Monday, February 4, 2019

Kisah Shalat Pertama Perlombaan Sedekah Umar Dan Abu Bakar R.A

0 Comments

Perlombaan Sedekah Umar Dan Abu Bakar R.A

Umar R.A meriwayatkan, “ Suatu ketika Rasullullah SAW memerintahkan untuk besedekah, waktu itu aku memiliki sedikit harta dan kekayaan. Aku merenung, setiap saat abu bakar membelanjakan lebih apa yang telah aku belanjakan. Aku berharap dengan Karunia Allah, semoga aku bisa membelanjakan hartaku dijalan Allah lebih darinya, Aku pulang kerumah dengan sangat gembira sambil membayangkan buah pikiran tadi. Segala yang ada dirumah, aku akan ambil setengahnya,

Rasullah SAW Bersabda, “ apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, Wahai Umar ?” Aku Menjawab, Ya ada yang aku tinggalkan, Wahai Rasullah SAW!”
Rasullah SAW Bertanya lagi, “ Seberapa banyak yang telah engkau tinggalkan ? “
Jawabku “ aku tinggalkan setengahnya. “


Tidak Beberapa lama kemudian abu bakar datang dengan membawa seluruh harta bendanya. Aku mengetahui bahwa Abu Bakar telah membawa seluruh harta Miliknya. Begitulah pembicaraan yang aku dengar antara Abu Bakar dan Rasullah SAW.

Rasullah SAW bertanya, “ apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, Wahai Abu bakar ?”
Jawab abu Bakar, “ aku meninggalkan Allah dan rasull-Nya Kepada Mereka ( Aku Tinggalkan dengan keberkahan nama Allah SWT, dan rasul-Nya serta keridhoan-Nya)

Umar R.A Berkata, “ Sejak Saat itu aku mengetahui bahwa sekali lagi aku tidak dapat melebihi Abu Bakar,” 

Kisah Shalat Pertama Hadiah Kepala Kambing Yang Berpindah Tangan Sehngga Kembali Ke Tangan Semula

0 Comments

Hadiah Kepala Kambing Yang Berpindah Tangan Sehngga Kembali Ke Tangan Semula

Ada yg meriwayatkan,, ”Seorang sahabat telah menerima hadiah berupa kepala kambing. Tetapi dia merasa tidak berhak menerima pemberian itu karena tetangga sebelahnya lebih memerlukan. Karena tetangganya itu mempunyai keluarga yang banyak. Lalu dia pun memberikan kepala kambing itu kepada tetangganya tersebut.

Ketika tetangganya menerima pemberian itu, maka ia pun teringat kepada tetangganya yang lebih memerlukan lagi. Begitulah seterusnya sehingga diketahui kepala kambing itu telah berpindah tangan tidak kurang dari tujuh rumah sampai akhirnya kembali ke tangan sahabat yang pertama kali menerimanya.”

Hikmah yg terkandung :

Dari peristiwa ini, kita dapat mengambil pelajaran bagaimana para sahabat yang berada dalam keadaan serba miskin, tetapi masih sanggup mengutamakan kepentingan saudaranya daripada kepentingan dirinya sendiri 

Kisah Shalat Pertama Seorang Anshar Manghancurkan Sebuah Bangunan

0 Comments

Seorang Anshar Manghancurkan Sebuah Bangunan

Pada suatu ketika, Rasulullah SAW. keluar dari tempat tinggal beliau dan berjalan melalui sebuah jalan di Madinah . Dalam perjalanan, beliau melihat sebuah bangunan kubah yang menjulang tinggi. Kemudian beliau, bertanya kepada para sahabatnya, “Bangunan apakah ini ?” Mereka meberitahukan bahwa itu adalah sebuah bangunan yang baru di buat oleh seorang sahabat Anshar. Mendengar hal itu, Rasulullah SAW hanya berdiam diri .

