat informasi tentang keberadaan Rasulullah SAW dan anaknya, Abu Thalib pun kemudian pergi ke sana. Ternyata keponakan dan anaknya sedang shalat bersama di sebuah lembah di luar kota Makkah. Abu Thalib mengawasinya dari kejauhan, ia pun mengamati mereka beberapa lama. Setelah Rasulullah SAW dan Ali selesai menjalankan shalat, Abu Thalib pun mendekati mereka.

Abu Thalib menyapa Nabi Muhammad SAW dan bertanya,
”Muhammad, ajaran apakah yang kau jalankan ini?”
Seperti biasa, Rasulullah SAW mengatakan dengan jujur tentang ajaran yang sedang Beliau anut,
”Paman, ini adalah ajaran yang paling indah, Islam namanya. Kau ada dalam daftar teratas orang yang akan aku ajak masuk Islam. Kau berhak memeluk Islam melebihi dari siapa pun. Berhentilah menyembah berhala dan berdoalah kepada Allah Yang Esa.”

Abu Thalib paham betul dengan karakter dan watak keponakannya itu. Muhammad dari kecil terkenal jujur dan tak akan pernah berbohong. Abu Thalib diam sejenak, memikirkan apa yang diucapkan Rasulullah SAW.
”Apa yang akan dikatakan orang-orang kalau aku, seorang pemuka di Makkah melakukan apa yang diminta keponakannya?” bisiknya dalam hati.

Karena khawatir pendapat orang-orang tentangnya, Abu Thalib berkata,
”Aku tidak bisa meninggalkan ajaran amaku. Tapi, kamu teruskan saja menjalankan ajaran barumu. Aku bersumpah, selama aku masih hidup, tidak akan ada orang yang bisa menyakitimu,” kata Abu Thalib.
Kemudian ia berpaling kepada anaknya,
”Anakku, bagaimana pendapatmu?”

”Ayah..,” kata Ali.
”Aku sudah beriman kepada Allah dan Rasul yang diutus-Nya. Aku sudah menjadi pengikut Muhammad SAW, aku pun sudah shalat bersamanya,” kata Ali.
”Memang itulah yang tepat untuk kau lakukan, anakku,” kata Abu Thalib.
”Ia akan mengajakmu kepada kebaikan. Lakukan semua yang dikatakannya kepadamu dan jangan pernah meninggalkannya,” tambahnya.
Akhirnya Ali pun merasa lega mendengar perkataan ayahnya. Sekarang Ali benar-benar merasa tenang dan tanpa rasa takut lagi kalau diketahui oleh orang tauanya. 

Kisah Nabi dan Sahabat Mukzijat Rasulullah

0 Comments

Mukzijat Rasulullah

Dirawikan dari Hamzah bin 'amr al-Aslami, ia bercerita bahwa pada suatu saat di malam hari ia berjalan bersama Rasulullah SAW. Kondisi saat itu gelap gulita tanpa penerangan sedikitpun. Kemudian keduanya berpencar di ujung jalam, dan saat berpencar itulah Hamzah mengetahui bahwa jari jemari Rasulullah SAW bersinar sangat terang.

Begitu terangnya sinar itu hingga beberapa sahabat Rasulullah SAW yang lain bisa mengumpulkan hewan tunggangan mereka serta tak ada seorang pun yang tersesat.

Keistimewaan jari jemari Rasulullah SAW lainnya juga bisa memancarkann air.
”Aku pernah melihat Rasulullah pada saat waktu shalat ashar tiba, orang-orang mencari air wudhu, tapi mereka tak menemukan air. Kemudian Rasulullah datang dengan membawa sebuah wadah berisi air wudhu. Rasulullah SAW lalu memasukkan tangannya ke dalam wadah itu, lalu Beliau menyuruh orang-orang berwudhu dari wadah itu. Saat itu Anas bin Malik menyaksikan air memancar dari bawah jari jemari Rasulullah SAW.
(HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa'i, dan Tirmidzi).

Bukan hanya jari jemari Beliau saja yang bersinar, dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa tongkat Beliau serta setandan kurma pemberian Beliau juga mampu mengeluarkan cahaya.

Dirawikan dari Maimun bin Zaid Abas bahwa Rasulullah SAW sutu saat memberikan sebuah tongkat pada Abu Abas setelah ia mengalami kebutaan. Rasulullah SAW berkata kepada Abu Abas,
”Gunakanlah tongkat ini sebagai penerang jalanmu.”

Kemudia Abas menerima tongkat itu, anehnya, tongkat dari kayu itu tiba-tiba bisa mengeluarkan cahaya sehingga menerangi jalan Abas.