Pada waktu lainnya, datanglah sahabat Anshar yang telah membuat bangunan tersebut untuk menemui Rasulullah SAW. Ia mengucapkan salam kepada beliau, “Assalamu’alaikum.” Tetapi, Rasulullah SAW memalingkan wajahnya dari sahabat Anshar tersebut dan tidak menjawab salamnya. Dalam hatinya, sahabat Anshar tersebut berkata, “Mungkin salam saya ini tidak terdengar oleh beliau.” Kemudian, ia mengulangi ucapan salamnya itu. Tetapi, lagi-lagi Rasulullah SAW tidak menghiraukannya dan tidak mau menjawab salamnya. Sahabat tersebut sangat heran mengapa Rasulullah SAW tidak mau melayaninya. Akhirnya ia mencoba bertanya kepada para sahabat yang berada di sekitarnya, mengapa Rasulullah SAW bersikap demikian terhadap dirinya.

Kemudian, mereka pun menceritakan kisahnya bahwa pada suatu hari, Rasulullah SAW keluar berjalan-jalan. Di tengah perjalanan, beliau melihat bangunan kubah yang sedang ia bangun. Kemudian, beliau bertanya kepada kami milik siapakah bangunan tersebut. Mendengar keterangan ini, tanpa membuang waktu lagi, ia langsung pergi ke tempat bangunan yang baru saja dibangun tersebut, kemudian ia segera menghancurkannya dan meratakannya hingga rata dengan tanah, tanpa meninggalkan bekas. Mengenai perbuatannya ini, ia tidak memberitahukannya kepada Rasulullah s.a.w. .

Kebetulan, pada suatu ketika, Rasulullah SAW kembali berjalan melalui tempat tersebut. Ketika beliau melihat ke tempat kubah yang dahulu dibangun, ternyata bangunan tersebut sudah tidak nampak lagi, lantas beliau bertanya, “Ke manakah bangunan berkubah yang dahulu telah saya lihat?” Para sahabat memberitahu bahwa setelah beberapa hari yang lalu Rasulullah SAW tidak menghiraukan kunjungan dan salam pemiliki bangunan kubah tersebut, maka setelah mengetahui alasannya, sahabat Anshar tersebut segera menghancurkan bangunan miliknya yang telah menyebabkan Rasulullah SAW merasa tidak begitu senang.

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap rumah atau gedung itu mempunyai bencana, kecuali gedung yang dibangun untuk sangat diperlukan dan dalam keadaan yang sangat terpaksa . 

Kisah Shalat Pertama Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Sewadah Madu

0 Comments

Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Sewadah Madu

Umar bin Abdul Aziz merupakan Khalifah yang memimpin pemerintahan Islam selepas masa Khulafatur Rasyidin berakhir. Dia masih memiliki hubungan dengan Khalifah Umar bin Khattab dan mewarisi beberapa sifat dari pemimpin kedua setelah Rasulullah meninggal itu.

Umar bin Abdul Aziz merupakan sosok yang sangat amanah dalam menjalankan tugasnya. Dia pun bahkan tidak mau menggunakan fasilitas negara untuk memenuhi kebutuhannya di luar tugas.

Suatu waktu, Umar ingin sekali makan roti dengan madu, karena sangat menyukai penganan yang berasal dari lebah itu. Dia lalu meminta kepada istrinya.

Tetapi, saat itu istrinya tidak memiliki madu sama sekali karena persediaannya habis. Sang istri kemudian menyuruh pembantu untuk membeli madu.

Istrinya lalu memberikan madu itu dan Umar sangat menyukainya. Tetapi, dia lantas bertanya, ”Dari mana kau dapatkan madu ini?”

”Aku menyuruh dua orang pembantu membeli madu itu dengan mengendarai hewan kendaraan pos yang biasa dipakai untuk mengantar surat,” jawab sang istri.

Mendengar perkataan itu, Umar berkata, ”Aku bersumpah, mengapa kau memberiku madu dengan memanfaatkan sarana milik kaum Muslim? Kau telah membuat hewan itu lelah hanya untuk memenuhi hasratku yang menginginkan madu. ”

Sang istri kemudian memberikan wadah sisa madu yang belum dikonsumsi kepada Umar. Dia lalu menjual sisa madu itu dan menyerahkan uang hasil penjualan itu kepada Baitul Maal. 

Kisah Shalat Pertama Kisah Siti Aisyah Binti Abu Bakar RA - Isteri Kesayangan Nabi Muhammad SAW

0 Comments

Kisah Siti Aisyah Binti Abu Bakar RA - Isteri Kesayangan Nabi Muhammad SAW

Rasulullah SAW membuka lembaran kehidupan rumah tangganya dengan Aisyah r.a yang telah banyak dikenal. Ketika wahyu datang pada Rasulullah SAW, Jibril membawa kabar bahwa Aisyah adalah istrinya didunia dan diakhirat, sebagaimana diterangkan didalam hadits riwayat Tirmidzi dari Aisyah r.a. Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutra hijau kepada Nabi SAW, lalu berkata.’ Ini adalah istrimu didunia dan di akhirat.” Dialah yang menjadi sebab atas turunnya firman Allah SWT yang menerangkan kesuciannya dan membebaskannya dari fitnah orang-orang munafik.

Aisyah dilahirkan empat tahun sesudah Nabi SAW diutus menjadi Rasul. Semasa kecil dia bermain-main dengan lincah, dan ketika dinikahi Rasulullah SAW usianya belum genap sepuluh tahun (terdapat beberapa riwayat mengenai usia Aisyah ketika di nikahi Rasulullah). Dalam sebagian besar riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW membiarkannya bermain-main dengan teman-temannya.

Dua tahun setelah wafatnya Khadijah r.a datang wahyu kepada Nabi SAW untuk menikahi Aisyah r.a. Setelah itu Nabi SAW berkata kepada Aisyah, ” Aku melihatmu dalam tidurku tiga malam berturut-turut. Malaikat mendatangiku dengan membawa gambarmu pada selembar sutra seraya berkata,’ Ini adalah istrimu.’ Ketika aku membuka tabirnya, tampaklah wajahmu. Kemudian aku berkata kepadanya,’ Jika ini benar dari Allah SWT , niscaya akan terlaksana.”

Mendengar kabar itu, Abu Bakar dan istrinya sangat senang, terlebih lagi ketika Rasulullah SAW setuju menikahi putri mereka, Aisyah. Beliau mendatangi rumah mereka dan berlangsunglah pertunangan yang penuh berkah itu. Setelah pertunangan itu, Rasulullah SAW hijrah ke Madinah bersama para sahabat, sementara istri-istri beliau ditinggalkan di Makkah. Setelah beliau menetap di Madinah, beliau mengutus orang untuk menjemput mereka, termasuk didalamnya Aisyah r.a.

Dengan izin Allah SWT menikahlah Aisyah dengan mas kawin 500 dirham. Aisyah tinggal dikamar yang berdampingan dengan masjid Nabawi. Dikamar itulah wahyu banyak turun, sehingga kamar itu disebut juga sebagai tempat turunnya wahyu. Dihati Rasulullah SAW, kedudukan Aisyah sangat istimewa, dan tidak dialami oleh istri-istri beliau yang lain. Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dikatakan, ” Cinta pertama yang terjadi didalam Islam adalah cintanya Rasulullah SAW kepada Aisyah r.a.”

Di dalam riwayat Tirmidzi dikisahkan “Bahwa ada seseorang yang menghina Aisyah dihadapan Ammar bin Yasir sehingga Ammar berseru kepadanya,’ Sungguh celaka kamu. Kamu telah menyakiti istri kecintaan Rasulullah SAW.” Sekalipun perasaan cemburu istri-istri Rasulullah SAW terhadap Aisyah sangat besar, mereka tetap menghargai kedudukan Aisyah yang sangat terhormat. Bahkan ketika Aisyah wafat, Ummu Salamah berkata, ‘Demi Allah SWT, dia adalah manusia yang paling beliau cintai selain ayahnya (Abu Bakar)’.