Dalam riwayat lainnya sisebutkan bahwa Abu Abas shalat lima waktu bersama Rasulullah SAW. Kemudian ia pulang ke perkampungan Bani Haritsah. Di suatu malam yang gelap gulita dan hujan sedang turun dengan derasnya, Abas keluar lalu tongkat pemberian Rasulullah SAW itu ia gunakan untuk menerangi jalan. Akhirnya Abas selamat hingga sampai di rumah Bani Haritsah.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Na'im dijelaskan bahwa pada suatu malam, Rasulullah SAW keluar dari rumah menuju masjid untuk menunaikan shalat Isya. Ketepatan malam itu juga hujan turun dengan derasnya dan disahuti petir. Saat sinar petir menerangi malam, Rasulullah SAW melihat Qatadah bin Nu'man.

”Hai Qatadah, setelah Anda selesai shalat, tetaplah duduk di tempatmu hingga aku menyuruhmu,” ucap Rasulullah SAW.
Seusai shalat, Rasulullah SAW menemui Qatadah dan memberikan sebuah tandan kurma.
”Ambillah tandan kurma ini, ia akan menerangi jalan di depanmu sepuluh langkah dan dibelakangmu sepuluh langkah,” tutur Nabi Muhammad SAW seraya memberikan setandan kurma itu.

Qatadah menerimanya. Lalu saat pulang ke rumahnya, setandan kurma itu benar-benar menerangi jalannya sampai di rumah. 

Kisah Shalat Pertama Kisah Batu Bisa Bicara Dan Masuk Surga

0 Comments

Kisah Batu Bisa Bicara Dan Masuk Surga

Pada suatu hari Rasulullah SAW mengunjungi putri kesayangannya yang bernama Fatimah untuk suatu keperluan. Namun apa yang bterjadi, sesampainya di rumah Fatimah ra Rasulullah SAW terkejut karena mendapati putrinya tersebut menangis di samping penggilingan gandum yang terbuat dari batu.

”Wahai Fatimah, apa yang menyebabkan engkau meangis? Semoga bukan ayahmu yang membuat engkau menangis,” ujar Rasulullah SAW.
”Ya Rasulullah, penggilingan ini dan urusa-urusan rumah tanggalah yang menyebabkan aku menangis,” jawab Fatimah yang berurai air mata.

Siti Fatimah ra mengaku bahwa tangisnya pecah karena beratnya pekerjaan rumah tangga yang dijalaninya dan merasa sangat capek menggiling gandum untuk dijadikan tepung. Hampir seharian Fatimah menggiling sehingga jari-jarinya terasa sakit.

Setelah Fatimah mengadukan permasalahannya, segera saja Rasulullah SAW mendatangi gilingan gandum yang terbuat dari batu. Sambil mengucap Basmalah, Rasulullah SAW kemudian memasukkan jarinya ke tumpukan biji gandum yang masih tersisa di dalam penggilingan. Dengan izin Allah SWT, gilingan manual tersebut tiba-tiba saja bergerak sendiri menghaluskan gandum menjadi tepung.

Setelah semua pekerjaan selesai, tiba-tiba saja Rasulullah SAW diberi mukjizat lagi oleh Allah SWT. Terdengar sayup-sayup, batu penggilingan itu yang merasa lelah dan mengeluh. Penggilingan merasa takut dengan Firman Allah SWT dalam Surat At-Tahriim ayat 6.

Allah SWT berfirman,
”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahriim [66]: 6).

Begitu mendengar keluhan batu penggilingan itu, Rasulullah SAW tersenyum.
”Wahai Rasulullah, kenapa engkau tersenyum?” tanya Fatimah ra.
”Aku tersenyum karena batu ini telah mengatakan kepadaku tentang sesuatu hal,” jawab Rasulullah SAW.
”Apa yang diucapkan batu itu ya Rasulllah?” tanya Fatimah ra.
”Batu penggilingan itu takut dan tidak mau dijadikan bahan bakar api neraka,” jawab Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW membalas ucapan batu penggilingan itu.
”Hai batu, bergembiralah dan bersenanglah karena engkau akan menjadi batu yang akan dipakai untuk membangun istana Fatimah nanti di surga.”

Begitu bahagianya batu penggilingan gandum itu, dimana pada saat teman-temannya dijadikan Allah SWT sebagai bahan bakar api neraka, hanya dia yang mendapatkan kemulian itu.
Rasulullah SAW kemudian mendekati anaknya yang mulai berhenti menangis. 

Kisah Shalat Pertama Dialog Rasulullah dan Sahabat Tentang Penyakit Hati

0 Comments

Dialog Rasulullah dan Sahabat Tentang Penyakit Hati

Kalau hati sudah nteracuni, banyak penyakit yang bakal muncul di kemudian hari.
Racun-racun hati itu banyak macamnya, di antaranya adalah berlebih-lebihan (banyak) bicara atau fudhulul kalam.