Di antara isteri-isteri Rasulullah SAW, Saudah bin Zum`ah sangat memahami keutamaan-keutamaan Aisyah, sehingga dia merelakan seluruh malam bagiannya untuk Aisyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Aisyah sangat memperhatikan sesuatu yang menjadikan Rasulullah SAW rela. Dia menjaga agar jangan sampai beliau menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan darinya. Karena itu, salah satunya, dia senantiasa mengenakan pakaian yang bagus dan selalu berhias untuk Rasulullah SAW. Menjelang wafat, Rasulullah SAWmeminta izin kepada istri-istrinya untuk beristirahat dirumah Aisyah selama sakitnya hingga wafat. Dalam hal ini Aisyah berkata, “Merupakan kenikmatan bagiku karena Rasulullah SAW wafat dipangkuanku.” Bagi Aisyah, menetapnya Rasulullah SAW selama sakit dikamarnya merupakan kehormatan yang sangat besar karena dia dapat merawat beliau hingga akhir hayat.

Rasulullah SAW dikuburkan dikamar Aisyah, tepat ditempat beliau meninggal. Sementara itu, dalam tidurnya, Aisyah melihat tiga buah bulan jatuh ke kamarnya. Ketika dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, Abu Bakar berkata, “Jika yang engkau lihat itu benar, maka dirumahmu akan dikuburkan tiga orang yang paling mulia dimuka bumi.” Ketika Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar berkata, “Beliau adalah orang yang paling mulia diantara ketiga bulanmu.” Ternyata Abu Bakar dan Umar dikubur dirumah Aisyah.

Setelah Rasulullah SAW wafat, Aisyah senantiasa dihadapkan pada cobaan yang sangat berat, namun dia menghadapinya dengan hati yang sabar, penuh kerelaan terhadap taqdir Allah SWT dan selalu berdiam diri didalam rumah semata-mata untuk taat kepada Allah SWT. Rumah Aisyah senantiasa dikunjungi orang-orang dari segala penjuru untuk menimba ilmu atau untuk berziarah kemakam Nabi SAW. Ketika istri-istri Nabi SAW hendak mengutus Ustman menghadap khalifah Abu Bakar untuk menanyakan harta warisan Nabi SAW yang merupakan bagian mereka, Aisyah justru berkata, “Bukankah Rasulullah SAW telah berkata, ”Kami para nabi tidak meninggalkan harta warisan. Apa yang kami tinggalkan itu adalah sedekah.”

Dalam penetapan hukum pun, Aisyah kerap langsung menemui wanita-wanita yang melanggar syariat Islam. Didalam Thabaqat, Ibnu Saad mengatakan bahwa Hafshah binti Abdirrahman menemui Ummul Mukminin Aisyah r.a. Ketika itu Hafshah mengenakan kerudung tipis. Secepat kilat Aisyah menarik kerudung tersebut dan menggantinya dengan kerudung yang tebal. Aisyah tidak pernah mempermudah hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya dari Al Qur`an dan Sunnah.

Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW sehingga banyak menyaksikan turunnya wahyu kepada beliau. Aisyah pun memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah SAW jika menemukan sesuatu yang belum dia pahami tentang suatu ayat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ia memperoleh ilmu langsung dari Rasulullah SAW.

Aisyah termasuk wanita yang banyak menghapalkan hadits-hadits Nabi SAW, sehingga para ahli hadits menempatkan dia pada urutan kelima dari para penghapal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik dan Ibnu Abbas.

Dalam hidupnya yang penuh dengan jihad, Sayyidah Aisyah wafat pada usia 66 th, bertepatan dengan bulan Ramadhan,th ke-58 H, dan dikuburkan di Baqi`. Kehidupan Aisyah penuh dengan kemuliaan, kezuhudan, ketawadhuan, pengabdian sepenuhnya kepada Rasulullah SAW, selalu beribadah serta senantiasa melaksanakan shalat malam. Selain itu, Aisyah banyak mengeluarkan sedekah sehingga didalam rumahnya tidak akan ditemukan uang satu dirham atau satu dinar pun. Dimana sabda Rasul, “Berjaga dirilah engkau dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma.” (HR. Ahmad )iahkan anak di PTN 

Kisah Shalat Pertama Kisah Rasulullah Mencoret Kata Shulhul Hudaibiyah

0 Comments

Kisah Rasulullah Mencoret Kata Shulhul Hudaibiyah

Sepotong sejarah penting dari banyak kisah perjalanan Islam periode awal adalah perjanjian hudaibiyah. Peristiwa ini tidak hanya menggambarkan ketegangan militer antara umat Islam dan musyrikin Quraisy tapi juga jejak diplomasi Rasulullah SAW.