Dikatakan bahwa belumlah bisa istiqamah iman seseorang sebelum istiqamah lisannya. Maka lurus dan istiqamahnya hati dalam memegang keimanan itu dimulai dari lisan yang istiqamah.

Oleh karena itulah Islam mengajarkan kepada umatnya agar tidak banyak bicara tanpa disertai dzikir kepada Allah, karena akan mengakibatkan kerasnya hati. Dalam salah satu hadits shahih Rasulullah SAW pernah bicara kepada sahabat Mu'adz: ”Apakah engkau mau aku tunjukkan yang menjadi landasan itu semua (ibadah-ibadah)?”
”Baik, ya Rasulullah”, jawab Mu'adz.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda: ”Cegahlah ini” (sambil mengisyaratkan dengan jarinya pada mulutnya).

Lalu mu'adz berkata:
”Ya Rasulullah, apakah kita akan dimintai tanggung jawab dari apa yang kita ucapkan?”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda: ”Kamu wahai Mu'adz, tidaklah seseorang akan ditelungkupkan wajahnya dan punggungnya ke dalam Neraka melainkan karena hasil dari lisannya.” (Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi).

”Ada dua lubang yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Neraka, yaitu mulut dan kemaluan.”
(HR Ahmad, At-Tirmidzi dan di-shahih-kannya).

Dan tatkala Uqban bin Amir bertanya kepada Rasulullah: ”Ya Rasulullah, apakah sesuatu yang dapat menyelematkan kita?”
Lalu dijawab oleh Nabi : ”Tahanlah olehmu lisanmu.”

Lalu dalam kesempatan lain Rasulullah SAW bersabda:
”Barangsiapa yang dapat memberi jaminan kepadaku dari apa yang ada di antara jenggot dan kumisnya (lisan) dan kedua pahanya (kemaluan), maka aku jamin untuknya Surga.” (HR. Al-Bukhari).

Maksud dalam hadits ini adalah, barangsiapa yang bisa memelihara apa yang ada di antara kedua bibirnya, yaitu mulut dari semua perkataan yang tidak bermanfaat dan bisa menjaga apa yang ada di antara kedua pahanya yaitu farji agar tidak diletakkan di tempat yang tidak dihalalkan Allah, maka jaminannya adalah Surga.

Kemudian dalam hadits yang lain Rasulullah SAW juga bersabda:
”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhirat, hendaklah berbicara yang baik atau agar ia diam.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dalam sutau riwayat dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda:
”Sebagian dari tanda bagusnya Islam seseorang apabila ia bisa meninggalkan ucapan yang tidak berguna baginya.” Berkata Sahl : ”Barangsiapa yang masih suka bicara yang tidak berguna maka ia tidak layak dikatakan shiddiq”.

Apalagi bila ucapan seseorang sampai menyakiti orang lain maka belum bisa dijadikan jaminan iman yang dimilikinya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
”Demi Allah, tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman”, kemudian ditanyakan siapakah gerangan yang engkau maksudkan wahai Rasulullah?
Jawabnya, ”orang yang menjadikan tetangganya merasa tidak aman lantaran kejahatannya.”

Hati yang tidak mengenal dengan Rabbnya, tidak melakukan ibadah sesuai dengan apa yang diperintahkanNya, dicitaiNya dan diridhaiNya. Bahkan selalu memperturutkan nafsu dan syahwatnya serta kenikmatan dan hingar bingarnya dunia, walaupun ia tahu bahwa itu amatlah dimurkai oleh Allah dan dibenciNya.

Ia tidak pernah peduli tatkala memuaskan diri dengan nafsu syahwatnya itu diridhaiNya atau dimurkaiNya, dan ia menghambakan diri dalam segala bentuk kepada selain Allah. Apabila ia mencintai maka cintanya karena nafsunya, apabila ia membenci maka bencinya karena nafsunya, apabila ia memberi maka itu karena nafsunya, apabila ia menolak maka tolakannya atas dasar nafsunya, maka nafsunya sangat berperan dalam dirinya, dan lebih ia cintai daripada ridha Allah

Dengan demikian maka hendaklah seorang mukmin mencukupkan diri dari ucapan yang tidak berguna seperti berdusta, suka mengadu domba, ucapan yang keji, ghibah, namimah, suka mencela, bernyanyi, menyakiti orang lain dan lain sebagainya. Itu semua merupakan racun-racun hati sehingga apabila seseorang banyak melakukan seperti ini maka hati akan teracuni dan bila hati sudah teracuni maka lambat laun, cepat atau lambat akan mengakibatkan sakitnya hati, semakin banyak racunnya akan semakin parah penyakit dalam hatinya, dan kalau tidak tertolong akan mengakibatkan mati hatinya.

Ketahuilah bahwa semua maksiat dalam bentuk apapun adalah merupakan racun bagi hati, penyebab sakitnya hati bahkan juga penyebab matinya hati. Berkata Abdullah Ibnu Mubarak : ”Meninggalkan dosa dan maksiat dapat menjadikan hidupnya hati, dan sebaik-baik jiwa adalah yang mampu meniadakan perbuatan dosa dalam dirinya.

Maka barangsiapa yang menginginkan hatinya menjadi hati yang selamat hendaklah membersihkan diri dari racun-racun hati, kemudian dengan menjaganya tatkala ada racun hati yang berusaha menghampirinya, dan apabila terkena sedikit dari racun hati bersegeralah untuk menghilangkannya dengan taubat dan istighfar. 

Kisah Shalat Pertama Orang Yang Paling Berani

0 Comments

Orang Yang Paling Berani

Al Bazzar meriwayatkan dalam kitab Masnadnya dari Muhammad bin Aqil katanya, ”Pada suatu hari Ali bin Abi Talib pernah berkhutbah di hadapan kaum Muslimin dan beliau berkata, ”Hai kaum Muslimin, siapakah orang yang paling berani ?”

Jawab mereka, ”Orang yang paling berani adalah engkau sendiri, hai Amirul Mukminin.”

Kata Ali, ”Orang yang paling berani bukan aku tapi adalah Abu Bakar. Ketika kami membuatkan Nabi gubuk di medan Badar, kami tanyakan siapakah yang berani menemani Rasulullah s.a.w dalam gubuk itu dan menjaganya dari serangan kaum Musyrik ? Di saat itu tiada seorang pun yang bersedia melainkan Abu Bakar sendiri. Dan beliau menghunus pedangnya di hadapan Nabi untuk membunuh siapa saja yang mendekati gubuk Nabi s.a.w. Itulah orang yang paling berani.”

”Pada suatu hari juga pernah aku menyaksikan ketika Nabi sedang berjalan kaki di kota Mekah, datanglah orang Musyrik sambil menghalau beliau dan menyakiti beliau dan mereka berkata, ”Apakah kamu menjadikan beberapa tuhan menjadi satu tuhan ?” Di saat itu tidak ada seorang pun yang berani mendekat dan membela Nabi selain Abu Bakar. Beliau maju ke depan dan memukul mereka sambil berkata, ”Apakah kamu hendak membunuh orang yang bertuhankan Allah ?”

Kemudian sambil mengangkat kain selendangnya beliau mengusap air matanya. Kemudian Ali berkata, ”Adakah orang yang beriman dari kaum Firaun yang lebih baik daripada Abu Bakar ?” Semua jemaah diam saja tidak ada yang menjawab. Jawab Ali selanjutnya, ”Sesaat dengan Abu Bakar lebih baik daripada orang yang beriman dari kaum Firaun walaupun mereka sepuluh dunia, kerana orang beriman dari kaum Firaun hanya menyembunyikan imannya sedang Abu Bakar menyiarkan imannya.” 

Kisah Shalat Pertama Kematian Musailamah Al Kadzdzab Dan Pengumpulan Al Quran

0 Comments

Kematian Musailamah Al Kadzdzab Dan Pengumpulan Al Quran

Musailmah adalah seorang penipu yang telah mengaku sebagai Nabi, bahkan pada waktu Nabi Muhammad salallAhu'alaihiwasallam masih hidup. Setalah Nabi sallallAhu'alaihiwasallam wafat, orang-orang yg lemah imannya, terutama bangsa Arab yg mengembara, banyak yg menjadi Murtad. Musailmah memanfaatkan peluang ini sehingga banyak penduduk yg tertipu. Abu Bakar RadiAllahu'anhu segera mengambil tindakan untuk memberantas penipuan ini sehingga terjadilah pertempuran. Tetapi dengan pertolongan Allah Swt. tentara Islam mencapai kemenangan yg gemilang dan Musailmah dapat dibunuh. Dalam peperangan ini banyak para sahabat termasuk para Hafizh yg menjadi korban.

Terdorong oleh perasaan khawatir, Umar RadiAllahu'anhu pergi menemui Abu Bakar dan bertanya kepadanya., ”Banyak para Hafizh yg telah menjadi korban dalam pertempuran ini. Aku khawatir, dalam beberapa pertempuran lagi kita kehilangan sebagian besar dari Al Qur'an karena meninggalnya para Hafizh. Oleh karena itu aku merencanakan untuk mengumpulkan Al Qur'an dan dipelihara dalam bentuk sebuah buku yg lengkap. ”

Abu Bakar menjawab,, ”Bagaimana aku dapat melakukan suatu hal yg tidak pernah dilakukan semasa Rasulullah sallallAhu'alaihiwasallam hidup?”