Kesepakatan yang juga dikenal dengan sebutan ”shulhul hudaibiyah” tersebut bermula dari rencana sekitar 1400 pengikut Rasulullah untuk menunaikan ibadah haji. Kaum musyirikin tidak rela. Mereka berupaya menghalangi pintu masuk kota Makkah dengan kekuatan militer yang cukup besar.

Rasulullah yang tidak menginginkan peperangan pun lantas mengambil jalur perundingan. Hasilnya, pada bulan Maret 628 M atau Dzulqaidah 6 H, perjanjian hudaibiyah diputuskan, di antaranya menyepakati adanya gencatan senjata dan kesempatan beribadah umat Islam di Makkah.

Hanya saja, perundingan ini sempat berlangsung alot dan cenderung merugikan umat Islam. Contohnya, muncul penolakan-penolakan terkait dengan sebagian redaksi pembuka perjanjian yang diusulkan Rasulullah, sebagaimana diterangkan dalam kitab Hayatus Shahabat.

”Tulislah bismillahirrahmanirrahim (atas nama Allah yang maha rahman lagi maha rahim),” perintah Nabi kepada juru tulisnya, Ali bin Abi Thalib.

”Ar-Rahman? Aku tak mengenal dia,” sahut perwakilan musyrikin Quraisy, Suhail bin Amr, memberontak. ”Tulis saja bismika allahumma seperti biasanya!”

Umat Islam yang mengikuti proses perundingan tidak terima dengan protes ini. Mereka mengotot akan tetap mencantumkan lima kata yang sangat dihormati itu (bi, ism, allah, ar-rahman, ar-rahim).

”Tulis saja bismika allahumma,” Nabi menenangkan.

Nabi kemudian menyambung, ”Tulis lagi, hadza ma qadla ’alaih muhammad rasulullah (Inilah ketetapan Muhammad rasulullah).”

”Sumpah, seandainya kami mengakui Engkau adalah rasulullah (utusan Allah), kami tak akan menghalangimu mengunjungi Ka’bah. Jadi tulis saja Muhammad bin Abdullah,” Suhail kembali memprotes.

”Sungguh aku adalah rasulullah meskipun Kalian mengingkarinya.” Akhirnya Nabi mengabulkan tuntutan musyrikin Quraisy untuk mencoret dua kata lagi, rasul dan allah. ”Tulislah Muhammad bin Abdullah saja,” pintanya kemudian.

Menghindari pertikaian dan pertumpahan darah adalah sikap yang dijunjung tinggi Rasulullah. Perdamaian menjadi prioritas tujuan, meski isi kesapakatan ”mengurangi” kebesaran nama agama pada tataran simbolis.

Penggalan sejarah ini megingatkan kita pada sejarah penyusunan asas Pancasila. Demi persatuan dan kerukunan bangsa Indonesia, Piagam Jakarta yang memuat butir sila pertama ”Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” akhirnya diubah. Mayoritas ulama dan umat Islam Tanah Air menyepakati pencoretan tujuh kata dalam butir itu sehingga menjadi ”Ketuhanan Yang Maha Esa” 

Kisah Shalat Pertama Kisah Peletakan Hajar Aswad

0 Comments

Kisah Peletakan Hajar Aswad

Semasa Rasulullah Muhammad SAW belum diangkat sebagai Rasul bagi seluruh alam, Beliau telah terkenal sebagai seorang yang sangat jujur, berlatarbelakang keluarga terhormat dan memiliki kelebihan mampu meredam pertikaian antar suku (kampung). Sehingga beberapa kali Muhammad muda dipercayai memberikan keputusan-keputusan krusial menyangkut kepentingan bersama.

Salah satu contoh paling populer tentang keberhasilan Nabi SAW menyelesaikan sengketa di antara kaumnya sebelum Beliau dimusuhi karena menyebarkan ajaran Islam adalah ketika terjadi peristiwa renovasi Ka’bah.