Tetapi Umar dengan sungguh-sungguh berusaha meyakinkan Abu Bakar sehingga Abu Bakar pun menyetujui rencana itu. Kemudian Abu Bakar memanggil Zaid bin Tsabit R.a dan memberitahukan rencananya itu. Abu Bakar berkata kepada Zaid, ”Engkau adalah seorang pemuda yg cerdas, penduduk telah menganggapmu sebagai pemuda yg dapat dipercaya. Lagipula engkau pernah diberi tugas oleh Rasulullah sallallAhu'alaihiwasallam untuk menulis Al Qur'an ketika beliau masih hidup. Oleh karena itu aku mohon kepadamu agar menemui orang-orang yg hafal Al Qur'an untuk menulisnya dari mereka dan menghimpunnya dalam sebuah buku.”

Zaid berkata, ”Dengan Nama Allah, jika sekiranya Abu Bakar menyuruhku memindahkan sebuah gunung, niscaya itu tidak begitu sukar(Sulit) dariku daripada mengumpulkan ayat-ayat Al Qur'an. Bagaimana engkau berdua sanggup melakukan hal yg tidak pernah dilakukan semasa Rasulullah salallAhu'alaihiwasallam masih hidup.”

Abu Bakar dan Umar menerangkan dengan sungguh-sungguh tujuan rencana tersebut dan Allah meringankan pikirannya sehingga dapat meyakinkan Zaid akan pentingnya tugas itu. Zaid pun kemudian menemui orang-orang yg Hafal Al Qur'an dan dia menulisnya hingga selesai keseluruhannya...” 

Kisah Shalat Pertama Kejaran Kemiskinan Bagi Orang yg Mencintai Rasulullah SAW

0 Comments

Kejaran Kemiskinan Bagi Orang yg Mencintai Rasulullah SAW

Seorang sahabat telah datang menjumpai Rasullullah saw, lalu berkata ”Ya, Rasulullah.. saya mencintai engkau.”
Nabi saw bersabda, ”Pikirkan dahulu apa yg engkau katakan.” Tetapi orang itu berkata lagi, ”Saya mencintai engkau Ya Rasulullah.” Nabi saw bersabda seperti tadi.

Setelah tiga kali orang itu berkata demikian, akhirnya Nabi saw bersabda, ”Baiklah, apabila engkau tulus dalam perkataanmu ini, maka bersiaplah menghadapi kefakiran yg akan menimpamu dari segala arah. Karena kefakiran akan datang dengan cepat kepada orang-orang yg mencintaiku sebagaimana air terjun yg mengalir.”

Hikmah yg terkandung :

Inilah alasan mengapa kebanyakan sahabat r.a hidup dalam kefakiran dan kemiskinan. Juga tokoh-tokoh haadits, para ahli Sufi, alim 'ulama, sebagian besar mereka tidak jauh berbeda dengan contoh diatas 

Kisah Shalat Pertama Sahabat r.a yang Meninggal Kehausan Demi Kepentingan Saudaranya

0 Comments

Sahabat r.a yang Meninggal Kehausan Demi Kepentingan Saudaranya

Abu Jahm bin Hudzaifah r.a meriwatkan, ”Ketika peperangan Yarmuk terjadi, saya pergi untuk mencari saudara sepupu saya yang ketika itu berada di baris terdepan pertempuran. Saya membawakan sedikit air untuknya. Akhirnya saya mendapati sepupuku dalam keadaan terluka parah, saya pun menghampirinya dan mencoba memberi pertolongan dengan sedikit air yang saya bawa.
Tiba-tiba saya mendengar rintihan tentara islam yang terluka parah di dekatnya. Sepupuku itu memandangnya lalu memberi isyarat kepadaku agar air itu diberikan kepadanya. Sayapun pergi mendekati tentara itu, dia adalah Hisyam bin Abil 'ash. Sebelum saya sampai ke tempatnya terdengar pula teriakan dari arah yang tidak jauh dari tempat dia terbaring. Hisyam pun segera memberi isyarat kepada saya agar memberikan air tersebut kepada orang itu, tetapi sebelum saya sampai kepadanya, orang itu telah menghembuskan nafas terakhir. Kemudian saya bergegas untuk kembali kepada Hisyam tetapi dia pun telah wafat. Cepat cepat saya menuju ke tempat sepupu saya, tetapi dia pun telah wafat. Innaaa lillaahi wa Innaa ilaihi raaji'uun.” Hikmah dari kisah di atas:

Masih banyak ksah-kisah seperti ini yang ditulis di dalam kitab-kitab Hadits, yang menjelaskan tentang ketinggian sifat para sahabat dimana mereka lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sehingga walapun ia sendiri dalam kehausan, tetapi masih memikirkan kepentingan saudaranya yg juga dalam kesulitan. Ini adalah suara hati yg terakhir setiap insan akan pergi (Meninggal Dunia) tetapi ia masih mau berkorban demi kepentingan saudaranya yg memerlukan. Semoga Allah swt dengan limpahan rahmat-Nya memberikan anugerah yg terbaik atas pengorbanan mereka. Amin... 

Kisah Shalat Pertama Pertanyaan Rasulullah SAW Kepada Sahabat Tentang Dua Jenis Manusia

0 Comments

Pertanyaan Rasulullah SAW Kepada Sahabat Tentang Dua Jenis Manusia

Suatu ketika, Rasulullah saw sedang duduk bersama beberapa orang sahabatnya. Kemudian seseorang berjalan didepan mereka. Nabi saw bertanya kepada mereka. ”Bagaimana pendapat kalian mengenai orang ini??”
Sahabat menjawab, ”Ya, Rasulullah, dia termasuk orang-orang yg mulia. Demi Allah, jika dia melamar seorang wanita, lamarannya pasti diterima. Jika dia melindungi seseorang, tentu perlindungannya disetujui.”
Mendengar jawaban mereka, Nabi saw hanya diam. Tidak lama kemudian, ada seorang lagu melintas didepan mereka. Rasulullah saw bertanya lagi tentang orang itu, Sahabat menjawab ”Ya, Rasulullah, dia seorang Islam yg miskin. Jika dia melamar seorang wanita, pasti lamarannya ditolak. Jika dia mengusulkan sesuatu, pasti tidak diterima. Jika dia berbicara, tidak akan ada orang yg mendengarnya.”

kemudian, Rasululllah bersabda ”Apabila seluruh dunia dipenuhi oleh orang yg seperti pertama tadi. maka orang kedua lebih baik dari mereka semua.

Hikmah yg terkandung :

Maksud dari kisah diatas adalah, hanya kemuliaan dunia saja tidak mendapat tempat apa-apa disisi Allah SWT. Seseorang yg miskin yg tidak mendapatkan tempat disisi siapapun, yg kata-katanya tidak didengar oleh orang lain, tetapi dia lebih mulia dalam pandangan Allah Swt. daripada ribuan bangsawan yg terhormat, yg kata-katanya mendapatkan tempat yg banyak didunia ini, setiap orang bersedia untuk mendengarkan dan menaatinya namun disisi Allah Swt dia tidak mendapat tempat apapun.

Berdirinya dunia ini adalah semata-mata karena keberkahan kekasih-kekasih Allah. Hal ini diterangkan langsung oleh hadits bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Pada hari dimana tidak tersisa satupun menusia yg menyebut nama Allah, maka kiamat akan terjadi, dan keberadaan manusia akan punah. Inilah keberkahan dari nama-nama Allah yg Maha Suci, yg dengannya seluruh aturan alam berdiri tegak..” 

Kisah Shalat Pertama SAID BIN JUBAIR R.A DAN HAJJAJ (Percakapan Yang Menyebabkan Syahidnya Said bin Jubair R.A

0 Comments

SAID BIN JUBAIR R.A DAN HAJJAJ (Percakapan Yang Menyebabkan Syahidnya Said bin Jubair R.A

Hajjaj Bin Yusuf adalah seorang gubernur yg terkenal sangat zhalim. Walapun pada masa ia berkuasa, ia sering menyebarkan agama, tetapi jika dibandingkan dengan gubernur yang adil dan beragama, ia termasuk gubernur yang zhalim. Orang-orang pun sangat berhati-hati terhadapnya.

Sa'id bin Jubair r.a dan Ibnu Asy'ats telah bergabung untuk bersama-sama menentang Hajjaj bin Yusuf. Hajjaj bin Yusuf adalah gubernur penasehat Raja Abd Malik bin Marwan. Sa'id bin Jubair adalah seorang Tabi'i dan ulama besar yang terkenal. Orang-orang bangsawan terutama Hajjaj sangat benci dan memusuhi Sa'id disebabkan perlawanan yang selalu dilakukannya, sehingga terjadilah peperangan diantara keduanya.

Di dalam peperangan itu, Hajjaj tidak berhasil menangkap Sa'id. Setelah mengalami kekalahan, diam-diam Sa'id pergi ke Makkah al Mukarromah.

Akhirnya pihak pemerintah mengirim seorang utusan khusus untuk ditugaskan sebagai Hakim di Makkah. Sebelum ditugaskan, Hakim tersebut telah dipanggil untuk menemui Hajjaj.

Setelah sampai di Makkah, Hakim yg baru langsung membacakan Khutbah di hadapan orang-orang dan diakhir Khutbahnya ia membacakan perintah gubernur Hajjaj bahwa barangsiapa yg melindungi Sa'id bin Jubair, maka ia berada dalam bahaya. Bahkan hakim itu telah bersumpah kepad dirinya bahwa jika ia menjumpai Sa'id di rumah seseorang, maka pemilik rumah itu wajib dibunuh. termasuk tetangganya dan orang yg mengetahui hal itu dan menyembunyikannya.