Kala itu, masyarakat Makkah merenovasi Ka’bah setelah musibah banjir yang menenggelamkan kota, termasuk bangunan Ka’bah. Kondisi ini memanggil mengundang orang-orang Quraisy harus membangun Ka’bah kembali demi menjaga kehormatan dan kesucian situs peninggalan leluhur mereka, Ibrahim AS yang tetap dijaga kelestariannya.

Menurut riwayat yang paling shahih, ketika itu Nabi berusia 35 tahun. Aktif terlibat dalam pembangunan dari awal hingga akhir. Pada awalnya, mereka bersatu padu, saling bahu membahu di antara mereka. Namun ketika pembangunan memasuki tahap-tahap akhir, yakni prosesi peletakan Hajar Aswad.

Mereka mulai berselisih pendapat, Siapakah tokoh di antara mereka yang layak mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad sebagai tanda peresmian penyelesaian renovasi dan mulai dapat digunakan kembali. Banyak pendapat bermunculan dan saling simpang siur. Masing-masing saling ingin mengedepankan pemimpin kelompoknya sendiri.

Hingga akhirnya Muhammad, Suami Khadijah ini mengajukan usul, ”Siapa pun yang besok pagi datang paling awal ke tempat pembangunan (renovasi) maka dialah yang berhak atas kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad.” Masyarakat pun menyetujuinya, mereka yakin ini adalah jalan terbaik bagi mereka.

Keesokan harinya, ternyata yang datang paling pagi, paling awal adalah Muhammad sendiri, maka Beliaulah yang berhak meletakkan hajar aswad sebagai tanda peresmian Ka’bah kembali. Namun Rupanya Muhammad bukanlah seorang yang egois. Ia kemudian membentangkan sorbannya menaruh hajar aswad di atasnya dan mengajak beberapa tokoh lain untuk turut serta meletakkan hajar aswad bersama-sama. Maka puaslah mereka atas keputusan Muhammad tersebut. Demikian tersebut dalam kitab Nurul Yaqin fi Siroti Sayyidil Mursalin. 

Kisah Shalat Pertama Sayyidina Ali dan Seorang Tua Nasrani

0 Comments

Sayyidina Ali dan Seorang Tua Nasrani

Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap pagi dan sore Allah SWT selalu memandang wajah orang yang sudah tua, kemudian Allah SWT berfirman: Wahai hamba-Ku, semakin tua usiamu, semakin keriput kulitmu, semakin lemah tulangmu, semakin dekat ajalmu, semakin dekat pula engkau bertemu dengan-Ku. Malulah karena-Ku, karena Aku pun malu melihat ketuaanmu, dan Aku pun malu menyiksamu di dalam neraka.

Dikisahkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali sedang tergesa-gesa berjalan menuju masjid untuk melakukan jamaah shubuh. Akan tetapi dalam perjalanan di depan beliau ada seorang kakek tua yang berjalan dengan tenang. Kemudian Sayyidina Ali memperlambat langkah kaki tidak mendahuluinya karena memuliakan dan menghormati kakek tua tersebut. Hingga hampir mendekati waktu terbit matahari barulah beliau sampai dekat pintu masjid. Dan ternyata kakek tua tersebut berjalan terus tidak masuk ke dalam masjid, yang kemudian Sayyidina Ali akhirnya mengetahui bahwa kakek tua tersebut adalah seorang Nasrani.

Pada saat Sayyidina Ali masuk ke dalam masjid beliau melihat Rasulullah SAW beserta jamaah sedang dalam keadaan ruku'. (Sebagaimana diketahui bahwa ikut serta ruku' bersama dengan imam berarti masih mendapatkan satu rakaat). Rasulullah SAW waktu itu memanjangkan waktu ruku'nya hingga kira-kira dua ruku'. Kemudian Sayyidina Ali ber-takbiratul ihram dan langsung ikut serta ruku'.