Singkat cerita, akhirnya Sa’id bin Jubair berhasil ditangkap di Makkah. Lalu ia dikirim menemui Hajjaj. Setelah tertawan, Hajjaj dapat menumpahkan semua kemarahannya kepadanya, bahkan ia dapat membunuhnya. Ketika Sa’id dipanggil kehadapannya, ia ditanya :
Hajjaj : ”Siapa namamu?”
Sa’id : ”Namaku Sa’id”
Hajjaj : ” Anak siapa?”
Sa’id : ”Anak Jubair.” (Sa’id artinya orang baik, Jubair artinya sesuatu yang sudah diperbaiki). Walaupun nama bukan hal utama, namun nama baik ini tidak disukai oleh Hajjaj. Ia berkata, ”Tidak namamu adalah Syaqi bin Kusair, (Syaqi artinya orang jahat, Kusair artinya sesuatu yang sudah pecah).
Sa’id : ”Ibuku lebih mengetahui namaku daripadamu.”
Hajjaj : ”Kamu orang jahat dan ibumu pun orang jahat.”
Sa’id : ”Ada yang lebih mengetahui hal yang ghaib selainmu.” (Yaitu Allah yang Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib).
Hajjaj : ”Lihatlah, kamu akan mati terpotong-potong (kusair, terpecah-pecah) olehku.”
Sa’id : ”Ibuku telah memberi nama dengan benar.”
Hajjaj : ”Sekarang aku akan tukar kehidupanmu dengan mengirimmu ke neraka.”
Sa’id : ”Jika aku tahu hal ini adalah usahamu, mungkin kamu akan disembah.”(maksudnya jika Hajjaj yang memiliki neraka, mungkin sudah sejak lama ia disembah orang)
Hajjaj : ”Bagaimana aqidahmu sebagai pengikut Rasulullah?”
Sa’id : ” Beliau adalah Nabi pembawa rahmat dan Rasulullah yang telah dikirim ke seluruh alam dengan nasehat yang sempurna.”
Hajjaj : ”Bagaimanakah pendapatmu tentang para khalifah?”
Sa’id : ” Itu bukan urusanku. Setiap orang mengetahui tanggung jawabnya masing-masing.”
Hajjaj : ”Apakah kau mengatakan tentang mereka baik atau buruk?”
Sa’id : ”Bagaimana aku mengatakan hal yang tidak aku ketahui? Aku hanya mengetahui tentang diriku.”
Hajjaj : ”Siapakah diantara mereka yang paling kamu sukai?”
Sa’id : ”Orang yang paling diridhai oleh Allah.” dalam sebagian kitab disebutkan, jawabannya adalah, ”Masing-masing akan terlihat jelas.”
Hajjaj : ”Siapakah yang paling diridhai Allah?”
Sa’id : ”Itu hanya diketahui oleh Yang Maha Memegang hati manusia dan Memiliki seluruh rahasia.”
Hajjaj : ”Apakah Ali berada di surga atau di neraka?”
Sa’id : ”Jika aku telah pergi ke surga dan neraka, lalu aku melihat isinya, maka aku baru dapat menjawabnya.”
Hajjaj : ”Pada hari kiamat, aku termasuk orang yang bagaimana?”
Sa’id : ”Aku tidak mengetahui tentang yang ghaib.”
Hajjaj : ”Kamu tidak jujur kepadaku.”
Sa’id : ”Aku tidak berbohong kepadamu.”
Hajjaj : ”Mengapa kamu tidak pernah tertawa?”
Sa’id : ”Tidak ada yang patut ditertawakan. Bagaimana mungkin manusia bisa tertawa sedangkan ia terbuat dari tanah. Dan kita akan dibangkitkan pada hari Kiamat, dan setiap siang malam kita selalu dalam fitnah dunia.”
Hajjaj : ”Kalau aku suka tertawa.”
Sa’id : ”Jika demikian, kita memang diciptakan dalam keadaan yang berbeda-beda.”
Hajjaj : ”Aku sekarang akan membunuhmu.”
Sa’id : ”Penyebab kematianku sudah tertulis sejak dulu.”
Hajjaj : ”Aku lebih dicintai oleh Allah daripadamu.”
Sa’id : ”Aku tidak mau mendahului Allah sebelum aku mengetahui derajatku sendiri. Allah-lah yang mengetahui hal-hal yang ghaib.”
Hajjaj : ”Mengapa aku tidak bisa memberanikan diri, padahal aku adalah termasuk raja-raja? Dan kamu termasuk golongan pembangkang yang melawan kekhalifahan.”
Sa’id : ”Aku tidak mau terpisah dari jamaah, aku tidak menyukai fitnah. Dan apa yang telah menjadi takdirku aku tidak mampu menolaknya.”
Hajjaj : ”Apa yang kami kumpulkan untuk Amirul Mukminin, bagaimana menurutmu?”
Sa’id : ”Aku tidak tahu apa yang kamu kumpulkan.”
Kemudian Hajjaj menyuruh pelayannya untuk mengambil emas, perak, pakaian, dan lain-lainnya, lalu harta itu diletakkan di hadapan Sa’id.
Sa’id : ”Ini adalah hal yang baik jika kamu tunaikan syarat-syaratnya
Hajjaj : ” Apa syarat-syaratnya?”
Sa’id : ” Syaratnya ialah belilah sesuatu dengan harta ini yang dapat memberikan keamanan pada hari kiamat, ketika semua manusia berada dalam kebingungan. Pada hari ketika ibu yang menyusui melupakan bayinya, pada hari ketika wanita hamil menjadi gugur kandungannya. Selain itu, seseorang tidak dapat memperoleh sesuatu yang lebih bernilai kecuali yang bermanfaat.”
Hajjaj : ”Apakah yang kami kumpulkan ini tidak baik?”
Sa’id : ”Kamu yang mengumpulkannya, tentu kamu yang mengetahui kebaikannya.”
Hajjaj : ”Apakah ada diantara benda itu yang kamu sukai?”
Sa’id : ”Apa yang disukai Allah, itulah yang aku sukai.”
Hajjaj : ”Binasalah kamu.”
Sa’id : ”Kebinasaan hanyalah bagi orang yang dijauhkan dari surga dan dilemparkan ke dalam neraka oleh Allah.”
Hajjaj gelisah, ”Katakanlah kepadaku, bagaimanakah caranya aku harus membunuhmu?”
Sa’id : ”Terserah dengan cara apapun yang kamu sukai.”
Hajjaj : ”Apakah aku harus mengampunimu?”
Sa’id : ”Ampunan adalah milik Allah swt. Ampunanmu tidak bermanfaat sedikitpun.”
Hajjaj (menyuruh algojonya), ”Bunuhlah dia.”


Kemudian Sa’id dibawa keluar oleh algojonya, dan Sa’id tertawa. Ketika perbuatan itu disampaikan kepada Hajjaj, maka Sa’id di panggil kembali untuk ditanya. ”Mengapa kamu tertawa?”
Sa’id : ”Aku mengagumi keputusan Allah dan aku tertawa karena kasih sayang-Nya kepadamu.”(maksudnya ia takjub atas keberanian Hajjaj kepada Allah, sedangkan Allah begitu pengasih kepada Hajjaj)
Hajjaj : ”Aku membunuh orang yang memecah belah kaum muslimin.”
Lalu Hajjaj menyuruh algojonya, ”Potonglah lehernya dihadapanku.”
Sa’id : ”Ijinkan aku shalat dua rakaat.”
Sa’id melaksanakan dua rakaat shalat, lalu menghadapkan mukanya ke arah kiblat, dan membaca,

”Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (Al-An’am:79)

Hajjaj : ”Palingkanlah wajahnya dari kiblat. Arahkan wajahnya ke kiblat orang-orang Nasrani, karena ia telah memecah belah kaum muslimin dan telah menimbulkan perselisihan di antara mereka.” wajah Sa’id pun dipalingkan dari kiblat. Lalu Sa’id membaca,

”Maka kemana pun kamu palingkan wajahmu, di situlah wajah Allah.” (Al-Baqarah:115)

Hajjaj : ”Telungkupkan wajahnya! Kita bertanggung jawab atas perbuatannya yang terlihat.”
Lalu Sa’id membaca,

”Darinya (tanah) Kami menjadikanmu, dan kepadanya kami akan mengembalikanmu, dan darinya kami akan mengeluarkanmu pada kali yang lain.” (Thaaha:55)

Hajjaj : ”Bunuh dia.”
Sa’id : ”Aku bersaksi atas perbuatan ini. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan-Nya. Wahai Hajjaj, ingatlah jika nanti pada hari kiamat, aku berjumpa denganmu, aku akan menuntutmu.” lalu Sa’id pun mati syahid. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun.
Setelah kematiannya, banyak darah mengalir dari tubuhnya, sehingga Hajjaj kaget. Hajjaj bertanya kepada tabibnya, jawab tabibnya, ”itu karena ketenangan hati Sa’id. Sedikitpun ia tidak takut menghadapi kematiannya, sehingga darahnya mengalir sesuai kadarnya. Berbeda dengan orang yang takut menghadapi kematian, darahnya membeku sebelum ia mati. 
 
back to top