Setelah selesai shalat para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah tidak biasanya engkau ruku' selama ini, ada apakah gerangan? Beliau menjawab: Pada waktu aku telah selesai ruku' dan hendak bangkit dari ruku' tiba-tiba datang malaikat Jibril AS meletakkan sayapnya di atas punggungku, sehingga aku tidak bisa bangkit dari ruku'. Para sahabatpun bertanya: Mengapa terjadi demikian? Beliau menjawab: Aku sendiri pun tidak tahu.

Kemudian datanglah malaikat Jibril AS dan berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali waktu itu sedang bergegas menuju masjid untuk jama'ah shubuh, dan di perjalanan ada seorang kakek tua Nasrani berjalan di depannya, Ali pun tidak mengetahui kakek tua itu beragama Nasrani. Ali tidak mau mendahuluinya karena dia sangat menghormati dan memuliakan kakek tua tersebut. Kemudian aku diperintah oleh Allah SWT untuk menahanmu saat ruku' sampai Ali datang dan tidak terlambat mengikuti jama'ah shubuh. Selain itu Allah SWT juga memerintah malaikat Mikail untuk menahan matahari menggunakan sayapnya hingga matahari tidak bersinar sampai jama'ah selesai.

Demikianlah hikmah kisah teladan Sayyidina Ali yang sangat menghormati dan memuliakan orang yang tua walaupun beragama Nasrani. Semoga bermanfaat bagi kita semua. 

Kisah Shalat Pertama Rumah Tangga Yang Harmonis

0 Comments

Rumah Tangga Yang Harmonis

Suatu ketika Rasulullah SAW mengajak istrinya Aisyah RA berlomba pacuan kuda. Aisyah mengatakan: “Rasulullah beradu kecepatan denganku, dan aku berhasil unggul dalam hal kecepatan.” Sebagai pemimpin perang yang tangguh semestinya Rasulullah menang atas Aisyah. Kenyataannya tidak, Aisyah yang menang.

Aisyah melanjutkan kisahnya: “Namun saat badanku berbobot (bertambah gemuk, red) kami kembali beradu kecepatan, dan beliau mengungguliku.” Rasulullah menyindir: “Ini sebanding dengan keunggulan sebelumnya (point sekarang 1-1, red).” (HR Ahmad dan Abu Daud)

Kewajiban pertama seorang suami terhadap istrinya adalah mempergaulinya dengan baik. Allah SWT berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka karena suatu hal, (ingatlah) bahwa dalam segala hal Allah menjadikan kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa: 19).

Salah satu cara mempergauli istri dengan baik, seperti dipraktikkan oleh Rasulullah dalam hadits di atas, adalah menciptakan suasana romantis dalam rumah tangga. Salah satu kiatnya adalah dengan mengadakan permainan-permainan. Imam Ahmad dalam Sunan-nya mengatakan, Rasul bersabda, ada tiga permainan yang tidak sia-sia. Salah satunya adalah permainan yang dilakukan bersama istri untuk menciptakan suasana yang romantis.

Rasulullah tidak ingin romantis sendiri. Beliau juga ‘memanas-manasi’ para sahabatnya untuk menciptakan suasana yang sama. “Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik dari kalian terhadap istri. Dan aku yang terbaik di antara kalian terhadap istriku..” (HR at-Thabrani).

Jika pun Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlaq, maka akhlaq yang paling perlu ditata terlebih dahulu adalah akhlak dalam berumahtangga. Rasulullah SAW bersabda: “Yang paling sempurna imannya di antara kalian adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR Abu Daud) 

Kisah Shalat Pertama Nasihat Sayyidina Umar Tentang Budaya Meniru

0 Comments

Nasihat Sayyidina Umar Tentang Budaya Meniru

Madinah merupakan jantung peradaban Islam ketika itu. Umat Islam relatif masih mempertahankan gaya hidup sederhana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Namun jauh di luar kota Madinah, keadaannya sedikit berbeda. Banyak kota-kota yang telah mengenal kebudayaan imperium Romawi atau Persia memiliki kebiasaan menempatkan para pemimpin mereka di gedung-gedung megah, berpakaian mewah serta kebiasaan-kebiasaan aristokrat lainnya.

Sebagai khalifah Umar merasa khawatir para penguasa akan terjangkiti penyakit individualistik (tak perduli terhadap kondisi umat), materialistik (menumpuk kekayaan pribadi) dan hedonisitik (memburu kesenangan sesaat) sebagaimana para penguasa Persia dan Romawi.

Ia khawatir kebudayaan asing yang negatif tersebut dapat menggerus nilai-nilai bersahaja agama Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah. Untuk itu Umar merasa perlu untuk mengirimkan sepucuk surat kepada wali kota Azerbaijan, Uthbah bin Farqad.

Dalam hikayat Abu Utsman An Nahdi, Umar pernah mengirim surat kepada Uthbah, sang walikota Azerbaijan. Surat tersebut berisi peringatan Umar yang berbunyi

”Wahai Utbah bin Farqad! Jabatan itu bukan hasil jerih payahmu dan bukan pula jerih payah ayah dan ibumu. Karena itu kenyangkanlah kaum muslimin di negeri mereka dengan apa yang mengenyangkan di rumahmu, hindari bermewah-mewah, hindari memakai pakaian ahli syirik dan hindarilah memakai sutera.”

Teguran Umar ini berdasarkan hadis Rasulullah, ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum berarti dia bagian dari kaum itu.”

Demikianlah umar memaknai peniruan (tasyabuh) atas budaya yang negatif sebagai sesuatu yang berbahaya. Sikap meniru juga menunjukkan lemahnya kepribadian yang menciptakan generasi bunglon yang gampang terombang-ambing dan kerjanya cuma mengekor.

Sementara budaya mengekor ini dibahasakan oleh Rasulullah dalam hadis: “Kamu telah mengikuti sunnah orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka.” 

Kisah Shalat Pertama Sifat Pendendam

0 Comments

Sifat Pendendam

Dikisahkan bahwa seseorang laki-laki meminta izin untuk bertemu sahabat Umar bin Khaththab. Setelah orang itu diizinkan, dia berkata, ”Wahai Ibnul-Khaththab, demi Allah, engkau tidak memberi kami yang banyak dan tidak membuat keputusan di antara kami secara adil.”

Umar pun marah besar mendengarnya, bahkan hampir saja dia memukulnya. Namun Al-Hurr bin Qais segera mencegah seraya berkata, ”Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah pernah berfirman kepada Nabi SAW, ’Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A'raaf, 7 : 199).

Maka Umar pun mengurungkan niatnya untuk menghajar orang itu setelah dibacakan ayat ini. Setelah itu pikirannya terus menerawang terhadap Kitab Allah. Demikian dalam riwayat al-Bukhari, dari Ibnu Abbas RA.

Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin memberikan komentar, rupanya Sayyidina Umar dalam hal ini telah berusaha untuk meneladani keteladanan agung yang telah dicontohkan oleh Rasulullah manakala perang Uhud sedang berkecamuk.

Ketika itu Rasulullah SAW diminta oleh para sahabatnya untuk mendoakan orang-orang yang telah menyakitinya agar celaka. Namun Nabi SAW justru menjawab, ”Aku sekali-kali tidak diutus untuk melaknat seseorang, tetapi aku diutus untuk mengajak kepada kebaikan dan sebagai rahmat.”

Lalu Rasulullah mengangkat tangannya menengadah ke atas langit seraya berdoa, ”Wahai Tuhanku ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”

Rasulullah bahkan tidak berniat membalas dendam, namun malah memaafkan mereka dan kemudian dengan rasa kasih sayang beliau mendoakan agar mereka diberi ampunan dari Tuhan, karena dianggap nya mereka masih belum tahu tujuan ajakan baik yang dilakukannya.

Dalam perang Uhud ini juga, seorang budak hitam bernama Wahsyi, yang dijanjikan oleh tuannya untuk dimerdekakan bila dapat membunuh paman Nabi bernama Hamzah bin Abdul Muththalib RA yang ternyata berhasil, juga diampuni oleh Nabi setelah ia masuk Islam.

Walaupun Rasulullah telah menguasai Wahsyi dan dapat melakukan pembalasan, namun tidak melakukan bahkan memaafkannya. Alangkah tingginya akhlak ini. 
 
back to top